EFISIENSI PRODUKSI DAN PEMASARAN SERTA DAYA SAING KOMODITI KELAPA DALAM DI KABUPATEN NUNUKAN KALIMANTAN TIMUR
ELLY JUMIATI, Prof. Dr. Ir. Dwidjono HD, MS,
2013 | Disertasi | S3 Ekonomi PertanianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi produksi usahatani kelapa, efisiensi pemasaran komoditi kelapa dalam dan daya saing berupa keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif komoditi kelapa. Policy Analysis Matrix Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Nunukan tepatnya di Kecamatan Sebatik Timur dan Sebatik Utara yang merupakan sentra perkebunan kelapa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Random Sampling. Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis tujuan efisiensi produksi menggunakan fungsi produksi frontier stochastik dengan program Frontier 4.1.c. Efisiensi pemasaran diuji dengan menggunakan analisis marjin pemasaran, integrasi pasar, korelasi dan transmisi harga. Sedangkan untuk menganalisis tujuan daya saing digunakan analisis (PAM). Nunukan Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi produksi usahatani kelapa di efisien, dilihat dari Efisiensi Ekonomi (EE) nilai rata-rata petani sebesar 0,771atau 77,1%, nilai Efisiensi teknis (ET) rata-rata petani sebesar 0,974 atau 97,4%, dan nilai Efisiensi Alokatif/harga (EA) rata-rata petani sebesar 0,798 atau 79,8%. Faktor yang mempengaruhi efisiensi ekonomi adalah pendidikan formal dan sumber pendapatan lain. m Terdapat dua saluran pemasaran kelapa di lokasi penelitian, yaitu saluran I: petani – pedagang pengumpul desa/kecamatan – pedagang pengumpul antar kabupaten/kota – konsumen, dan saluran pemasaran yang ke II: petani – pedagang pengumpul desa/kecamatan – pedagang pengumpul antar kabupaten/kota – pedangan pengecer – konsumen. Pemasaran komoditi kelapa di Kabupaten Nunukan belu efisien. Hal ini dilihat dari marjin pemasaran pada semua saluran pemasaran besar, distribusi marjinnya belum merata, share harga yang diterima petani masih rendah, ratio keuntungan dan biaya bervariasi. Berdasarkan analisis transmisi harga, korelasi harga, dan elastisitas transmisi harga menunjukkan pasar yang terbentuk dalam pemasaran kelapa adalah pasar yang tidak terintegrasi sempurna, harga tidak dapat ditransmisikan dengan baik, struktur pasarnya cenderung monopsoni/oligopsoni. memiliki keuggulan kompetitif tetapi tidak memiliki Komoditi kelapa keunggulan komparatif, hal ini ditunjukkan dengan nilai PCR sebesar 0,95 dan DRC sebesar 1,24. Dan keuntungan privat (PP) yang diperoleh sebesar Rp 1.511.814,961 (menguntungkan) secara finansial di tingkat usahatani, sedangkan keuntungan sosial (PS) sebesar Rp -2.665.869,951 (tidak menguntungkan) secara ekonomi atau perekonomian secara keseluruhan.
This study aims to know the production and marketing efficiency of coconut, and measure the comparative and competitive advantage of coconut. The Research was conducted in Nunukan Regency in the district of the eastern and northern part of Sebatik. Random sampling method was applied in this study. The stochastic frontier production function with Frontier program 4.1.c was applied to analyze production efficiency. Marketing efficiency was measured by marketing margins, market integration, correlation and price transmission, meanwhile the Policy Analysis Matrix (PAM) was applied to analyze the competitiveness. The results showed that farm production of coconut was efficient, as shown by the Economic Efficiency (EE) value of the average farmer of 0.771 or 77.1%, the value of technical efficiency (ET) average of 0.974 or 97.4%, and the value of allocative efficiency / price (EA) for the average farmer 0.798 or 79.8%. Factors that affect economic efficiency were formal education and other sources of income. There are two marketing channels in a coconut at the study site, which is the channel I: farmer - traders village / district – traders regency / cities – end consumer, and marketing channels to II: farmer - traders village / district - traders regency / cities - traders retailers – end consumers. Coconut commodity marketing in Nunukan regency was not efficient yet. This can be seen from the marketing margin on all marketing channels, unequal distribution margin, price share received by farmers is low, and ratio of benefits and costs vary. Based on the analysis of price transmission, price correlation, and market price transmission elasticity indicated that coconut marketing is imperfectly integrated market, while prices were not transmitted properly, market structure tends to be monopsony / oligopsony. The coconut commodity has competitive advantage but does not have a comparative advantage, as shown by the PCR values of 0.95 and 1.24 for DRC. However, financial analysis shows that private profit (PP) obtained for Rp 1,511,814.961 (advantageous), while the social benefits (SP) of Rp -2,665,869.951 indicated that coconut is not profitable, economically.
Kata Kunci : daya saing , kelapa dalam Efisiensi,