Laporkan Masalah

PENANGGULANGAN BENCANA TANAH LONGSOR DI RUAS JALAN RANTEPAO – PALOPO PROVINSI SULAWESI SELATAN

Dian Pratiwi Anggeraini, Teuku Faisal Fathani, ST., MT., Ph.D.,

2013 | Tesis | S2 Mag.Pengl.Bencana Alam

Ruas jalan Rantepao – Palopo yang membentang sejauh 61 km menjadi jalan penghubung antara Kota Palopo dan Kabupaten Toraja Utara (Rantepao). Kondisi geografis jalanan berkelok, terletak di daerah perbukitan dan disertai jurang yang cukup curam. Hal ini menjadikan ruas jalan tersebut sangat rentan terhadap terjadinya pergerakan tanah atau longsor. Pada tanggal 8 November 2009 terjadi longsoran yang mengakibatkan kerugian materiil dan immateriil yang luar biasa besarnya, sehingga dikategorikan sebagai bencana nasional. Sebagai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana tanah longsor akan lebih terarah apabila dilengkapi dengan data spasial berupa peta risiko tanah longsor di ruas jalan Rantepao – Palopo yang dapat dimanfaatkan dalam penanggulangan bencana tanah longsor. Penelitian ini menggunakan pedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2007 tentang penataan ruang kawasan rawan bencana tanah longsor yang dimodifikasi dan dibantu dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan kondisi hidrogeomorfologi pada daerah penelitian dapat dibedakan menjadi 3 tipologi zona, yaitu tipologi zona A (> 1000 mdpl), tipologi zona B (500 – 1000 mdpl) dan tipologi zona C (<500 mdpl). Setiap tipologi zona terdiri dari aspek fisik alami dengan indikator kelerengan, jenis tanah, geologi, curah hujan, jarak dari sungai/tata air lereng, jarak dari sesar dan vegetasi. Aspek aktifitas manusia terdiri dari indikator pola tanam, pemotongan lereng, pencetakan kolam, kepadatan penduduk, dan usaha mitigasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2007 terdapat beberapa indikator yang cukup sulit diterapkan pada tinjauan ruas jalan, sehingga pada penelitian ini dilakukan modifikasi pada beberapa indikator, yaitu: pemotongan lereng, jarak dari sungai/tata air lereng dan jarak dari sesar. Pada indikator pemotongan lereng untuk menghasilkan peta pemotongan lereng dilakukan dengan proses overlay peta topografi, peta kemiringan lereng dan peta ruas jalan. Jarak dari sungai/tata air lereng diperoleh dengan memperhitungkan jarak sungai terhadap ruas jalan, semakin dekat jarak sungai dengan ruas jalan maka kerentanan terhadap gerakan tanah akan semakin besar. Sedangkan jarak dari sesar ditinjau karena keberadaan sesar di wilayah penelitian. Peta zona potensi tanah longsor diperoleh dengan proses overlay peta aspek fisik alami dan peta aspek aktivitas manusia. Untuk menghasilkan peta risiko pada ruas jalan Rantepao – Palopo dilakukan modifikasi dengan overlay peta ruas jalan dan peta zona potensi tanah longsor. Peta risiko pada ruas jalan Rantepao – Palopo dibagi atas 3 kelas risiko jalan, yaitu: rendah, sedang dan tinggi.

Rantepao – Palopo Road Section is 61 km long, which provides a connection between Palopo City and North Toraja District. Geographically, the road is winding, located in a hilly area with steep canyon. This condition makes the road vulnerable to soil movement or landslide. On 8 November 2009, a landslide, which caused a huge material and immaterial loss, took place. The scale of the disaster was so large that it was classified as a national disaster. In the landslide disaster management, the mitigation and preparedness effort will be more focused if complemented with spatial data in the form of landslide hazard map in Rantepao – Palopo road section. This research uses Public Works Minister Regulation No.22/PRT/M/2007 concerning landslide hazard area spatial planning as the reference which is modified and assisted with the application of Geographical Information System (GIS). Based on the hydro-morphology condition, the research location can be classified into three, namely typology A (> 1000 mdpl), typology B (500 – 1000 mdpl), and typology C (<500 mdpl). Each typology consists of natural physical aspects with slope indicator, soil type, geology, rainfall, distance from the river/slope water system, distance from seismic fault and vegetation. Human activity aspects comprise planting pattern indicator, slope cutting, pond, population density, and mitigation effort. Based on the regulation, several indicators are difficult to apply in the road section study. Therefore, in this research, some modifications are made to several indicators. In the slope cutting indicator, to obtain slope cutting map, overlay process on topography map, slope variation map, and road section map was performed. The distance from the river/slope water system was obtained by calculating the distance from the river to the road, the closer the river to the road, the bigger the vulnerability. Meanwhile, the distance from the fault was evaluated based on the existence of seismic faults in the research location. Landslide hazard map was obtained by applying overlay process to natural physical aspects map and human activity map. To obtain a hazard map for Rantepao – Palopo road section, a modification by applying overlay to road section map and landslide hazard map was performed. Hazard map on Ranteo-Palopo is divided into three types, i.e. low risk, medium risk, and high risk.

Kata Kunci : tanah longsor, peta risiko, ruas jalan Rantepao – Palopo, mitigasi bencana


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.