ANALISIS KEKERINGAN METEOROLOGIS DI WILAYAH KABUPATEN WONOGIRI
Karlina, 1. Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilKekeringan merupakan salah satu bencana alam yang mempengaruhi banyak sektor kehidupan seperti pertanian dan ekonomi. Di samping itu, kekeringan merupakan salah satu bencana yang dipengaruhi oleh kondisi ekstrim yang berhubungan dengan perubahan iklim. Salah satu daerah yang mempunyai risiko kekeringan meteorologis tinggi di Indonesia adalah Kabupaten Wonogiri. Daerah ini cenderung mempunyai curah hujan yang lebih kecil yang membuat daerah ini menjadi lebih kering. Studi ini yang diperlukan dalam penentuan kebijakan mitigasi bencana kekeringan melalui analisis karakteristik kekeringan pada kondisi historis dan masa depan. Kekeringan meteorologis dalam studi ini dianalisis menggunakan indeks kekeringan EDI dan SPI-1, -3, -6, -12, dan -24. Metode ini menggunakan data hujan sebagai input dalam perhitungan. Untuk analisis kondisi eksisting, data hujan yang digunakan untuk perhitungan adalah data dengan panjang data 12 tahun dari 1990 sampai 2001 dari 15 stasiun. Data hujan masa depan diprediksi menggunakan model iklim HadCM3 skenario emisi A2 dan B2. Prediksi data masa depan dilakukan menggunakan Automated Statistical Downscaling dengan parameter stastistik meliputi RMSE, koefisien regresi, dan deviasi standar untuk menguji akurasi model. Indeks kekeringan untuk analisis kekeringan menggunakan metode EDI dan SPI kemudian digunakan untuk membuat peta kekeringan menggunakan perangkat lunak GIS untuk kondisi eksisting maupun masa depan. analisis menunjukkan bahwa kondisi eksisting kekeringan yang Hasil terparah terjadi pada tahun 1997-1998. Kondisi ekstrem ini diduga berhubungan dengan fenomena ENSO yang terjadi di daerah ini. Apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting, kekeringan masa depan periode 2080 lebih rendah baik dari sisi durasi maupun luasan. Kondisi ini sesuai dengan hasil prediksi curah hujan masa depan, yang menunjukkan bahwa curah hujan untuk kedua skenario A2 dan B2 meningkat pada periode 2080-an.
Drought is one of natural disaster occurences that affect many life aspects such as agricultural and economy. Beside that, drought is one of hazard that affected by extreme condition due to climate change. Wonogiri is one of district in Indonesia that have a high risk of meteorological drought. This area tends to have less rainfall than other areas that make the condition drier. This study is aimed to provide some information required in determining the drought disaster mitigation through analysis of drought disaster mitigation through analysis of the drought characteristic, for both historical and future condition. the future drought assessment, the Meteorological drought in this study was analyzed by using EDI and SPI method. Those methods use daily rainfall data as input of the calculation. For the historical condition analysis, the input is 12 years of daily rainfall recorded data from 1990 to 2001 in 15 stations. For input is 90 years of daily rainfall which was generated by using climate model HadCM3 scenario A2 and B2. The future data prediction was done by using Automated Statistical Downscaling software. Statistical criteria i.e. RMSE, regression coefficient and standard deviation were used for testing the model accuracy. The drought coefficient obtained from analysis using EDI and SPI then was applied to make drought risk map using GIS software in Wonogiri District for historical and future condition. during this period The results show that for historical condition, the most severe drought occurred in 1997-1998. This extreme condition related to ENSO phenomenon that happened in this area . Compared with the historical condition, the number of future drought event in 2080 period is less than the historical one. This result agree to the rainfall prediction. The generated rainfall for both scenarios are increase from existing period to 2080’s.
Kata Kunci : kekeringan meteorologis, perubahan iklim, curah hujan, peta kekeringan