ANALISIS PRIORITAS OPERASI DAN PEMELIHARAAN SERTA REHABILITASI DAERAH IRIGASI Studi Kasus 8 Daerah Irigasi Di Daerah Istimewa Yogyakarta
Yunita Aprilina, Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M. Agr.
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilKeterbatasan dana alokasi khusus (DAK) yang dimiliki oleh pemerintah dalam hal alokasi dana untuk irigasi menimbulkan permasalahan. Dana yang terbatas belum mampu untuk menanggulangi permasalahan jaringan irigasi yang dihadapi oleh banyak daerah irigasi yang tersebar dalam suatu wilayah kabupaten/kota. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan suatu analisis prioritas dalam operasi pemeliharaan dan rehabilitasi daerah irigasi untuk menentukan daerah irigasi yang memerlukan penanganan terlebih dahulu sehingga diharapkan dana yang disalurkan oleh pemerintah dapat digunakan secara optimal. Penelitian dilakukan di 8 (delapan) daerah irigasi yang terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu daerah irigasi Trini, Gamping, Cokrobedog, Semoyo, Kucir, Madugondo, Kuton, dan Dadapan. Metode yang digunakan dalam analisis adalah metode MADM yaitu SAW, WP, TOPSIS, ELECTRE, dan AHP. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah kondisi prasarana jaringan irigasi, Ketersediaan Air, Luas Areal, Intensitas Tanam, Produksi Padi, dan Biaya OP, sedangkan penilaian kondisi daerah irigasi meliputi Bendung, Saluran irigasi, Bangunan serta Tanggul dan Jalan Inspeksi. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa urutan prioritas rehabilitasi irigasi berturut-turut adalah Gamping, Cokrobedog, Madugondo, Kuton, Trini, Kucir, Dadapan dan Semoyo. Parameter yang paling berpengaruh terhadap urutan prioritas rehabilitasi daerah irigasi adalah parameter luas areal dan kondisi prasarana jaringan irigasi. Metode MADM yang sesuai dan menunjukkan hasil yang konsisten dalam menentukan urutan prioritas berdasarkan data yang diperoleh adalah metode WP dan TOPSIS.
The government’s budget limitation in term of budget allocation for irrigation causes new problem due to the limited budget is not able to overcome the irrigation problems faced by many irrigation areas spread in a regency/municipality. To overcome that problem, it needs a priority analysis on operation of maintenance and rehabilitation of irrigation area to determine the irrigation areas that need handling first. Therefore, the budget distributed b3y government can be optimized. The Research conducted in 8 (eight) irrigation areas located in the Daerah Istimewa Yogyakarta irrigated areas namely Trini, Gamping, Cokrobedog, Semoyo, Kucir, Madugondo, Kuton, and Dadapan. The method used in the analysis is the method of MADM i.e SAW, WP, TOPSIS, ELECTRE and AHP. The parameters used in the research are the irrigation network conditions,water availability, area width, cultivation intensity, rice productivity,operation and maintenance cost. The irrigation systems condition parameters include dam, irrigation system, buildings, embankment and roads Inspection. Based on the analysis, The irrigation areas obtaining rehabilitation priority scale are Gamping, Cokrobedog, Madugondo, Kuton, Trini, Kucir, Dadapan and Semoyo. the parameters that relatively influenced the determination on the priority of rehabilitation are area width and irrigation network condition. MADM methods are appropriate and show consistent results in determining the order of priority based on the data obtained are WP and TOPSIS method.
Kata Kunci : Rehabilitasi Irigasi, MADM, SAW, WP, TOPSIS, ELECTRE, AHP