DINAMIKA TIPE PERTUMBUHAN (GROWTH TYPE) ENAM GENOTIPE WIJEN
FIRMANSYAH, Dr.Ir. Taryono, M.Sc.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Pemuliaan TanamanWijen (Sesamum indicum L.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati penting dunia yang penggunaannya cenderung meningkat karena manfaatnya untuk kesehatan. Secara umum tanaman ini masih dikategorikan berdaya hasil rendah dan adaptabilitas sempit. Saat ini, kultivar wijen lokal yang dibudidayakan memiliki tipe pertumbuhan tidak terbatas yang berbunga secara terus menerus sehingga menyebabkan keragaman umur panen. Panen lebih awal akan menghasilkan biji berkualitas rendah, sedangkan panen yang terlambat akan mengurangi hasil biji akibat polong yang pecah. Oleh karena itu, pengembangan budidaya wijen saat ini diarahkan pada genotipe wijen tipe pertumbuhan terbatas (determinate) yang tetap stabil pada berbagai kondisi lingkungan dan memiliki daya hasil tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika tipe-tipe pertumbuhan wijen, mengetahui stabilitas masing-masing sifat morfologi dan menentukan secara biokimia kriteria seleksi ketahanan genotipe wijen pada berbagai kombinasi perlakuan salinitas dan suhu tinggi, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai plasma nutfah yang dapat digunakan sebagai tetua untuk bahan persilangan dalam rangka perakitan varietas unggul baru yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 6 x 4 sehingga terdapat 24 kombinasi perlakuan dengan masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Faktor pertama enam macam genotipe wijen yaitu dua genotipe wijen tipe pertumbuhan terbatas yang diintroduksi dari Turki III Det 23, III Det 36 dan empat genotipe tipe pertumbuhan tidak terbatas yaitu Sbr 3, Sbr 4, lokal hitam dan lokal putih. Faktor kedua adalah empat kondisi lingkungan yang mengkombinasikan cekaman suhu dan beberapa konsentrasi NaCl sebagai cekaman salinitas dengan kombinasi perlakuan suhu lapangan + 0 g NaCl, suhu lapangan + 4 g NaCl, suhu lapangan + 8 g NaCl dan suhu rata-rata 45â° C di siang hari + 0 g NaCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan pada suhu lapangan (rata-rata 31OC disiang hari) dengan penambahan 4 dan 8 gram NaCl menyebabkan fase vegetatif tanaman menjadi lebih pendek sebaliknya pada kondisi suhu 45OC di siang hari menyebabkan fase vegetatif menjadi lebih panjang. Genotipe lokal hitam yang memiliki tipe pertumbuhan tidak terbatas pada suhu lapangan (rata-rata siang hari 31â°C) dengan penambahan 4 g NaCl dan 8 g NaCl berubah menjadi tipe pertumbuhan terbatas. Genotipe wijen yang tahan terhadap salinitas dan suhu tinggi cenderung memiliki fase vegetatif yang lebih pendek (tipe determinate) diikuti dengan peningkatan kandungan protein dan prolin. Genotipe III det 23 yang memiliki tipe pertumbuhan terbatas merupakan genotipe yang memiliki daya hasil yang tinggi dan stabil pada sifat morfologi jumlah polong dan bobot 1000 biji.
Sesame (Sesamum indicum L.) is one of the important vegetable oil crops in the world because it is useful for human health. In general, sesame is still considered low yielding and narrow adaptability. Local sesame cultivars have indeterminate growth type causing the heterogenous harvesting time. Early harvest will produce low quality seeds, while the late harvest will reduce grain yield due to pod shatter. Therefore, the development of sesame cultivation is currently focused on the determinate growth type which remained stable in various environmental conditions and high yield. This study aimed to examine the dynamics growth types of sesame, knowing the morphologycal characteristic stability of each genotypes and to select biochemically sesame genotypes tolerance to various combinations of salinity and high temperature treatment, lasting to provide an overview of germplasm that can be use as a breeding parents for developing better new cultivars. This study uses a factorial completely randomized design with three replications. The first factor is genotype of sesame, two types of determinate growth type genotypes from turkey, i.e. III Det 23, III Det 36 and four indeterminate growth types genotypes from Indonesia, i.e. Sbr 3, Sbr 4, black local and white local. The second factor is four environmental conditions that combine stress temperature and concentrations of NaCl. The results showed that between environmental combination of normal temperature (average 31OC) and salinity stress shorters vegetative phase, otherwise the high temperature of 45OC causes longer vegetative phase. Salinity stress changes the growth type of black local genotype to determinate one. The tolerance genotypes tend to have a shorter vegetative phase (determinate growth type) followed by an increase in protein content and proline. Genotype III det 23 with determinate growth type has a high yield and stable on the number of pods and weight of 1000 seeds.
Kata Kunci : -