MENYATUKAN DAN MEMECAH BELAH: WACANA DAN PRAKTEK IDENTITAS SOSIAL ORANG MANADO
Nono Stevano Agustinus Sumampow, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA.
2013 | Tesis | S2 AntropologiBerbeda dengan banyak tempat di Indonesia yang selalu diberitakan dengan kehidupan yang intoleran antar umat beragama dan etnis, di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, bagian timur Indonesia, sejauh dikenal, adalah kota yang penduduknya toleran dan rukun dengan berbagai perbedaan agama dan etnis. Toleransi dan kerukunan tersebut dipayungi oleh ideologi lokal Torang Samua Basudara yang berarti kita semua bersaudara. Kontrasnya, ada juga istilah Sabla Aer yang berarti di seberang sungai dan mewakili hubungan sosial memecah belah antara orang Kristen kota yang berlatar belakang Minahasa dengan orang Kristen berlatar belakang Sangir-Talaud serta warga Muslim kota. Secara metodologis, saya menggunakan paradigma pasca-strukturalis pada penelitian ini. Ada beberapa landasan teori yang digunakan dalam penelitian, terutama: identitas sosial dari H. Tajfel serta field dan distinction Pierre Bourdieu. Penelitian lapangan berlangsung sekitar delapan bulan, antara Juni 2012 sampai Februari 2013 di kota Manado, provinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini, saya menemukan torang samua basudara sebagai representasi dari wacana dan praktek menyatukan dari warga kota yang secara dikotomis berbeda dengan sabla aer yang bersifat memecah-belah. Kemudian temuan tersebut saya refleksikan dengan landasan teoritis dan beberapa kajian pustaka. Sebagai representasi dari dua wajah identitas yang kontras, tulisan ini menjelaskan pembentukan wacana dan praktek Torang Samua Basudara dan Sabla Aer yang tidak linear namun merupakan suatu praktek sosial dalam satu masyarakat. Sebuah komunitas yang memiliki dua wajah.
In contrast to many places in Indonesia who always reported with intolerance religious and ethnic lives, in the city of Manado, North Sulawesi Province, Eastern Indonesia, as long as we known, is a town whose population lives tolerant and harmonious although many religious and ethnic differences among his citizens. It tolerances and harmony have been lives under the local ideology of Torang Samua Basudara, which means we are all brothers. Ironically, there is also a term Sabla Aer, literally means across the river and represents divisive social relations between city citizens, especially which have background Christians-Minahasa, Sangir-Talaud and Muslims. Methodologically, i used the paradigm of post-structuralism in this research. There are several theoretical backgrounds that i have been used, mainly: social identity from Tajfel as well as Pierre Bourdieu‟s field and distinction. My field research conducted from June 2012 until February 2013 at the city of Manado, North Sulawesi Province. In this research, I found torang samua basudara as the representation of integrated discourse and practice from citizens which dichotomous and totally different with sabla aer who has divisive characterized. Then, i was reflected the research finding with my theoretical background and library studies. As a representation of two contrasting faces of identity, this paper describes the formation of the discourse and practice of Torang Samua Basudara and Sabla Aer, although this term is not linear but it is still a social practice in the community. A community that has two faces.
Kata Kunci : Identitas, Wacana, Praktek, Torang Samua Basudara, Sabla Aer