Laporkan Masalah

KORELASI ANTARA STATUS BESI DENGAN FREKUENSI DONASI PADA PENDONOR DARAH REGULER DI YOGYAKARTA

Dwiana Pertiwi Trisnowati, dr. Johan Kurnianda, SpPD-KHOM.

2013 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDS

Transfusi darah adalah salah satu praktek klinis yang umum dilakukan pada perawatan pasien di rumah sakit. Banyak orang mendonorkan darahnya untuk alasan religius, kemanusiaan, etik dan alasan medis. Banyak yang mendonorkan darahnya lebih dari satu kali pertahun, sehingga timbul masalah defisiensi besi pada pendonor darah. Kira-kira 0,5 mg besi hilang tiap mililiter darah yang didonorkan. Jika tidak dikompensasi dengan efisien, kehilangan besi akan menyebabkan anemia, defisiensi besi non anemia juga bisa menjadi masalah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status besi dengan frekuensi donasi pada pendonor darah reguler di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan disain penelitian potong lintang. Subyek penelitian, pendonor darah sukarela di UPTD PMI Tegalgendu Yogyakarta yang memenuhi kriteria. Ada 32 subyek penelitian yang memenuhi kriteria, 25 laki-laki dan 7 perempuan, rerata usia 35,5 ± 9,3 tahun. Subyek penelitian dibagikan berdasarkan frekuensi donasi ≤ 10 kali dan > 10 kali. Rerata Hb 14,5 ±1,4 g/dl dan 14,5 ± 1,1 g/dl, besi serum 73,8 ± 19,4 μg/dl dan 93,2 ± 29,2, feritin 73,1 ± 78,8 ng/ml dan 76,9 ± 55,6 ng/ml. Koefisien korelasi pada frekuensi donasi ≤ 10 kali dengan Hb (r = -0,559; p = 0,038), hematokrit (r = - 0,549; p = 0,042),feritin (r = - 0,553; p = 0,040). Kesimpulan terdapat korelasi negatif antara frekuensi donasi dengan Hb, hematokrit, MCH dan TIBC, dan korelasi negative sedang yang bermakna antara frekuensi donasi ≤ 10 kali dengan Hb, hematokrit dan feritin.

Blood transfusion is one of the most common practice in clinical medicine. Many people donate for religious, humanitarian, ethical, and medical reason. Many who donated blood moe than once per year, which raised the problem of iron deficiency in blood donors.ost blood donors may donate their blood more than once a year. Approximately 0,5 mg iron is lost each mililiter of blood donated. If not compasated by efficient, loss of iron will cause anaemia, non-anaemic iron deficiency can also be issue. This study aimed to find the correlation between the level iron status and donation frequency in the regular blood donors at Yogyakarta. Design study is cross sectionale. Subjects were the voluntary blood donors at UPTD PMI Tegal gendu Yogyakarta.There are 32 subjects, 25 males and 7 females, mean age 35,5 ± 9,3 years. Distribution of subjects based on donation frequency ≤ 10 times and > 10 times. Mean Hb 14,5 ±1,4 g/dl and 14,5 ± 1,1 g/dl, serum iron73,8 ± 19,4 μg/dl and 93,2 ± 29,2, ferritin 73,1 ± 78,8 ng/ml and 76,9 ± 55,6 ng/ml. Correlation coeficient between donation frequency ≤ 10 times with Hb (r = -0,559; p = 0,038), hematocrit (r = -0,549; p = 0,042), serum ferritin (r = -0,553; p = 0,040). Conclusions were negative correlation between the frequency of donation with Hb, hematocrit, MCH and TIBC, and a significant negative correlation between the frequency of donation ≤ 10 times with Hb, hematokrit and feritin.

Kata Kunci : status besi, frekuensi donasi, donor darah reguler


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.