EVALUASI UJI KLON JATI (Tectona grandis L.f) UMUR 3,5 TAHUN DI HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA GUNUNG KIDUL
wahid nurrudin, Dr. Ir. Eny Faridah, M.Sc.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan0 Uji klon terhadap 10 klon jati (Tectona grandis L.f) dievaluasi pada umur 3,5 tahun setelah penanaman. Uji klon Jati Unggul Nusantara (JUN) ditanam dengan rancangan berblok acak lengkap di Petak 14, Hutan Wanagama Gunung Kidul yang memiliki solum dangkal. Uji klon ini dibangun untuk menyeleksi dan mendapatkan klon-klon unggul yang dapat meningkatkan produktivitas perhutanan klon jati. Tanaman uji diukur pertumbuhan tinggi dan diameternya setiap 2 bulan. Selain itu, diukur juga pertumbuhan diameter dengan skala μm, tebal solum tanah, kelembaban tanah, dan cuaca. Tingkat kematian, pertumbuhan tinggi (T) dan diameter (D) antar klon sangat bervariasi di dalam populasi. Heritabilitas klon meningkat seiring bertambahnya umur. Pada umur 3,5 tahun nilai heritabilitas untuk T (H 2 =0,47) lebih kecil daripada D (H 2 =0,51), sedangkan korelasi genetik antara tinggi dan diameter tanaman sebesar 0,95. Heritabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi uji klon dikendalikan dengan kuat oleh faktor genetik. Selain itu, pertumbuhan populasi juga dipengaruhi sangat nyata oleh interaksi antara klon dan lingkungan. Secara umum, curah hujan dan ketebalan solum merupakan faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan jati di Wanagama. Hasil ini menjelaskan bahwa walaupun faktor lingkungan abiotik mampu mempengaruhi variasi pertumbuhan klon, akan tetapi faktor genetik mengontrol lebih kuat terhadap variasi pertumbuhan klon dalam populasi tersebut.
on 10 Clonal test 0 clones of 3,5 years old teak (Tectona grandis L.f) was evaluated. Clonal test of Jati Unggul Nusantara (JUN) has been planted with randomized completely block design in Compartment 14 Wanagama Gunung Kidul which has thin soil depth. Clonal test was conducted to select and obtain superior clones in order to increase the productivity of teak clonal forestry. The height and diameter growth of the trees were observed every 2 months, along with the measurement of diameter growth in μm scale, soil depth, soil humidity, and weather. Mortality rate, height (T), and diameter (D) highly varied among clones in the population. Clone heritability increased gradually with age. Clone heritability for T (H 2 =0,47) was lower than D (H 2 =0,51) after 3,5 years old. Meanwhile, genetic correlation between height and diameter growth was 0,95. High level of heritability showed that the growth of clonal test population was strongly controlled by genetic factor. Population growth was also significantly affected by the interaction between clone and environment. Overall, rainfall and soil depth are abiotic factors that influence teak growth in Wanagama. Although abiotic environmental factors might influence the variation of clone growth, genetic factor affects the variation stronger. These results suggest that the growth of teak clonal test in Wanagama tends to be more affected by genetic factor than by abiotic environmental factors.
Kata Kunci : Wanagama, jati, Tectona grandis, uji klon, heritabilitas, korelasi genetik, pertumbuhan jati, lingkungan abiotik.