STUDI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT: KASUS CAGAR ALAM PEGUNUNGAN ARFAK, KABUPATEN MANOKWARI PAPUA BARAT
FIRAON ULLO, S.HUT., Prof. Dr.Ir.H. Djoko Marsono
2013 | Tesis | S2 I.Kehutanan/MKSDALPenelitian ini bertujuan mengetahui kondisi biofisik, kondisi sosial ekonomi dan bentuk-bentuk interaksi kearifan lokal masyarakat suku Moile terhadap pengelolaan sumberdaya alam hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak. Penelitian eksploraasi ini bersifat ex-post facto sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai refleksi sekaligus masukan untuk kebijakan di masa yang akan datang. Subjek penenelitan adalah masyarakat Suku Moile yang bermukim di Kampung Mokwam Distrik Minyambow Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Data penelitian dijaring melalui kuesioner, sedangkan data lain sebagai pendukung dengan observasi, dan wawancara. Selanjutnya data penelitian dianalisis dengan alat statististik deskriptif dan analysis network process (ANP). Cagar alam pegunungan Arfak secara geografis berada di wilayah Kepala Burung Kabupaten Manokwari, provinsi Papua Barat. Memiliki topografi umum berbukit-bukit dan bergelombang dengan puncak tertinggi 2800 meter diatas permukaan laut. Kawasan pegunungan Arfak membentang seluas 68.325,00 hektar mulai dari 01°00 sampai 01°29 LS dan 133°53, sampai dengan 134°15, BT Masyarakat suku Moile bersama suku lain yaitu ; Hatam, Sougb dan Meyakh merupakan suku asli yang secara turun temurun mendiami pegunungan Arfak sejak belum itetapkan sebagai kawasan Cagar Alam. Mereka hidup secara komunal dan memiliki ketergantungan kuat dengan hutan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti untuk ; bertani, berburu, meramu, dan pemanfaatan kayu. Masarakat suku Moile berpegang pada adat istiadat yang mereka warisi dari para leluhurnya dalam memanfaatkan hutan, adat mereka memiliki kearifan pelestarian yang melarang pemanfaatan hutan secara eksploitatif. Prinsip ini dalam adat mereka dikenal dengan Ig ya ser hanjob, yang berarti melakukan pemanfaatan hutan untuk kelangsungan hidup dengan tetap memperhatikan kelestarian. Peran pemerintah terhadap kearifan lokal suku Moile dapat dilakukan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Pemerintah Daerah. Pemerintah dapat mengoptimalkan kearifan suku Moile dalam berburu, berladang, meramu dan pemanfaatan kayu. Pemerintah dapat membantu pemetaan wilayah yang cocok untuk kegiatan berburu, berladang, meramu dan pemanfaatan kayu, kemudian wilayah dijaga bersama agar kekayaan lebih lestari. Secara kualitas pemerintah dapat membantu mengenalkan taknik-teknik yang lebih baik, seperti penyuluhan berkebun untuk meningkatkan hasil berladang, beternak terbuka untuk melestarikan habitat secara umum dan hewan buruan khususnya, teknik pengawetan agar hasil meramu dan pemanfaatan kayu bisa lebih bertajan lama. Secara bersamaan pemeberdayaan sumber daya manusia terus ditingkatkan, sehingga kaeraifan Ig ya ser hanjob dalam pemanfaatan hutan dapat ditransformasikan menjadi lebih maju.
This research was intended to identify biophysical condition, social economic condition and interaction type of local wisdom of Moile ethnic on natural resource management in Arfak mountain natural reserve. This exploration research is exâ€post factor so its result can be used as reflection and input for future policy. Research subject is people of Moile ethnic living in Mokwam village Minyambow district of Manokwari regency, West Papua. Data was gathered with questionnaire, while other supporting data was obtained through observation, and interview. Data was analyzed using descriptive statistic and analytic network process (ANP). Natural reserve in Arfak Mountain locates in Bird Head area of Manokwari. It has hilliness and waving topography with highest peak of 2800 meter above sea level. Arfak mountain is 68,325 ha ranging from 010 00 – 01029 SL and 133053 – 1340EL. Moile ethnic and other ethnics such as Hatam, Sough and Meyakh are native ethnic that live in Arfak mountain from generation to generation since before it was determined as natural reserve. They live communally and have strong dependence on forest in meeting daily needs such as agriculture, hunting, collecting, and using wood. Moile ethnic people hold their custom they inherit from their ancestor in taking forest product. Their custom has wisdom in conservation that prohibits excessive forest exploitation. The principle is known as Ig ya ser hanjob, which means utilizing forest for live sustainability with still considering conservation. Government may play role in the local wisdom of Moile ethnic through Natural Resource Conservation Agency (BKSDA) and Local government. Government may optimize Moile ethnic wisdom in hunting, land cultivation, collecting and wood utilization. Then the area is kept together for more sustainable. In quality side, government can help by introducing better technique such as extension for planting to improve land cultivation, open animal husbandry to conserve habitat in general and hunted animal in particular, preservation technique for collection result and wood utilization. Human resource should be simultaneously improved, so Ig ya ser hanjob wisdom in utilizing forest can be transformed better.
Kata Kunci : -