PARIWISATA DALAM PANDANGAN KAUM SANTRI TRADISIONAL JAWA -- STUDI KASUS PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA ZIARAH DI KOMPLEKS MASJID-MAKAM SUNAN KALIJAGA KADILANGU, DEMAK
ANDRI SULISTYANI, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Magister Kajian PariwisataKaum santri tradisional telah memandang destinasi wisata ziarah di kompleks Masjid-Makam Sunan Kalijaga sebagai salah satu perwujudan model ideal untuk hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami model tersebut melalui kajian terhadap sajian objek dan atraksi yang berlangsung di dalamnya. Objek dan atraksi wisata ziarah beserta model pengembangannya ditempatkan sebagai inti permasalahan yang dipahami berdasarkan cara pandang kaum santri tradisional. Kerangka teori Pandangan Dunia dari Geertz (1992) digunakan sebagai pedoman penuntun dalam memahami inti masalah. Data dikumpulkan selama 6 bulan melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pandangan kaum santri tradisional terhadap objek dan atraksi wisata ziarah dan model pengembangannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa keseluruhan sajian daya tarik wisatanya bersifat simbolis. Makna dari sistem simbol yang dikonstruksikan oleh santri bertujuan untuk pencapaian rasa terakhir, sebuah puncak rasa yang hanya dapat diperoleh dari pengalaman berwisata yang bernilai tinggi, syahdu, khidmat, dan penuh kepasarahan. Nilai ini dituangkan dalam model pengembangan pariwisata yang ideal menurut pandangan kaum santri. Melalui pandangan idealnya, Kadilangu ditempatkan sebagai destinasi pemurnian nafsu jiwa wisatawan untuk menuju rasa kepuasan hakiki dalam berwisata. Kehakikian itu bisa dicapai setelah wisatawan melepaskan seluruh materi dan nafsu-nafsu duniawinya. Pelepasan materi ini disimbolkan oleh kaum santri tradisional melalui sajian atraksi garebeg besaran, jamasan pusaka, pengorbanan Idul Adha, dan selamatan caos dhahar. Saat ini, sajian atraksi ini lebih cenderung bernilai ekonomis daripada bernilai sakral. Selebihnya, aset-aset wisata ziarah Kadilangu menjadi rebutan para pihak yang berkepentingan atas nama tujuan komersial tersebut. Perebutan ini mengakibatkan model pengembangan kawasan wisata ziarah yang ideal menurut kaum santri tradisional tidak terbaca dalam model pengembangan pariwisata yang telah dijalankan maupun direncanakan oleh pemerintah. Implikasinya, wisata ziarah dipandang oleh kaum santri tradisional sebagai perihal yang lebih bersifat lahiriah sebagai akibat massalisasi aktivitas pariwisata di kompleks Masjid-Makam Sunan Kalijaga ini. Untuk itu, dihadirkan sebuah wacana imbauan dan saran agar model pengembangan pariwisata selanjutnya lebih mampu mempertimbangkan dan mengakomodasi pandangan ideal kaum santri tradisional, sehingga fungsi dan hak mereka sebagai salah satu pengusung wisata ziarah yang sifatnya rohaniah dapat berjalan baik.
Traditionalist santri has seen pilgrimage tourism destinations in Sunan Kalijaga Mosque-Cemetery complex as one embodiment of the ideal model for their life. This study aims to understand their point of view model through the presentation of tangible-intangible attractions which took place in it. The objects of pilgrimage tourism in form of mosque and cemetery of Sunan Kalijaga and their development model were marked as the core issues. Worldview theoretical framework of Geertz (1992) was used as the main guide in analyzing the core problem. The data were collected for about 6 months through the documentation study, observation and participants interview. Qualitative analysis was conducted to gain a deeper understanding of the traditionalist santri’s view on an ideal pilgrimage tourist attraction and its development models in Kadilangu. The findings of the analysis showed that the overall presentation of Kadilangu tourist attractions were symbolic. Its very constructing symbol system ended on a sense of the latter, a peak of religious flavor deriving from tourists’ high value experience, serene, solemn, and full of resignation travel. This symbolic values was embodied on an ideal model of tourism development presented in traditionalist santri’s perspective. Their idealism stated that Kadilangu has to be placed as a soul purification destination for achieving the true nature of sense of satisfaction in travelling. This essence could only be achieved after releasing all material and worldly desires. The release of the material was symbolized by the traditionalist santri in case of garebeg besaran, jamasan, religious offering of Eid al-Adha, and caos dhahar ceremony. Nowdays, those attractions are more likely exposed as economical cases rather than deploy their value of sacred worth. Later, Kadilangu pilgrimage assets became a seizure object of the parties hereto on behalf of this commercial purpose. This problem brought a bad impact toward santri’s ideal model of pilgrimage tourism development which had never been readable by the government. Further, pilgrimage tour was only seen as a physical activity in term of a mass tourism and lost its meaning. At the end, there were some suggestions presented for a better tourism development on behalf to accomodate the ideal view of traditionalist santri. Therefore, their functions as one of stakeholders of this spiritual pilgrimage tourism could run well.
Kata Kunci : santri tradisional, wisata ziarah, masjid, makam, model, pandangan