Laporkan Masalah

POTENSI INDUSTRI MOCAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR) SEBAGAI DIVERSIFIKASI INDUSTRI TAPIOKA DI KABUPATEN BANJARNEGARA JAWA TENGAH

ANUGRAH ROMADONA MEIKASARI, Dr. Ir. Makhmudun Ainuri, M.Si

2013 | Tesis | S2 Teknologi Industri Pertanian

Mocaf (modified cassava flour) merupakan tepung berbahan baku ubi kayu yang memiliki karakteristik seperti tepung terigu, sehingga dapat digunakan sebagai campuran maupun pengganti tepung terigu pada produk olahan makanan. Peluang mocaf yang cukup besar untuk masuk di pasar dengan sifatnya yang mendekati tepung terigu dan harganya yang lebih murah, serta ketersediaan lahan untuk penanaman ubi kayu, menjadi peluang tersendiri bagi kabupaten Banjarnegara untuk mengembangkan industri mocaf. Penelitian ini difokuskan pada analisis kelayakan industri mocaf sebagai diversifikasi industri tapioka di Kabupaten Banjarnegara, meliputi aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, serta aspek keuangan. Metode yang digunakan adalah metode komparasi penilaian kelayakan industri mocaf dan industri tapioka. Hasil perhitungan kriteria kelayakan investasi kedua industri pada aspek keuangan yaitu industri mocaf nilai NPV Rp. 19,683,316,649 > 1, nilai Payback Period 3 tahun, 9 bulan, 29 hari < 10 tahun, nilai Profitability Index 3,5 > 1, dan nilai IRR 29% > tingkat keuntungan yang dikehendaki. Industri tapioka nilai NPV Rp. 14,807,839,616 > 1, nilai Payback Period 4 tahun, 6 bulan, 9 hari < 10 tahun, nilai Profitability Index 3,18 > 1, dan nilai IRR 25% > tingkat keuntungan yang dikehendaki. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan nilai kelayakan untuk kedua industri, dari aspek pasar dan pemasaran nilai industri tapioka lebih tinggi yaitu 43 poin sedangkan industri mocaf 38 poin. Aspek teknik dan teknologi, nilai industri mocaf lebih tinggi yaitu 48 poin sedangkan industri tapioka 39 poin. Aspek keuangan, nilai industri mocaf sama dengan nilai industri tapioka yaitu 39 poin. Dari nilai kelayakan tersebut diperoleh kesimpulan bahwa industri mocaf dapat dikembangkan sebagai diversifikasi industri tapioka di Kabupaten Banjarnegara.

Mocaf (Modified Cassava Flour) is a cassava-made flour that seized similar characteristic as wheat flour, as of being used for substitute nor mixture those in processed food product. Mocaf feature is considerably high enough in market by the superiority which is similar with wheat flour, cheaper price, and also land availability for cassava production, has become great potency for developing mocaf industry in Banjarnegara.The aims of research focused in feasibility analysis toward mocaf industry as tapioca industry diversification in Banjarnegara, including several factors such as market and marketing, technical and technology, also financial. Research methods using comparation methods of feasibility value of industry, between mocaf and tapioca. The feasibility calculation results showed NPV mocaf was Rp. 19,683,316,649 > 1, Payback Period 3 years, 9 months and 29 days < 10 years, Profitability Index value 3,5 > 1 and IRR value 29% > Profit Rate Assumption. While tapioca, NPV value was Rp. 14,807,839,616 > 1, Payback Peroid 4 years, 6 months and 9 days < 10 years, Profitability Index value was 3,18 > 1 and IRR 25% > Profit Rate Assumption. 38 Research results showed that based on market and marketing factor point, tapioca was higher than mocaf, 43 points to points. Technical and technology factor point of tapioca was lower than mocaf, 39 points to 48 points. The last but not least, financial factor point of tapioca same with mocaf, 39 points. Conclusion showed that mocaf industry has great potency to be developed in Banjarnegara regency, based on those three basic industrial factors.

Kata Kunci : Analisis Kelayakan, Diversifikasi, Mocaf, Tapioka


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.