TUMBUHAN BAWAH DOMINAN PENGHASIL BAHAN OBAT HERBAL PADA SISTEM AGROFORESTRI
ETIK ERNA WATI HADI, Prof. Dr. S. M. Widyastuti, M.Sc.
2013 | Tesis | S2 Ilmu KehutananPeningkatan produksi dan nilai ekonomi pada sistem agroforestri dapat dilakukan melalui intensifikasi dan diversifikasi produk. Komponen penyusun yang terdapat dalam sistem agroforestri diantaranya adalah tumbuhan bawah yang selama ini belum menjadi prioritas. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui jenis tumbuhan bawah pada sistem agroforestri; 2) mengetahui jenis tumbuhan bawah yang sudah dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat, dan 3) mengetahui kandungan senyawa aktif dari tumbuhan bawah dominan yang berpotensi sebagai bahan obat. Lokasi penelitian di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, tahap pertama pengambilan data vegetasi di 9 (sembilan) lokasi pada 3 (tiga) zona ketinggian tempat, yaitu zona 1 (< 300 m dpl), zona 2 (301-600 m dpl), zona 3 (>600 m dpl) dan tahap kedua di laboratorium untuk mengetahui potensi tumbuhan bawah yang dominan sebagai bahan obat dengan melakukan uji aktivitas antimikroba. Metode yang digunakan: 1) analisis vegetasi tumbuhan bawah menggunakan metode sampling beraturan, 2) identifikasi kandungan senyawa aktif menggunakan metode KLT dan 3) uji antimikroba menggunakan metode bioautografi kontak. Analisis data menggunakan: 1) analisis kuantitatif untuk mengetahui dominansi, kekayaan jenis (R’), kemerataan jenis (E’), keanekaragaman jenis (H’) dan indeks similaritas komunitas tumbuhan bawah; 2) analisis kualitatif untuk mengidentifikasi kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai antimikroba. Hasil penelitian terdapat 54 jenis tumbuhan, 5 (lima) jenis yang mendominasi di zona 1 adalah Curcuma mangga dengan INP 55,495; Oplimenus burmanii (23,810); Zingiber zerumpet (21,245); Oxalis barrelieri (14,835). Di zona 2 terdiri dari C. mangga (60,154), Synedrella nodiflora (23,674), Boesenbergia pandurata (17,577), Mimosa pudica (11,4) dan Peperomia pellucida (10,445). Zona 3 terdiri dari C. mangga (46,080), Z. officinale (20,568), O. barrelieri (18, 466), B. pandurata (15,341) dan P. pellucida (13,295). Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah terbesar pada pekarangan di zona 3, sedangkan pada tegalan di zona 2. Berdasarkan indeks similaritas, terdapat perbedaan komunitas tumbuhan bawah pada pekarangan dan tegalan di zona 1, 2 dan 3. Jenis yang mendominasi disemua zona adalah C. mangga. Tumbuhan bawah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tumbuhan obat sebanyak 31, termasuk C. mangga yang dimanfaatkan sebagai campuran jamu dan penambah aroma untuk gula semut. Senyawa yang terkandung dalam ekstrak C. mangga adalah golongan fenol dan terpenoid. Uji aktivitas antimikroba menunjukkan ekstrak C. mangga mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. dan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri tersebut adalah golongan fenol. Kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri adalah bukti bahwa C. mangga memiliki potensi sebagai bahan obat.
Increased production and economic value of the agroforestry system can be done through the intensification and diversification of products. Contained in the components of agroforestry systems include the understorey that has not been a priority. This study aimed to: 1) determine the species of understorey in agroforestry systems, 2) determine the species of understorey that have been utilized the community as a medicine, and 3) determine the content of the active compounds from the understorey dominant a potentially as medicine. Location of the study is Kulon Progo district. The experiment was conducted in two phases , the first phase of data collection of vegetation in 9 (nine) locations in 3 (three) altitude zone, zone 1 (<300 m asl), zone 2 (301-600 m asl), zone 3 (>600 m asl) and the second stage to determine the potential laboratory the dominant of understorey as medicine to test the antimicrobial activity. Methods are used: 1) analysis vegetation of understorey using uniform sampling method, 2) identification of the active compound content using TLC method and 3) antimicrobial test using bioautografi contact method. Analysis of the data using: 1) a quantitative analysis to determine dominance, species richness (R'), evenness (E'), species diversity (H’) and plant community similarity index below; 2) qualitative analysis to identify potentially active compounds content as antimicrobial. The results below are 54 species of understories in agroforestry , 5 (five) species that dominate at zone 1 is Curcuma mangga with IVI 55,495; Oplimenus burmanii (23,810); Zingiber zerumpet (21,245); Oxalis barrelieri (14,835). At zone 2 consists of C. mangga (60,154), Synedrella nodiflora (23,674), Boesenbergia pandurata (17,577), Mimosa pudica (11,4) and Peperomia pellucida (10,445). At zone 3 consists of C. mangga (46,080), Z. officinale (20,568), O. barrelieri (18,466), B. pandurata (15,341) and P. pellucida (13,295). The greatest diversity of understorey on the homegarden at zone 3, on the moor at zone 2. Based on an index of similarity, there are differences in understories communities the homegarden and moor at zone 1, 2 and 3. The species that dominate in all zones is C. mangga. Understories are utilized by the public as much as 31 medicinal plants, including C. mangga are used as a mixture of herbs and flavor enhancer for sugar ants. Compounds contained in the extract of C. mangga is a class of phenols and terpenoids. Extracts showed antimicrobial activity test C. mangga is able to inhibit the growth of bacteria S. aureus and compounds that have antibacterial activity is a class of phenol. Ability to inhibit the growth of bacteria is evidence that C. mangga has potential as a medicinal material.
Kata Kunci : tumbuhan bawah, agroforestri, C. mangga, antimikroba, senyawa aktif