KAJIAN RISIKO BENCANA BANJIR PADA KAWASAN PERTEMUAN SUNGAI KEYANG, SLAHUNG, DAN SUNGKUR DI PONOROGO
Irfan Kusnadi, Dr.Ir. Istiarto, M.Eng.
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilPonorogo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan luas area 1371,78 km2 memiliki masalah bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahun. Studi yang pernah dilakukan terkait masalah tersebut berupa desain teknis dan konsep pengelolaan kawasan banjir di Ponorogo. Dalam studi tersebut, penyusunan rencana pengelolaan kawasan bencana banjir hanya mempertimbangkan aspek genangan banjirnya saja. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis risiko pada kawasan tersebut dengan mempertimbangkan aspek bahaya dan kerentanan bencana banjir yang dapat digunakan oleh pembuat keputusan penanganan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta risiko bencana banjir di Ponorogo dengan fokus kajian di kawasan pertemuan Sungai Keyang, Slahung, dan Sungkur. Tahapan analisis dimulai analisis hidrologi, analisis hidraulika, analisis risiko, dan pemetaan. Berbeda dengan studi terdahulu, pemetaan kawasan genangan banjir menggunakan hasil perhitungan volume limpasan hasil perhitungan hidraulika sebagai dasarnya. Analsis kerentanan dan risiko menggunakan metode pembobotan parameter dimana penentuan bobot parameter dilakukan dengan metode Analitical Hierarchy Process (AHP). Analsis data dilakukan dengan beberapa software seperti Microsoft Office, HEC-RAS, ArcGIS. Hasil pemodelan hidraulika terhadap banjir kala ulang 5 tahunan menunjukkan bahwa pada sungai yang dimodelkan terjadi limpasan. Kawasan di antara Sungai Slahung dan Sungkur menerima limpasan tertinggi yakni 5,31 juta m3. Pemetaan banjir menggunakan metode volume limpasan menghasilkan kawasan terdampak banjir seluas 897 Ha, lebih kecil dari hasil studi terdahulu yakni 3399 Ha. Pada akhirnya, berdasar pada peta risiko yang dihasilkan, Desa Sragi, Pengkol, Morosari, Gandukepuh, dan Baju merupakan lima desa dengan kawasan berisiko tertinggi terhadap bencana banjir.
Ponorogo which is the one of Regency in East Java with area 1371.78 has a flood disaster problem in almost every year. The previous study related this problem are composing detail design and flood area management concept in Ponorogo. In this study, flood area management concept only considered flood hazard map. Therefore, it needs to be done the risk analysis which considers hazard and vulnerability aspect. Flood risk map is the one of many parameters that can be used by government or decision maker to make a flood disaster policy. This study aims to make a flood risk map in Ponorogo with focus of study in area of Keyang, Slahung, and Sungkur River confluence. The steps of analysis are Hydrology analysis, Hydraulic analysis, flood risk analysis, and mapping. The flood area mapping use the computing river overflow which is computed by hydraulic analysis. Vulnerability and risk was analyzed by using scoring method where the parameters weight was analyzed by using Analitical Hierarchy Process method. Data Analysis performed by some software, such as Microsoft Office, HEC-RAS, and ArcGIS. The result of hydraulic modeling for 5 year return period flow shows that in the rivers which is modeled, the overflow was occurred. The area between Slahung and Sungkur Rivers received the highest overflow (5.31 million m3). Flood area mapping by using volume of overflow method resulted in smaller flooding area than that of the previous study. The area impacted was 897 Ha, smaller than before (3397 Ha). According to the flood risk map, Sragi, Pengkol, Morosari, Gandukepuh, and Baju village are the five villages with the highest risk area.
Kata Kunci : risiko, banjir, limpasan, pemetaan