Laporkan Masalah

DINAMIKA EKONOMI POLITIK INDUSTRI PENERBITAN PERS LOKAL (Studi Kasus Praktek Komodifikasi dan Spasialisasi di Kota Kupang)

Yoseph Andreas Gual, Prof. Y. A Nunung Prajarto

2013 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu Komunikasi

Penelitian ini bergerak dari realitas kehidupan surat kabar di Kota Kupang- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami perubahan sejalan dengan perubahan situasi sosial politik Indonesia. Pada era Orde Baru Kota Kupang hanya memiliki satu harian tetapi semenjak Reformasi bergulir setidaknya ada 12 harian yang tumbuh di sana. Dalam perjalanan waktu hingga tahun 2013, hanya tersisa 5 koran-tiga koran di bawah payung perusahaan media nasional dan dua koran lainnya dimiliki dan dikelola sendiri oleh masyarakat lokal. Tiga koran pertama bertumbuh dan menguasai pasar koran di NTT sementara 2 koran lain nasibnya terkatung-katung. Dalam bidang komunikasi realitas seperti ini bersinggungan dengan kajian ekonomi politik media. Karena itu, pertanyaan yang teraju untuk menelusuri realitas di atas adalah bagaimana praktek ekonomi politik media khususnya komodifkasi dan spasialisasi pada harian Pos Kupang, Timor Express, Erende Pos dan Radar Timor dalam persaingan bisnis surat kabar di Kota Kupang? Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan praktek komodifikasi dan spasialisasi serta menemukan alasan-alasan yang melatari keempat media menerapkan praktek-praktek tersebut. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode studi kasus. Penelitian ini menemukan keempat koran melakukan praktek komodifikasi dan spasialisasi namun berbeda satu sama lain. Komodifikasi isi, audiens dan pekerja yang dilakukan oleh dua media yang bernaung di bawah payung media nasional cenderung berhasil dan menjadi sokongan utama kedua media untuk bertahan dan mengembangkan sayapnya. Praktek komodifikasi yang mereka terapkan lebih profesional sehingga terkesan wajar. Hal ini terjadi karena kedua media disokong oleh perusahaan media besar yang menaungi mereka. Sedangkan dua media lokal yang tidak berafiliasi dengan perusahaan media nasional melakukan praktek komodifikasi terbatas pada pengetahuan pemiliknya-bukan berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan bisnis media modern. Hal ini membuat Erende Pos sulit bersaing dengan Pos Kupang dan Timor Express dan Radar Timor harus menerima nasib-gulung tikar. Dari sisi spasialisasi keempat media juga berupaya melakukannya. Dari sudut kepemilikan, saham mayoritas dua media pertama dikuasai perusahaan media nasional. Jadi Pos Kupang dan Timor Express merupakan hasil spasialisasi induk perusahaan masing-masing. Namun berkat bantuan media induknya, kedua media dapat berkembang dan melakukan perluasan-perluasan usaha baik secara horisontal maupun vertikal. Sebaliknya, dua media lain berupaya melakukan spasialisasi namun belum cukup beruntung. Erende Pos merupakan satu yayasan dengan Universitas Nusa Lontar, tahun 2013 ingin melakukan upaya cetak jarak jauh di Pulau Rote namun masih sebatas rencana. Radar Timor merupakan salah satu anak usaha yang kolaps dari beberapa usaha sang pemilik yang juga gulung tikar. Dari data di atas disimpulkan bahwa praktek komodifikasi dan spasialisasi dilakukan oleh keempat media dengan tujuan tidak hanya untuk bertahan hidup melainkan juga untuk mengembangkan bisnis usaha ini menjadi lebih besar. Namun nasib dari keempat media berbeda dalam kelanjutan praktek komodifikasi dan spasialisasi tersebut. Dua koran yang bernaung di bawah dua media besar selain bisa hidup mereka juga menguasai pasar koran harian di NTT hal ini disebabkan oleh dukungan yang diterima masing-masing koran dari induk perusahaan baik dari sisi materil, organisasi, manajemen maupun sumber daya manusia. Dari empat modal dukungan ini, kedua koran lokal ini mampu mengembangkan kerja profesional yakni perimbangan antara kerja jurnalistik dan tuntutan bisnis walaupun dari hasil telaah ditemukan terdapat banyak praktek jurnalistik yang tercederai akibat masuknya kepentingan-kepentingan pemaksimalan keuntungan. Dengan mendapat empat dukungan di atas, Pos Kupang dan Timor Express juga mendapatkan sekaligus mengembangkan dua modal lain yang membuat mereka diterima oleh masyarakat NTT-yakni modal sosial dan modal politik. Dengan dua modal ini, akses mereka terhadap berbagai sumber daya semakin luas, keberterimaan publik dan pengiklan terhadap mereka pun semakin meningkat. Hal ini tidak terjadi pada Erende Pos dan Radar Timor. Mereka belajar membangun diri sendiri, bekerja sendiri-tanpa dukungan dari kelompok mana pun. Hal ini menyebabkan mereka kurang dikenal serta praktek kerja jurnalistik dan bisnis mereka cenderung jauh dari kesan profesional.

This research comes from the reality of local daily news life in Kupang city, East Nusa Tenggara Province that conform to the alteration of social politic in Indonesia. Kupang City has only one local news in the era Orde Baru but since the reformation surround Indonesia has been born 12 local news in Kupang. In the period of time, in 2013 remain 5 local newspaper. Tree of them has protected by the national newspaper and the two other protected by local people-the first of three local newspaper growth well and dominated NTT while two other were floated. In field of communication, this situation make a little problem with the recitation of economic political media. Therefore, the question is used to research how is applied to the (economic) political media especially modification and spacialization for the daily local media, Pos Kupang,Timor Express, Erende Pos and Radar Timor can be competed among them. The aim of the research is to explain modification and specialization in order to find reason as background for the fourth media to applied them. This research use paradigm of constructivisme with case study method. The researcher discovered that the fourth local media applied the modification and specialization practically with different ways. The modification in content, audience and worker is done by 2 local media which is protected by national media regard success and become the endorsement for both media to survive and to expand. Practically modification is more professional that impressed without deceit. This happened because both local media is supported by media corporation which protect them. While two other local media which is not agree with media corporation to apllied practical modification with limit knowledge of the owner not based on the business media modern consideration. This made Erende Pos difficult to compete with Pos Kupang, Timor Express and Radar Timor collapses. From spacialization side the forth media try hard to do but from the owner side, the main stock of two media belongs to national media corporation. Pos Kupang and Timor Express is the result of spacialization of each main corporation. With the supported by the main media corporation, both local media can be improve and expand, its vertically and horizontally. On the contrary, tho other media try to do spasialization buf fail. Erende Pos that have the same institution with Nusa Lontar University in Rote Island try to make long distant Printed and it is a plan. While Radar Timor is one of local news paper can not be stand and its also collapses. From the data above can be that practical modification and spacialization has been done the forth local media not only for surviving but also to improve it more progress. Mean while the destiny of the fourth local media have different way on the pratical commodification and spacialization. Both of the frourth local media which protected by the national media corporation can be exist now as daily newspaper in NTT. It supported by the main media corporation of each daily news paper whether its material, organizer, management and human resource. With this financial capital, two local media can run business professional destroy the jurnalistic itsel because of the entering personal dizziness to get more profit. With the sufficient capital, Pos Kupang and Timor Express is also can be expand two other business which make them receipt by the society in NTT. The two other business is social financial and political financial. With this, their progress to many resources will be broad, public receipt, and their advertisement will be increase. What happened to Erende Pos and Radar Timor. They learn to run their business by themselves, work for themselves without endorsement from other. This make them unknown by the people, bad journalistic and their business tend to the far from professional work.

Kata Kunci : Ekonomi Politik Media, Komodifikasi, Spasialisasi, Koran Lokal


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.