Laporkan Masalah

ANALISIS PENGARUH OPERASIONAL KAWASAN WISATA JOGJA ECO PARK TERHADAP SISTEM LALU LINTAS SEKITAR KAWASAN WISATA JOGJA ECO PARK DI KABUPATEN SLEMAN D.I. YOGYAKARTA

Muhammad Ali Yusuf Rasyid, Ir. Djoko Murwono, M.Sc.

2013 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi

Menyadari potensi pariwisata Yogyakarta yang sangat besar, beberapa investor yang tergabung dalam PT. Jogja Eco Wisata berencana membangun kawasan wisata “Jogja Eco Park” di Desa Candibinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman seluas 20 ha (20.000 m2), yang berbasis pada potensi alam yang ada. Konsep kawasan wisata yang direncanakan merupakan perpaduan dari wisata waterpark, drypark (outbond), dan tempat pertunjukan/hiburan yang dilengkapi dengan wisata kuliner. Rencana ini tentunya akan menimbulkan dampak baik berupa dampak lingkungan, sosial, ekonomi, budaya maupun dampak lalu lintas akibat dari bangkitan/tarikan perjalanan ke kawasan wisata tersebut. Penelitian ini lebih ditekankan pada analisis dampak lalu lintas terhadap kinerja ruas jalan dan simpang yang diperkirakan terkena dampak lalu lintas yang bersumber dari tarikan/bangkitan perjalanan ke kawasan wisata tersebut yang diakibatkan oleh operasional kawasan wisata tersebut. Metode yang digunakan dalam memperkirakan bangkitan perjalanan wisata ialah metode studi banding (analogi kawasan wisata sejenis), dengan mengkorelasi studi analogi bangkitan perjalanan wisata sejenis terkini di Yogyakarta (tahun 2012) dengan hasil studi/formulasi dari Dirjhubat tahun 1992, sehingga diperoleh formula baru dalam memperkirakan bangkitan perjalanan ke kawasan wisata tersebut. Selanjutnya, analisis kinerja ruas jalan dan simpang menggunakan metode MKJI (1997). Kondisi yang dianalisis adalah kondisi sebelum dibangun (2012), prediksi awal operasional (2015) sampai pada 10 tahun operasional (2020-2025). Prediksi bangkitan lalu lintas operasional kawasan JEP pada tahun 2015 sebesar 242 smp/jam, 309 smp/jam pada tahun 2020 dan 395 smp/jam di tahun 2025. Dampak bangkitan lalu lintas terhadap kinerja ruas jalan dan simpang menurunkan kinerja jalan sebesar 4% tiap tahun operasional (tanpa skenario perbaikan). Skenario penanganan dampak terbaik pada ruas jalan (Candibinangun) ialah berupa pelebaran jalan minimal 6-7 meter (eksisting 5 meter), sedangkan pada simpang selain meningkatkan kapasitas simpang melalui pelebaran jalan pada semua lengan simpang juga dibutuhkan strategi manajemen lalu lintas berupa pengalihan sebagian arus yang akan menuju simpang 4 Palagan- Candibinangun sebesar 4% dan 18% arus yang akan menuju simpang 4 Kaliurang-Candibinangun melewati jalur-jalur alternatif. Strategi manajemen lalu lintas tersebut diberlakukan pada simpang 3 Ngasem-Jl. Kaliurang (untuk akses alternatif ke jalan Palagan), simpang 4 Palagan-Kapt. Haryadi (untuk akses alternatif ke jalan Kaliurang) dan pada pertigaan jalan Pakem-Turi yang merupkan akses dari arah utara menuju kawasan wisata Jogja Eco Park.

Realizing the potential of tourism in Yogyakarta very large, some investors who are members of the PT. Jogja Eco Tourism plan to build a tourist area \"Jogja Eco Park\" in the village of Pakem Candibinangun Sleman district of 20 ha (20,000 m2), which is based on the existing natural resources. The concept of the planned tourist area is a mix of tourist waterpark, drypark (outbound), and the show / entertainment that comes with a culinary tour. This plan will certainly have an impact in the form of environmental, social, economic, cultural and traffic impacts due to generation / attraction trip to the tourist area. This study focused on the analysis of the performance impact of traffic roads and intersections affected are estimated traffic that originates from the pull/ trip generation to the tourist area of operations caused by the tourist areas. The method used in estimating the trip generation is the method comparison study (similar analogy tourist areas), with studies correlate analogy latest generation similar tour in Yogyakarta (in 2012) with the results of a study / formulation of Dirjhubat 1992, in order to obtain a new formula to estimate trip generation to the tourist area. Furthermore, the performance analysis of roads and intersections using methods MKJI (1997). Conditions analyzed is the condition before it was built (2012), the early prediction of operational (2015) up to 10 years of operation (2020-2025). Prediction operational traffic generation JEP region in 2015 amounted to 242 smp/hour, 309 smp/hour in 2020 and 395 smp/hour in 2025. Traffic generation impact on the performance of roads and road intersection decrease performance by 4% per year operation (without repair scenario). The best treatment scenario impacts on roads (Candibinangun) is a minimal 6-7 meter road widening (existing 5 meter), whereas the intersection in addition to increasing the capacity of the intersection by widening the road at all intersections arm also needed traffic management strategies such as transfers of most current intersection will be heading Theater-Candibinangun 4 by 4% and 18% will go to the intersection of the current 4-Ground Candibinangun pass alternative pathways. Traffic management strategy is implemented at the intersection of 3 Ngasem-Jl. Ground (for alternative access road to the Theater), Theater-Capt. intersection 4 Haryadi (for alternative access road to the Ground) and at the fork in the road, which owns Pakem-Turi access from the north to the tourist area of Jogja Eco Park.

Kata Kunci : Dampak Lalu Lintas, Bangkitan Perjalanan (Lalu Lintas) Kawasan Wisata, MKJI (1997), Analogi Kawasan Wisata Sejenis


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.