KEARIFAN LOKAL SUKU KAJANG DALAM PENATAAN RUANG
SUPRIADI TAKWIM, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A.,Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahPenataan ruang dewasa ini membutuhkan keberadaan pengetahuan lokal, karena dalam pembangunan sesungguhnya memiliki peran dan arti penting yang sejajar dengan pengetahuan ilmiah modern. Kearifan lokal merupakan sumber inspirasi utama bagi terbentuknya semangat dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), sehingga masyarakat lokal akan memiliki kemampuan untuk memperkuat daya adaptasinya (adaptive capacity) terhadap berbagai perubahan, baik internal maupun eksternal. Dengan demikian penduduk lokal dapat mengembangkan pranata sosial yang ada untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Nilai-nilai budaya dapat ditempatkan sebagai salah satu kekuatan penggerak (driving force) bagi kemajuan wilayah, terutama dalam mengembangkan kapabilitas, kompetensi, dan reputasi wilayah. Penguasaan nilai-nilai budaya lokal dapat dijadikan instrumen untuk menciptakan kepribadian dan mental penduduk yang senantiasa mau untuk terus belajar (learning nation). Proses pembelajaran ini penting agar dapat menciptakan daya saing suatu wilayah. Oleh karena itu proses kemajuan ekonomi lokal tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kemampuan sumberdaya manusia (human capital). Ajaran Pasang ri Kajang dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan pesan berupa pengetahuan lokal, seperti nilai Kamase-mase yang mengangkat tentang kebersahajaan dan pemanfaatan ruang dengan asas “secukupnya†kemudian didialogkan dengan teori perencanaan yang mempertimbangkan aspek pertimbangan budaya lokal dalam perencanaan. Isu utama yang menjadi dasar untuk memahami proses dialog antara ajaran Pasang Ri Kajang dengan kegiatan perencanaan didasari pada pemikiran bahwa tidak efektifnya komunikasi dalam proses perencanaan. Perencana merasa bahwa dengan teknik-teknik yang dimilikinya, mereka mampu memecahkan berbagai masalah karena dapat melihat kerumitan masalah dengan lebih rasional. Sedangkan masyarakat sebagai klien beranggapan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, karena sudah teruji secara alamiah.
Spatial planning today requires the existence of local knowledge, because it actually has a role in the development and significance of the parallels with modern scientific knowledge. The local wisdom is a major source of inspiration for the formation of the spirit and local knowledge (indigenous knowledge), so that local people will have the ability to strengthen adaptation (adaptive capacity) to a variety of changes, both internal and external. Thus local people can develop social institutions that exist to obtain a better life socially, economically, and politically. Cultural values can be placed as one of the driving forces for the advancement of the region, especially in developing capabilities, competencies, and reputation of the region. Mastery of local cultural values can be used as an instrument to create a personality and mental people who always want to keep learning (learning nation). This learning process is important in order to create the competitiveness of a region. Therefore the process of local economic development can not be separated from the improvement of human resources (human capital). The doctrine of Pasang ri Kajang in this study aims to find a message in the form of local knowledge, such the value Kamase-mase were raised about the simplicity and space utilization with the principle of \"moderation\" then a dialogue with the theory of planning that considers aspects of local cultural considerations in planning. The main issue is the basis for understanding the process of dialogue between the doctrine of Pasang Ri Kajang with planning activities based on the premise that there is effective communication in the planning process. Planners felt that by techniques they have, they are able to solve a variety of problems due to can see the complexity of the problem with more rational. While society as a client thinks that experience is the best teacher, because it has been tested by nature.
Kata Kunci : Penataan Ruang, Kearifan Lokal, Kajang, Pasang, Kamasemase