Laporkan Masalah

PELUANG INTENSIFIKASI AGROFORESTRI PEKARANGAN DENGAN INTRODUKSI WIJEN (Sesamun indicum L.) DI KAWASAN PERBUKITAN MENOREH KULON PROGO

JUNAIDAH, Dr. Priyono Suryanto, S.Hut, M.P.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Keberadaan pekarangan mempunyai posisi yang strategis dalam kehidupan dan saat ini sebagai bagian penting dari pohon di luar hutan. Usaha untuk menjaga keberlanjutan dari pekarangan salah satunya melalui intensifikasi. Intensifikasi pekarangan dapat dilakukan melalui introduksi jenis baru potensial, salah satu diantaranya adalah wijen (Sesamun indicum L.). Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh kondisi lingkungan fisik dan kimia agroforestri pekarangan terhadap pertumbuhan, morfologi, fisiologi, produksi dan kualitas hasil wijen, (2) Mengetahui peluang introduksi wijen pada 3 (tiga) tingkat perkembangan agroforestri pekarangan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak tersarang (nested plot sampling). Petak utama terdiri dari 3 (tiga) tingkat perkembangan agroforestri pekarangan yaitu agroforestri pekarangan awal (Is. Naungan = 0-30 %), agroforestri pekarangan menengah (Is. Naungan = 31-60 %) dan agroforestri pekarangan lanjut (Is. Naungan > 60 %). Petak tersarang terdiri dari 3 (tiga) varietas wijen yaitu Sbr 1, Sbr 2 dan Sbr 4. Data hasil pengamatan dan pengukuran dianalisa menggunakan metode regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan adalah intensitas naungan, pH tanah, kandungan N, P dan K tanah. Variabel terikat adalah respon pertumbuhan, morfologi, fisiologi, produksi dan kualitas hasil wijen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum intensitas naungan yang semakin berat menurunkan laju pertumbuhan dan aktivitas fisiologi tanaman sehingga produksi wijen menurun. Secara umum, pH tanah yang cenderung netral dan kandungan N, P serta K tanah yang semakin tinggi (sampai dengan batas tertentu) meningkatkan laju pertumbuhan dan aktivitas fisiologi tanaman sehingga produksi wijen meningkat. Peluang intensifikasi terbesar pada agroforestri pekarangan awal menggunakan wijen Sbr 1 dengan potensi produksi 519,98 kg/ha. Intensifikasi lahan yang bisa dilakukan adalah pemberian bahan organik, pengaturan komposisi jenis dan jarak tanam, dan pemeliharaan yang lebih intensif.

The existence of homegarden has a strategic position in human life and currently is as an important part of trees outside of the forest. One of the efforts to sustain the homegarden is through intensification. The homegarden intensification can be conducted by introducing a new potential species, one of which is sesame (Sesamun indicum L.). This research is aimed at (1) identifying the influence of physical and chemical environmental condition of homegarden agroforestry on the growth, morphology, physiology, production, and quality of the sesame, (2) identifying the opportunity of introducing the sesame on 3 (three) growth levels of the homegarden agroforestry. The experimental design employed a nested plot sampling. The main plot consisted of 3 (three) development levels of homegarden agroforestry, namely early homegarden agroforestry (shading intensity = 0-30 %), intermediate homegarden agroforestry (shading intensity = 31-60 %) and advanced homegarden agroforestry (shading intensity > 60 %). The nested plot consisted of 3 (three) sesame varieties, namely Sbr 1, Sbr 2 and Sbr 4. Data of observation and measurement results were analyzed using multiple regression. The independent variables included shading intensity, soil pH, as well as N, P and K contents of the soil. The dependent variables included growth response, morphology, physiology, production and quality of the sesame. The research results indicate that in general heavier shading intensity reduced the rate of growth and physiological activities of the plant so that the production of the sesame decreased. Generally, the soil pH which tended to be neutral and N,P and K contents of the soil which got higher (until certain limit) increased the rate of growth and physiological activities of the plant so that the production of sesame increased. The biggest opportunity of the intensification was the early homegarden agroforestry by using sesame Sbr1 with the production potency of 519,98 kg/ha. The land could be intensified by giving organic materials, regulating species composition and planting distance, and intensive maintenance.

Kata Kunci : pekarangan, intensifikasi, lingkungan, wijen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.