VARIASI GENETIK PRODUKSI GETAH UJI KETURUNAN Pinus merkusii Jungh. et de Vriese DI KPH BANYUWANGI BARAT DAN KPH SUKABUMI
Rika Rahmawati, Dr. Sapto Indrioko, S.Hut., MP.,
2013 | Tesis | S2 Ilmu KehutananPinus merkusii sebagai pohon yang menghasilkan getah merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang telah diusahakan oleh Perum Perhutani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik dan menaksir parameter genetik produksi getah P. merkusii serta mengetahui interaksi genotipe dan lingkungan famili-famili P. merkusii bergetah banyak. Penelitian dilakukan pada uji keturunan half-sib P. merkusii umur 7 tahun. Uji keturunan menggunakan rancangan Randomized Complete Block Design, dengan 2 sub-galur yaitu sub-galur KBS Jember dan Sulawesi. Variabel yang diukur adalah diameter setinggi dada, tinggi pohon dan rerata produksi getah dari dua pengeboran. Terdapat variasi genetik produksi getah antar famili pada sub-galur KBS Jember dan sub-galur Sulawesi sehingga ada kesempatan untuk melakukan seleksi guna memperoleh peningkatan genetik. Taksiran nilai heritabilitas individu (h 2 i) produksi getah termasuk katagori sedang dan heritabilitas famili (h 2 f) termasuk katagori rendah baik pada sub-galur KBS Jember maupun sub-galur Sulawesi yang mengindikasikan bahwa produksi getah dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Perolehan genetik produksi getah tertinggi adalah dengan seleksi kombinasi famili dan di dalam famili yaitu dapat meningkatkan produksi getah sebesar 11,6% dan 8,1% pada sub-galur KBS Jember dan sub-galur Sulawesi. Korelasi fenotipik produksi getah dengan pertumbuhan bernilai positif tetapi relatif rendah. Korelasi genetik produksi getah dengan diameter pada sub-galur KBS Jember dan sub-galur Sulawesi sebesar (-0,75) dan (-0,95) yang artinya peningkatan produksi getah disertai dengan kecenderungan penurunan diameter, sedangkan produksi getah dengan tinggi sebesar 0,19 dan 0 yang artinya tidak ada hubungan antara produksi getah dan tinggi. Pada sub-galur KBS Jember tidak ada interaksi genotipe dan lingkungan yang mengindikasikan famili-familinya relatif stabil sedangkan pada sub-galur Sulawesi ada interaksi genotipe dan lingkungan yang mengindikasikan tidak semua famili stabil di semua lokasi.
Pinus merkusii is a resin producing tree which has been cultivated by Perum Perhutani (State owned enterprise managing State Forests) as non-timber forest product. The research aimed to assess genetic variations, estimated heritability, genetic gain in resin yield, genetic and phenotypic correlations between resin yield and growth of P. merkusii as well genetic and environment interaction. The study was conducted on half-sib progeny test of 7-year-old P. merkusii plantation, using randomized complete block design by sub-line system (sub-line SSO Jember and Sulawesi). Variables measured were diameter, height and average of resin yield from two drillings using 13 mm drill bit at 100 cm height from the ground. There is resin genetic variation among families on SSO Jember and Sulawesi sub-line, thus, there is opportunity for selection to obtain genetic improvement. Resin estimated value of individual heritability (h 2 i) was categorized medium and family heritability (h 2 f) was categorized low, both in SSO Jember and Sulawesi sub-line, which indicated resin production is influenced by genetic and environmental factors. The highest genetic resin production was obtained by combination selecting family and within family in order to increase the production by 11.6 % and 8.1 % in SSO Jember and Sulawesi sub-line. Phenotypic correlation between resin and growth was positive, eventhough it was relatively low. Genetic correlation between resin with diameter in SSO Jember and Sulawesi sub-line were (-0.75) and (-0.95) indicating the increase of resin production is accompanied by the decrease of diameter, while the correlation between resin with tree height were 0.19 and 0 which showed there is no correlation between them. In SSO Jember sub-line, there was an absence interaction between genotype and environment which indicate relatively stable families. Meanwhile, in Sulawesi sub-line, interaction between genotype and environment existed that indicated not all families are stable.
Kata Kunci : Pinus merkusii, variasi genetik, produksi getah, heritabilitas, korelasi genetik, perolehan genetik harapan, interaksi genotipe lingkungan.