PERAN TOKOH LINTAS AGAMA DALAM MENANGKAL GERAKAN RADIKALISME AGAMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETAHANAN WILAYAH (Studi pada Komunitas Tokoh Lintas Agama di Kota Surakarta)
Laurentius Yananto Andi Prasetyo, Prof. Dr. Kodiran, MA.
2013 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalKota Surakarta yang biasa disebut sebagai kota “sumbu pendek†muncul karena kota ini mempunyai sejarah gerakan radikalisme, aksi kekerasan, tindakan intimidasi dalam berkeyakinan dan aktivitas terorisme sehingga adanya kondisi tersebut menarik untuk disimak, dicermati dan diteliti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan informan para tokoh lintas agama yang ada di Surakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui pengamatan langsung,pengamatan terlibat, wawancara mendalam dan studi literatur. Adapun tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab gerakan radikalisme, merumuskan model peran tokoh lintas agama dan mengetahui implikasi model peran tokoh lintas agama dalam mendukung ketahanan wilayah kota Surakarta. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa faktor-faktor penyebab gerakan radikalisme di kota Surakarta adalah adanya faktor konstelasi politik global, faktor ideologi yang meliputi penafsiran teks keagamaan yang kaku, sikap eksklusivisme, fanatisme agama dan emosi keagamaan, faktor ekonomi yang meliputi kemiskinan, kebodahan dan bentuk ketidakadilan, faktor pembiaran serta faktor psikologis. Berdasarkan faktor penyebab di atas, diperlukan model peran tokoh lintas agama dalam menangkal gerakan radikalisme ini, diantaranya adalah dengan menggelar acara temu tokoh, diskusi publik, sarasehan, mengadakan pelatihan dan pendampingan kepada warga di wilayah rentan konflik, membangun komunikasi lintas agama serta program penguatan ideologi masyarakat yang meliputi kegiatan diantaranya adalah penguatan basis teologi inklusiv-pluralistik, program dakwah kebangsaan, mengadakan kegiatan road show lintas agama, dan membina kerukunan umat beragama. Hasil yang dicapai dari peran tokoh lintas agama ini adalah terbentuknya jaring komunikasi lintas agama, terbangunnya pola kemitraan dengan stakeholder kewilyahan dan dapat memberikan modal ketrampilan dan pengetahuan bagi masyarakat terutama di wilayah rentan konflik sehingga dapat terciptanya ketahanan wilayah kota Surakarta yang dinamis dan kondusif. Kesimpulan akhir dari penelitian ini menyatakan bahwa faktor dominan yang menyebabkan gerakan radikalisme adalah dari faktor ideologi dan sikap pembiaran, sehingga perlu adanya ruang publik sebagai wujud dari jaring komunikasi lintas agama demi terciptanya perdamaian dan ketentraman bagi masyarakat Surakarta.
It has been known that Surakarta town usually called as a „short fuse‟ town because of it has history of radicalism movement, violent action, intimidation action to one‟s faith and terrorism activity, so that the condition is interesting to pay attention, to examine and to research. The research uses descriptive method with interfaith leaders as informants. Data is collected by using direct observation, in-depth interview and literature study. Purposes of the research are to know factors causing radicalism movement, to formulate role model of interfaith figure and to understand implication of interfaith leader‟s role in supporting survival of Surakarta region. Results of the research explained that factors causing radicalism movement in Surakarta town were the presence of global political constellation, ideology factors including rigid interpretation on religious texts, exclusivism attitude, religious fanaticism and emotion, economic factors consisting of poverty, ignorance and injustice forms, permissive factor and psychological factor. Based on causal factors above, so a role model of interfaith leader is needed in order to prevent the radicalism movement. The efforts of the role model can be holding event of leaders meeting, formal public discussion, informal discussion, conducting training and mentoring in conflict-susceptible regions, establishing interfaith communication and a public ideology strengthening program consisting of activities of strengthening the base of inclusive-pluralistic theology, conducting a nationalistic proselytizing program, holding an interfaith road show, and developing a harmony among followers of different religions. Results achieved from role of the interfaith leaders were the establishment of interfaith communication network, the development of partnership pattern with territorial stakeholder and providing skill and knowledge to communities, especially in conflict-susceptible region in order to establish the territorial resilience of dynamic and conducive Surakarta town. The research concluded that dominant factors causing radicalism movements were ideology factor and permissive attitude so that a public space is necessary as a manifestation of interfaith communication network in attempts of creating peaceful and tranquility condition for people of Surakarta.
Kata Kunci : Radikalisme, model peran tokoh lintas agama, ketahanan wilayah