Laporkan Masalah

Pengaruh Edukasi Perseorangan oleh Farmasis terhadap Kepatuhan dan Kepuasan Pasien Rawat Jalan dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

Retno Muliawati, Dra Tri Murti Andayani, Sp.FRS., PhD., Apt

2013 | Tesis | S2 Mag.Farmasi Klinik

Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang memerlukan perawatan medis berkelanjutan, pendidikan pengelolaan mandiri, serta dukungan untuk mencegah komplikasi akut dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Keterlibatan farmasis dalam edukasi perawatan mandiri penting untuk membantu pasien memahami penyakitnya serta dapat menggunakan dan mengelola obat secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi farmasis terhadap parameter kepuasan terapi, kepatuhan penggunaan obat, serta kontrol glikemik. Pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah penderita diabetes melitus tipe 2 yang datang ke poli rawat jalan RSUP Dr Sardjito, mendapat terapi insulin dengan atau tanpa obat diabetes oral, mempunyai kadar HbA1c berkisar antara 7%≤HbA1c<10%. Kelompok intervensi (n=32) dibandingkan dengan kelompok kontrol (n=29) untuk mengukur parameter kepuasan terapi insulin menggunakan kuesioner Patient Satisfaction with Insulin Therapy (PSIT), kepatuhan penggunaan obat menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), serta kontrol glikemik yang dilihat dari kadar HbA1c. Pengukuran parameter dilakukan sebelum dan tiga bulan setelah edukasi. Permasalahan berkaitan dengan teknik injeksi, penyimpanan insulin dan waktu mengkonsumsi acarbose ditemui saat dilakukan penilaian pengetahuan pasien tentang obat yang merupakan bagian dari langkah edukasi. Kepuasan terapi insulin pada kelompok intervensi berbeda secara bermakna dengan kelompok kontrol p<0,05 (CI 95%, 3,180–7,397), demikian pula pada hasil pengukuran kepatuhan penggunaan obat p<0,05 (CI 95%, 0,611–1,995). Kepuasan terapi insulin berhubungan dengan kepatuhan penggunaan obat (CI 95%, p<0,05), tidak terdapat perubahan kadar HbA1c pre dan post edukasi baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol (CI 95%, p>0,05). Edukasi farmasis yang dilakukan satu kali disertai pemberian booklet telah dapat meningkatkan kepuasan terapi insulin serta kepatuhan penggunaan obat, namun belum dapat memperbaiki kontrol glikemik. Kepuasan terapi insulin berhubungan dengan kepatuhan penggunaan obat. Diperlukan edukasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk dapat mencapai target kontrol glikemik.

Diabetes mellitus is a chronic disease that requires continuing medical care, ongoing patient self-management education, and support to prevent acute complications and to reduce the risk of long-term complications. Pharmacist involvement in self-care education is important to help patients understanding their disease and be able to manage and take the medicines appropriately. This study aimed to determine the effect of pharmacist education on treatment satisfaction parameters, medication adherence, and glycemic control. Patients included in this study were those with type 2 diabetes mellitus who came as an outpatient in Sardjito hospital, receiving insulin therapy with or without other diabetes medicines, and with HbA1c range between 7≤HbA1c<10. The intervention group (n=32) compared with the control group (n=29) to measure the satisfaction index using Patient Satisfaction with Insulin Therapy (PSIT) questionnaires, medication adherence using Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaires, and glycemic control measured in the levels of HbA1c. Parameter measurements performed before and three months after the education. Problems related to the injection technique, insulin storage and time consuming acarbose encountered when assessing patients' knowledge about drugs that are part of the educational steps. In the intervention group, insulin therapy satisfaction is significantly different from the control group p <0.05 (95% CI, 3.180 to 7.397), as well as on the results of medication adherence p <0.05 (95% CI, 0.611 to 1.995). Patient satisfaction on insulin therapy associated with medication adherence (95% CI, p<0.05). However, HbA1c levels before and after the intervention did not differ significantly both in the intervention group and the control group (CI 95%, p> 0.05). Education by pharmacists which was done once with booklet given to the patient has been able to improve the satisfaction of insulin therapy and medication adherence, but has not been able to improve glycemic control. Insulin therapy satisfaction associated with medication adherence. A systematic and continuous education is required to achieve the target of glycemic control.

Kata Kunci : Edukasi oleh farmasis, diabetes melitus tipe 2, kepuasan terapi insulin, kepatuhan penggunaan obat, kontrol glikemik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.