KORELASI ANTARA SKOR SIMTOM DEPRESI DAN KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN PADA USIA LANJUT DI PANTI WREDHA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
AHMAD SYAHRI, dr. Agus Siswanto, SpPD-KPsi.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Penyakit DalamLatar belakang: Di Indonesia, populasi lanjut usia diperkirakan pada 2020 akan menjadi nomer 4 paling tinggi di dunia setelah Cina, India dan USA. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki prosentase tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 13,72%. Depresi dapat meningkatkan risiko mortalitas, disabilitas fisik dan motivasi beraktifitas. Tes kekuatan genggaman tangan merupakan metode pemeriksaan yang valid, konsisten dan sederhana untuk menilai kekuatan otot, kekuatan genggaman yang rendah dikatakan dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada lanjut usia. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi simtom depresi dengan kekuatan genggaman pada populasi lanjut usia di panti wredha propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian: Penelitian potong lintang dilakukan pada Oktober 2010 pada penghuni panti wredha. Depresi dinilai dengan Geriatric Depresion Scale 30 item Cronbach’s alpha 0,88. Kekuatan genggaman diukur dengan handgrip dynamometer. Data umur, pendidikan, jenis kelamin dikumpulkan dengan kuisioner. Dilakukan uji statistik untuk menilai korelasi simtom depresi dan kekuatan genggaman. Hasil: Rerata usia subjek adalah 73,84±8,36 tahun dengan 36 subjek (35,3%) berusia antara 60-69 tahun dan 66 subjek (64,7%) berusia diatas 70 tahun. Pria 33 orang (32,4%) dan wanita 69 orang (67,6%). Skor GDS rerata adalah 12,76 + 3,22. Kekuatan genggaman kelompok depresi 16,94±6.96 kg, lebih tinggi dibanding kelompok non depresi 15,23±6,79. Didapatkan korelasi antara derajat simtom depresi dengan kekuatan genggaman dengan r= 0,235 (korelasi lemah) bermakna signifikan secara statistik p= 0,017. Simpulan: Terdapat korelasi antara beratnya skor simtom depresi dengan kekuatan genggaman pada lanjut usia di panti wredha propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Background: By the year of 2020, the elderly population in Indonesia will be expected the fourth highest number in the world after China, India and the USA. Special Region of Yogyakarta in Indonesia has the highest percentage that is equal to 13.72%. Depression may increase the risk of mortality, disability and physical activity motivation. Hand grip strength test is a valid method of examination, consistent and simple to assess muscle strength, and low grip strength can increase mortality and morbidity in the elderly. Objective: This study aimed to assess correlation between depressive symptoms and grip strength in the elderly population in nursing homes at province of Yogyakarta. Methods: A cross-sectional study was conducted in October 2010 at the nursing home residents. Depression was assessed by the Geriatric Depression Scale 30 Cronbach’s alpha 0,88. Handgrip strength was measured with a handgrip dynamometer. Data of age, education, gender was collected by questionnaire. We performed statistical tests to assess the correlation of symptoms of depression and grip strength. Results: The mean age of subjects was 73.84 ± 8.36 years with 36 subjects (35.3%) were between 60-69 years and 66 subjects (64.7%) were over 70 years. There were 33 men (32.4%) and 69 women (67.6%). Mean GDS score was 12.76 ± 3.22. Handgrip strength in the depression group 16.94 ± 6.96 kg, higher than the non-depressed group 15.23 ± 6.79. There is correlation between severity of depression symptom with handgrip strength with r = 0.235 (weak correlation) and significant by statistically p = 0.017. Conclusion: The severity of depressive symptom scores it was correlated significantly to the handgrip strength in elderly nursing homes in the province of Yogyakarta.
Kata Kunci : lanjut usia, panti wredha, depresi, kekuatan genggaman