PENGARUH KEBERADAAN KAMPUS TERPADU UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG (UBB) TERHADAP HARGA DAN NILAI TANAH DI DESA BALUNIJUK, KABUPATEN BANGKA
Dese Eitiwan Regune, Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahInvestasi infrastruktur pendidikan di wilayah pinggir kota merupakan salah satu cara untuk mengembangkan wilayah sekitarnya. Desa Balunijuk merupakan salah satu desa yang masyarakatnya hidup dari perkebunan, bukan dari pertambangan seperti sebagian besar desa di Kabupaten Bangka. Sehingga desa ini termasuk desa yang tanahnya tidak banyak permintaan dan penawaran (transaksi jual beli). Pada tahun 2005, desa ini ditetapkan sebagai lokasi kampus terpadu UBB dan mulai banyak permintaan dan penawaran tanah yang berlokasi di desa ini. Penelitian ini bertujuan untuk menguji harga dan nilai tanah sebelum dan sesudah ada kampus terpadu UBB Penelitian ini adalah penelitian deduktif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data diperoleh dari kuisioner, wawancara dan observasi. Data yang didapat, diolah dan dianalisa dengan statistik parametrik menggunakan uji hipotesis beda dua mean dan diperkuat dengan petikan wawancara, grafik dan photo. Hasil pengujian menggunakan uji hipotesis beda dua mean (compare two means hypotesis) terhadap harga dan nilai tanah diperoleh nilai Z sebesar 16,66 dan 6,232. Hal ini berarti ada perbedaan rata-rata harga tanah dan nilai tanah sebelum dan sesudah ada lokasi kampus terpadu UBB. Perbedaan harga dan nilai tanah sebelum dan sesudah ada lokasi kampus terjadi di semua persil tanah yang ada di Desa Balunijuk dengan harga tanah tertinggi di Dusun I (lokasi kampus terpadu UBB), kemudian diikuti oleh Dusun II (bersebelahan langsung dengan Dusun I) dan kemudian Dusun III. Lokasi kampus ini juga mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan kepemilikan hak atas tanah mereka walaupun sebagian besar baru tercatat di kantor camat dan hanya sebagian kecil yang terdaftar di BPN.
Investment of education infrastructure in the suburban area is one way to develop the surrounding area. Balunijuk village is one of the villages where the community live from plantation, not from mining like most of others villages in Bangka Regency. Therefore, the land in this village is not much of demand and supply (sale and purchase transaction). By 2005, this village is a location of UBB’s integrated campus and then emerging land market mechanism. This study was aimed to test changes land price and value before and after of UBB’s integrated campus. This study used a deductive method with quantitative and qualitative approaches by questionnaires, interviews, and observation. The data were obtained, processed and analyzed using parametric statistics by comparing two mean hypothesis test and reinforced with interview excerpts, graphs, and pictures. The results of comparison of two mean hypothesis test to land price acquired Z value were 16.66 and 6.232. This means that there are differences in the average land price before and after of UBB’s integrated campus. The difference land price and value occured all of land parcels in the Balunijuk Village with the highest price and highest and best use in Subvillage I (locations UBB’s integrated campus), followed by Subvillage II (immediately adjacent to the Subvillage I) and later Subvillage III. The campus location also affects community's awareness to register their ownership of land rights, although the majority of them just registered at the district office, and only a small percentage registered at BPN.
Kata Kunci : harga tanah, nilai tanah, kampus, deduktif