PERANCANGAN LABORATORIUM CAMPURAN SPLIT MASTIC ASPHALT DENGAN MENGGUNAKAN BUTON NATURAL ASPHALT BLEND 75:25
Krisma Perwita Sari, Dr. Ir. Latif Budi Suparma
2013 | Tesis | S2 Mag. S. & T.TransportasiDinas Pertambangan Propinsi Sulawesi Tenggara (2007) memperkirakan cadangan Aspal Buton yaitu sebesar 670 juta ton dalam bentuk asal (native) atau dalam bentuk bitumen sebesar 163,9 juta ton. Padahal kontribusi aspal Buton hanya sekitar 4,5% dari total pasokan material aspal untuk perkerasan jalan pada tahun 2011 sebesar 890.000 ton. Hal kontradiktif tersebut mendasari peneltian ini sehingga harapannya aspal Buton menjadi lebih popular dengan didukung hasil penelitian bahwa aspal Buton dapat memberi nilai positif pada campuran perkerasan lentur. Pemilihan jenis campuran SMA yaitu dengan alasan bahwa jenis aspal BNA Blend 75:25 mempunyai nilai penetrasi yang lebih rendah dan titik lembek yang lebih tinggi dibanding Aspal Minyak AC 60/70 sehingga diharapkan mastic sebagai kunci kekuatan pada campuran SMA memberi hasil yang optimal. Perancangan laboratorium campuran SMA dengan menggunakan bahan ikat aspal BNA Blend 75:25 dilakukan untuk mengetahui karakteristik campurannya kemudian dibandingkan dengan campuran kontrol menggunakan dengan metode Marshall. Karakteristik desain Marshall dan ITS menjadi batasan dan memberi gambaran pada nilai volumetrik dan kekuatan Marshall dan durabilitas hasil dari mix design SMA tersebut. Perancangan laboratorium campuran SMA dengan menggunakan BNA Blend 75:25 menghasilkan kadar aspal optimum sebesar 6,7% dengan karakteristik volumetrik berupa densitas campuran, nilai VMA, VFWA, VITM, stabilitas Marshall, flow, Marshall Quotient (MQ), indeks stabiltas Marshall sisa dan Tensile Strength Ratio (TSR) secara berurutan sebesar 2,39 gr/cm3; 16,59%; 79,19%; 3,49%; 1.646,37 kg; 4,4 mm; 342,99 kg/mm; 88,33% dan 92,90%. Karakteristik campuran I dengan KAO sebesar 6,7% menunjukkan nilai yang lebih baik dibanding campuran II serta campuran kontrol (campuran III) dengan KAO masing-masing sebesar 7,5% dan 7,0%. Nilai kepadatan dan VMA pada campuran I yang lebih tinggi dibandingkan kedua campuran lainnya. Nilai VITM terendah dicapai oleh campuran I, mengindikasikan bahwa campuran I lebih kedap air dibanding campuran II dan III. Nilai stabilitas Marshall tertinggi dicapai oleh campuran I. Nilai flow dan MQ campuran I juga menunjukkan hal yang lebih baik dibanding campuran II dan III sebagai indikasi terhadap perkerasan dengan kekakuan yang cukup.
The deposit of the Buton Asphalt has been estimated by Dinas Pertambangan in Sulawesi Tenggara (2007) is about 670 milion ton and as a native or a bitumen is about 163,9 milion ton. Whereas in 2011, the Buton Asphalt only 4,5% contribute in the whole of using asphalt in Indonesia’s pavement. There’s a gap between supply and demand by using Buton Asphalt in the pavement and for that reason, this research is conducted. SMA mix design has been choose in this research because of It has lower penetration value and higher softening point than Pertamina AC Pen 60/70 as an asphalt control. Greater characteristic showed by BNA Blend 75:25 than asphalt control will be expected as a better in Marshall characteristic. This research conducted to determine the characteristics of the mixture and then compared with a control mixture using the Marshall method. It gives an overview on the value of volumetric and tensile strength of the specimen. Laboratory mix design of SMA using BNA Blend 75:25 produces optimum asphalt content of 6,7% with a volumetric characteristic consist of density, VMA, VFWA, VITM, Marshall stability, flow, Marshall quotient (MQ), Retained Marshall Stability (RMS) and Tensile Strenght Ratio of 2,39 gr/cm3; 16,59%; 79,19%; 3,49%; 1.646,37 kg; 4,4 mm; 342,99 kg/mm; 88,33% and 92,90% respectively. Characteristics mix design of SMA using BNA Blend 75:25 without CF 31500 as additive (mixture I) which has an optimum asphalt content at 6,7% shows better value than mix design of SMA using BNA BNA Blend 75:25 with CF 31500 (mixture II) and a mixture using Pertamina AC 60/70 with optimum asphalt content 7,0% and 7,5% respectively. The density and VMA of mixture I higher than the other two mixtures. Mixture I has the lowest value, indicating that mixture I more water resistant than mmixture II and III. The highest Marshall stability is mixture I. Flow and MQ of mixture I also showed it better than the mixture II and III as an indication of the pavement has sufficient rigidity.
Kata Kunci : Split mastic asphalt (SMA), Aspal buton, BNA Blend 75:25