Laporkan Masalah

Determination of Suitable Groundwater Quality for Agriculture by Using GIS Application, Bantul Regency, Yogyakarta Special Province, Indonesia

CHHUON KONG, Dr. Ir. Heru Hendrayana

2013 | Tesis | S2 Teknik Geologi

Dalam rangka untuk mengevaluasi kualitas airtanah untuk keperluan irigasi di wilayah Bantul yang terletak di Cekungan Airtanah Yogyakarta-Sleman, terdapat 47 titik data yang digunakan untuk melengkapi hasil analisis dari 30 sampel airtanah yang dikumpulkan dari sumur gali dan bor di berbagai lokasi daerah penelitian. ECw, TDS, pH dan kation: Na+, Ca2+, Mg2+, K+, dan anion: Cl-, HCO3 -, SO4 2-, NO3 - dianalisis dari sampel airtanah. Kecenderungan relatif ion di epm menunjukkan Ca2+>K+>Na+> Mg2+ dan HCO3 ->Cl->SO4 2-. Variasi komposisi airtanah menggunakan unsur rasio molar Mg/Ca vs Na/Ca menunjukkan airtanah berhubungan erat dengan batuan silikat dan dipengaruhi batuan karbonat klastik. Salinitas yang lebih tinggi di sebelah barat Bantul, menunjukkan bahwa kualitas airtanah dikendalikan oleh batuan karbonat klastik dari Perbukitan Sentolo. Sampel airtanah jatuh pada kelas I, sehingga bahwa airtanah baik dan cocok untuk irigasi berdasarkan klasifikasi Indeks Permeabilitas Doneen, dan sebanyak 78,37% sampel berkategori sangat baik melalui klasifikasi Wilcox berdasarkan Persentase Sodium (Na%). Menurut nilai Rasio Sodium Adsorpsi (SAR) dalam diagram USSL, sebagian besar sampel airtanah memiliki kelas C2-S1 dan C2-S2, menunjukkan air bersalinitas menengah dan bersodium rendah yang dapat digunakan untuk irigasi dengan sedikit bahaya. Salinitas adalah masalah utama yang memiliki sedikit sampai sedang pembatasan pada tanaman produktivitas pertanian di daerah ini. Peta ECw menunjukkan kualitas airtanah yang baik untuk pertanian di bagian tengah sampai timur dari daerah studi yang dengan dekat Sungai Opak, sedangkan di bagian barat mempengaruhi air irigasi, tetapi tidak mengurangi produktivitas tanaman padi. Kesesuaian kualitas airtanah untuk pertanian ditentukan oleh peta tematik yang dihasilkan dari Spatial Analyst ArcGIS berdasarkan pedoman FAO. Sedikit sampai sedang pembatasan pada tanaman sensitif menunjukkan potensi hasil yang berbeda di lahan pertanian di mana 100%, 90% dan 75% dari potensi hasil secara berurutan sesuai dengan sekitar 2.727,90 ha, 735,49 ha dan 208,98 ha dari daerah penelitian.

In order to evaluate groundwater quality for irrigation purpose within Bantul area situated on Yogyakarta-Sleman Groundwater Basin, 47 existing data points were used complementary with the results of analysis from 30 groundwater samples which were collected from dug and tub wells in various locations of study area. ECw, TDS, pH and cations: Na+, Ca2+, Mg2+, K+, and anions: Cl-, HCO3 -, SO4 2-, NO3 - were analyzed. The relative tendency of ion in epm shows Ca2+>K+>Na+>Mg2+ and HCO3 ->Cl->SO4 2-. Variations in groundwater composition using Mg/Ca vs. Na/Ca in molar ratio, indicates groundwater is close to silicate rock with influence of clastic carbonate rock. Higher salinity approach to the west of the Bantul, indicates that groundwater quality is controlled by clastic carbonate rock of Sentolo Hills. Groundwater samples fall under class I suggested that groundwater is good and suitable for irrigation based on Doneen’s classification of Permeability Index and 78.37% is in excellent category by Wilcox classification on Sodium Percentage (Na%). According to the Sodium Adsorption Ratio (SAR) values plotted in the USSL diagram, the majority of the groundwater samples belong to C2-S1 and C2-S2 class, indicating medium salinity and low sodium water which can be used for irrigation with little danger. Salinity is the significant problem has slight to moderate restriction on crops productivities in this area. The ECw map indicates good groundwater quality for crops is at the middle to the east of study area close to Opak River, while at the western effects irrigation water but no reduction on rice productivity. The suitability of groundwater quality for agriculture is determined by thematic maps produced from ArcGIS Spatial Analyst based on FAO guideline. The slight to moderate restriction on sensitive crops indicating with different yield potential in the agricultural land in which 100%, 90% and 75% of yield potential correspond to about 2727.90 ha, 735.49 ha and 208.98 ha of the study area respectively.

Kata Kunci : Kualitas airtanah irigasi, total padatan terlarut (TDS), konduktivitas kelistrikan (EC), Spatial Analyst ArcGIS, pedoman FAO, potensi hasil


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.