KEBERMAKNAAN HIDUP WARGA BINAAN LANJUT USIA : SUATU STUDI KASUS DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA YOGYAKARTA
Sekar Kawuri, Prof. Dr. Endang Ekowarni
2013 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiMasa tua merupakan masa untuk memeriksa dan menilai kembali apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, serta pencapaian apa saja yang telah diraihnya dalam rangka memperoleh makna hidup. Saat ini terdapat individu yang melewati masa tuanya (lansia) dengan menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami secara mendalam bagaimana warga binaan lansia memaknai hidupnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi kepada dua orang warga binaan lansia. Data kemudian diberi koding dan diolah sehingga ditemukan tema-tema yang spesifik. Temuan dalam penelitian ini adalah hidup dalam lapas dimaknai sebagai penderitaan. Subjek pertama dapat menerima hukumannya sehingga ia dapat melihat hikmah dibalik penderitaan yang dialami dirinya. Hikmah dari menjalani masa hukumannya ialah bahwa subjek pertama mendapatkan waktu untuk memperdalam ilmu agama. Lewat penghayatan nilai-nilai agama inilah ia berhasil menemukan makna hidupnya. Sedangkan subjek kedua tidak dapat menerima hukumannya dan tidak dapat melihat hikmah dibalik penderitaan yang dialaminya. Subjek kedua hanya berfokus pada penderitaannya sehingga tidak mampu mencapai makna dalam hidupnya.
Old age is a time to examine and evaluate one‟s life and accomplishments in order to try and find the meaning of one‟s life. Nowdays, there are elderly who passed their life in prison. The aim of this research is to figure out the meaning of elderly inmate‟s life. Qualitative methode with case study approach were applied. Data was collected through depth interview and observation with two eldery inmates. Data were then given coding and processed to find specific themes. This research showed that the eldery inmates defined as living in a prison of suffering. The first subject received his sentence so that he could see the wisdom behind the suffering itself. By serving his sentence, the first subject could get time to deepen religious knowledge. Through full religious comprehension he managed to find the meaning of his life. While the other subject can not accept his punishment and can not see the wisdom behind the agony. The second subject is only focusing on the suffering that can not reach meaning in his life.
Kata Kunci : warga binaan, lansia, makna hidup