PENGARUH KADAR BA DAN 2.4-D TERHADAP VARIASI SOMAKLONAL KULTUR TUNAS BAWANG MERAH (Allium cepa L. Kelompok Agregatum) DAN BAWANG WAKEGI (Allium x wakegi Araki)
KRISNA DHARMAYANTI, Dr. Ir. Endang Sulistyaningsih, M.Sc.
2013 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMANBawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum, 2n = 16, AA) dan bawang wakegi (Allium x wakegi Araki, 2n = 16, AF) merupakan jenis komoditas sayuran unggulan di Indonesia yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Bawang merah dan bawang wakegi pada umumnya diperbanyak secara vegetatif melalui umbi. Perbanyakan melalui umbi pada varietas yang sama dalam jangka waktu yang lama dapat menurunkan produktivitas tanaman dan keragaman genetik, apalagi bawang wakegi yang tidak dapat berbunga sehingga penurunan keragaman genetik akan lebih cepat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan keragaman genetik pada tanaman bawang merah (Philip, Tiron, dan Biru) dan bawang wakegi (Palasa dan Palu) melalui variasi somaklonal menggunakan kombinasi zat pengatur tumbuh BA dan 2,4-D (ppm): (0-0, 2-2, 2-4, 4-2, dan 4-4) dengan kultur tunas. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan Februari 2012 hingga November 2012. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial dengan perlakuan kultivar dan kombinasi zat pengatur tumbuh. Variasi somaklonal terlihat dari terbentuknya kalus dan pengamatan penambahan jumlah kromosom dari status diploid (2n=16). Pengamatan pendukung berupa pertumbuhan dan perkembangan eksplan selama inkubasi yang meliputi penampakan visual, jumlah tunas, jumlah daun, warna daun, dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh BA dan 2,4-D dapat menghasilkan variasi somaklonal yang teridentifikasi melalui jumlah kromosom pada tahap kalus. Variasi somaklonal bawang merah menghasilkan kalus trisomik (2n = 16+1) pada perlakuan Tiron 4ppm BA+ 2ppm 2,4-D dan Biru 4ppm BA+4ppm 2,4-D. Tetrasomik (2n = 16+2) pada perlakuan Philip 2ppm BA+ 2ppm 2,4-D dan Tiron 4ppm BA+ 4ppm 2,4-D. Triploid (2n = 24) pada perlakuan Philip 2ppm BA+2ppm 2,4-D. Kalus bawang wakegi tidak menghasilkan variasi somaklonal. Pertumbuhan eksplan tidak berkalus tidak mengalami variasi somaklonal.
Shallot (Allium cepa L. Aggregatum group, 2n = 16, AA) and wakegi onion (Allium x wakegi Araki, 2n = 16, AF) are vegetable crops in Indonesia which has long been intensively cultivated by farmers. Shallot and wakegi onion are generally propagated vegetatively by bulbs. Propagation by bulb in the same variety in a long term can reduce crop productivity and genetic diversity, moreover wakegi onion can not produce flower. Therefore, the reduction of genetic diversity will be high. The aims of the research were to increase diversity of shallot (Philip, Tiron, and Biru) and wakegi onion (Palasa and Palu) crops through somaclonal variation in a combination of BA and 2,4-D (ppm): (0-0, 2-2, 2-4, 4-2, and 4-4) by shoot culture. The research was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University in February 2012 to November 2012. Completely randomized block design with a factorial treatment combinations of cultivars and growth regulators was used. Somaclonal variation can be found from the observation of callus and increasing the number of chromosomes from diploid status (2n = 16). Observations support of the growth and development of explants during incubation includes number of shoots, number of leaves, leaf color, and the number of roots. The results showed that the treatment combination of BA and 2,4-D induced somaclonal variations through the changing of chromosomes number in callus stage. Somaclonal variations in shallot were trisomic, tetrasomic, and triploid cells from callus. The trisomic (2n = 16 +1) was in the treatment of Tiron 4ppm BA 2,4-D + 2ppm and 4ppm Biru BA +4 ppm 2,4-D. Tetrasomic (2n = 16 +2) was in the treatment of BA + 2ppm Philip 2ppm 2,4-D and BA 4ppm Tiron 4ppm + 2,4-D. The triploid (2n = 24) was in the treatment of Philip 2ppm BA +2 ppm 2,4-D. Somaclonal variations were not identified in wakegi onion callus. The explants without callus development were not identified somaclonal variation.
Kata Kunci : variasi somaklonal, 2,4-D, BA