PENGARUH TATA LETAK BANGUNAN TERHADAP GAYA GELOMBANG TSUNAMI
Benazir, Prof. Ir. Radianta Triatmadja, Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilDewasa ini ancaman tsunami telah menjadi aspek penting dalam keamanan kawasan pesisir Indonesia. Bencana tsunami di Samudra Hindian tahun 2004 telah menyebabkan kerusakan pada bangunan dan kehilangan nyawa bagi manusia dalam skala besar di beberapa negara Asia Tenggara. Aceh menderita kerugian terbesar dalam hal kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Peristiwa ini telah menjadikan Aceh sebagai wilayah yang rentan terhadap tsunami. Setelah kejadian tsunami pada 26 Desember 2004, Aceh kembali diporak-poranda oleh tsunami di Pulau Simeulue dan Nias pada 26 Maret 2005. Ancaman tsunami kembali terjadi ketika gempa berkekuatan lebih dari 8 Skala Richter mengguncang Aceh pada 11 April 2012 yang mengakibatkan surutnya air laut di Pantai Ulee Lheue Banda Aceh. Meskipun kejadian tersebut tidak sampai mendatangkan tsunami tetapi telah membuat masyarakat Aceh lebih waspada dan belajar bagaimana mempersiapkan diri terhadap bencana tsunami. Setelah Tsunami 2004 di Aceh, perumahan dan infrastruktur penunjang lainnya kembali direhabilitasi dan direkonstruksi oleh pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Non- Governmental Organization (NGO). Bangunan-bangunan baru tersebut didirikan di sekitar zona sempadan pantai di mana terbuka langsung ke lautan dan berpotensi kembali hancur jika tsunami terulang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya tsunami pada bangunan dengan berbeda tinggi struktur dan efek dari bangunan lain di dekatnya. Penelitian ini dilakukan secara simulasi fisik di Laboratorium Hidraulik dan Hidrologi, Pusat Studi Ilmu Teknik, Universitas Gadjah Mada Indonesia. Simulasi model fisik dilakukan di flume gelombang dengan panjang 24.00 m, lebar 1.45 m, dan tinggi 1.50 m yang difasilitasi dengan pembangkit tsunami berbasis dam break. Model bangunan yang terbuat dari plywood dan ditempatkan searah lebar flume. Jarak antara bangunan (celah) divariasikan untuk melihat pengaruh adanya gap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya tsunami lebih besar terjadi bangunan tinggi di mana dipengaruhi oleh projected area yang besar. Berdasarkan aplikasi formula ð¹ = 12ðœŒð‘” ( (ð¹ð‘Ÿ1+22)2ð»1)2, gaya menjadi lebih besar 69% daripada pada bangunan rendah. Gaya tsunami juga tergantung pada gap antara bangunannya, semakin sempit gap maka semakin besar gaya yang terjadi. Sebuah formula diusulkan untuk memprediksikan gaya tsunami pada deretan bangunan yang dipisahkan oleh gap, yaitu ð¹ = ð¶ð‘“ð‘”ðœŒð‘ˆ2(ð´ð´â€²)0.534ðºâˆ’0.136 (nilai Cfg adalah 1.05 untuk overtopping building dan 1.59 untuk non-overtopping building).
Today tsunami hazard has become an important aspect in national security of coastal area of Indonesia. Tsunami disaster in the Indian Ocean 2004 has caused a lot of buildings damaged and probably the greatest loss of lives ever due to tsunami. Aceh district suffered the greatest losses in terms of damage to infrastructures and loss of lives. The incident has made Aceh realized that they too are vulnerable to tsunami. After the tsunami of 26 December 2004, Aceh once again struck by a tsunami in the area of Simeulue and Nias Islands on 26 March 2005. Yet another potential earthquake generated tsunami measuring over 8 on the Richter Scale occurred in Aceh on 11 April 2012 which resulted in a low tide in Ulee Lheue Beach Banda Aceh. Although the earthquake did not generate tsunami, it has made Acehnese more alert and learned how to prepare against such horrible hazard. After The Indian Ocean Tsunami 2004 in Aceh, houses and other buildings were reconstructed by government, LSM, and Non-Governmental Organization (NGO). The new buildings near the coast line are open directly to tsunami attack. This research aims to analyze the tsunami force on buildings of different types, and the effect of other buildings nearby. The research was conducted using physical model at the Hydraulic and Hydrology Laboratory, Research Centre for Engineering Science, Gadjah Mada University Indonesia. The physical model simulations were carried out in a wave flume of 24 m long, 1.45 m wide, and 1.5 m high, that was facilitated with tsunami generator based on dam break system. The building models were made of plywood and were placed in a row perpendicular to the flume. The distance between the buildings was varied to observe the effect of the gaps. The result shows that tsunami force is greater on high building due to larger projected area exposed to tsunami. Based on the application of a new formula obtained from the research ð¹ = 1 2 ðœŒð‘” ( (ð¹ð‘Ÿ1+22)2ð»1)2, the force on high building is 69% greater than on the low building. Tsunami force also depends on the gap between buildings. The narrower is gap the greater is the force. A new formula is proposed to predict tsunami force on row of group buildings separated by gaps, that is ð¹ =ð¶ð‘“ð‘”ðœŒð‘ˆ2(ð´ð´â€²)0.534ðºâˆ’0.136 (the value of Cfg is 1.05 for overtopping building and 1.59 for non-overtopping building).
Kata Kunci : tsunami, bangunan, gaya, gap, simulasi