PENGHIDUPAN PELAKU USAHA PARIWISATA PASCA ERUPSI GUNUNG MERAPI TAHUN 2010 PENDUDUK DESA HARGOBINANGUN, KECAMATAN PAKEM, KABUPATEN SLEMAN
AMI MARDOTILLAH, Drs. Sujali, M.S.
2013 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAHStrategi dibutuhkan untuk bertahan hidup. Penduduk Desa Hargobinangun memiliki penghidupan yang bervariasi di sektor jasa pariwisata, yaitu Usaha penginapan, Usaha Jeep wisata, Usaha kios atau warung makan, dan pedagang kaki lima. Kondisi sosial ekonomi masyarakat pelaku usaha pariwisata mengalami guncangan pasca erupsi Merapi 2010. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasi modal penghidupan sesudah erupsi tahun 2010, 2. Mengetahui strategi bertahan hidup dan meneruskan usaha pasca erupsi tahun 2010. Untuk menjelaskan tujuan, peneliti mengggunakan metode kualitatif. Data utama yang digunakan adalah data primer hasil indepth interview yang diperoleh dari responden, yaitu pelaku usaha wisata di tiga dusun daerah penelitian. Responden dipilih menggunakan metode Purposive Sampling. Data yang terkumpul akan di lakukan analisis deskriptif, dan dalam pembahasan dibantu menggunakan tabel frekuensi dan gambar. Hasil penelitian menunjukan bahwa 95% warga pelaku usaha pariwisata melanjutkan usahanya di sektor pariwisata. Modal penghidupan yang digunakan adalah modal alam, modal manusia, modal finansial, modal sosial, dan modal fisik. Modal penghidupan yang terkena dampak negatif paling besar adalah modal finansial. Satu tahun pasca erupsi, kegiatan wisata di Desa Hargobinangun tidak stabil, jumlah wisatawan yang berkunjung turun secara drastis, dan membuat pendapatan warga menjadi tidak menentu. Strategi penghidupan yang digunakan oleh warga meliputi, strategi mencari modal, strategi menarik perhatian, dan strategi meningkatkan kualitas. Strategi yang banyak dipilih oleh warga untuk bertahan hidup adalah menabung dan hidup hemat, serta mencari informasi mengenai keadaan lingkungan mereka, dan melakukan inovasi di bidang usaha yang mereka jalankan. Untuk melanjutkan usaha, warga menggunakan dana pribadi serta meminjam ke koperasi dan Bank. Salah satu strategi pemilik penginapan dan pemilik jeep wisata untuk meningkatkan kualitas diri adalah dengan mengikuti organisasi kepariwisataan.
Strategy is needed to survive. Hargobinangun resident have varied livelihood in the tourism service sector, that is accomodation business, Jeep tours, food stalls and street vendors. Socio-economic conditions of the community tourism businesses suffered shock after the eruption of Merapi in 2010. This research aims to: 1. Identify livelihood capital after the eruption in 2010, 2. Knowing strategies to survive and carry on the business after the eruption in 2010. To explain the purpose, researchers use qualitative methods. The main data used are primary data obtained from the in-depth interview respondents, the business tourism in three village areas of research. Respondents were selected using purposive sampling method. The collected data will be made descriptive analysis, and assisted in the discussion using frequency tables and images. The results showed that 95% of people in tourism businesses continue their business in the tourism sector. Livelihood capital used are natural capital, human capital, financial capital, social capital, and physical capital. Livelihood Capital are most negatively affected is financial capital. A year after the eruption, tourism activity was unstable, the number of tourists who visit come down drastically, and made their income unstable too. Livelihood strategies used by residents include, strategy for capital, attention strategy, and strategy to improve the quality. Strategy that has been chosen by the people to survive is saving and live frugally, as well as find information about the state of their environment, and to innovate in the field of business they run. To continued their business, as well as residents use private funds to cooperatives and bank borrowing. One of the accomodation and jeep tourism owners strategy is going into an organization of tourism to get high theirself quality.
Kata Kunci : Penghidupan, Modal penghidupan, Usaha pariwisata, Strategi