Deskripsi tata fisik rumah pengusaha batik di Kauman Surakarta
MUSYAWAROH, Ir. A. Djunaedi, MUP.,PhD
2001 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturKauman dikenal sebagai Kampung Santri dan Kampung Batik. Kauman mulai tumbuh saat Paku Buwono III membangun Masjid Agung pada tahun 1757, Penghulu Masjid Agung beserta abdi dalem ulama dan pars santri tinggal di sekitar Masjid yang kemudian dinamakan Kauman. Pada awalnya masyarakat Kauman hanya bermata pencaharian sebagai abdi dalem saja, kemudian berkembang menjadi pengusaha batik yang sukses dan membangun rumah megah dan indah sekitar pertengahan 1800 sampai pertengahan 1900. Rumah tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal dan usaha. Sekitar tahun 1970an usaha batik tulis mengalami kebangkrutan, penghuni kemudian beralih profesi menjadi pengusaha dibidang lain, pegawai negeri atau swasta. Fungsi rumah berubah disesuaikan dengan kebutuhan penghuni. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil identifikasi terhadap rumah pengusaha batik di Kauman Surakarta dan menemukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadapnya. Teori-teori yang dipakai sebagai acuan adalah : tata (White, 1986), fisik arsitektur (Ching, 1985) meliputi tata ruang, pembatas ruang, bentuk bangunan dan konstruksi bangunan. Faktor-faktor yang berpengaruh (Rapoport, 1969) meliputi sosial budaya, ritual, ekonomi dan fisik. Materi yang diteliti adalah fisik (rumah) dan non fisik (wawancara dengan penghuni). Metodologi yang digunakan adalah Kualitatif Rasionalistik, dengan metode survey eksplorasi empirik. Pembahasan dilakukan terhadap 8 kasus rumah pengusaha batik Kauman yang dianggap dapat mewakili kategorisasinya. Analisa dilakukan 2 tahap yaitu: generalisasi terhadap kasus yang diteliti berdasarkan teori-teori tersebut diatas, kemudian dikomparasikan dengan hasil penelitian rumah pengusaha batik di lokasi yang lain. Deskripsi tata fisik rumah pengusaha batik Kauman adalah sebagai berikut : tata ruangnya lebih lengkap dari rumah masyarakat Jawa biasa akan tetapi tidal( selengkap Dalem Pangeran di Surakarta, pembatas ruang berupa kombinasi antara batu Bata dengan partisi dan terbuka. Sebagian besar rumah tersebut berbentuk Indis, dengan konstruksi masif, rangka atau campuran. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tata fisik tersebut antara lain : mereka adalah keturunan abdi dalem atau kerabat raja atau santri yang teguh memegang ajaran Islam, sesama pengusaha batik saling bersaudara dan bekerjasama dalam proses produksi, semakin kaya pemilik semakin indah rumahnya. Rumah pengusaha batik Kauman hampir sama dengan rumah pengusaha batik Laweyan dan Kotagede, sedangkan rumah pengusaha batik Prawirotaman berbeda.
Kauman was known as Kampong Santri and Batik. It was started in 1757, when Paku Buwono III was building the Agung Mosque. People who live sorrounding the Mosque have proffessions as : penghulu, abdi dalems ulama and santris, they are called kaum and this area was also called Kauman. At the beginning Kauman society only had job as abdi dalems and their wives had job as batik painters. Their batik became success and made them as batik enterpreneurs. Between 1850-1950 the batik bussiness has fallen down, so they tried to found another bussiness or jobs and re-arranged their houses as like as they need. The aim of this study is to describe the physical systems identifications of batik enterpreneur houses and find the factors which influence that. The theory that use in this study are : systems (White, 1986); physics of architecture are organizations, enclosures, building forms and constructions(Ching 1985). The factor which influence the house are : social, culture, ritual, economic and physic (Rapoport). The approach of this study is qualitative rasionalistic, and use empirical exploration survey: It has 8 samples which have been analyzed with two ways, first, it is based on some theories mentioned before, and than comparen with another batik enterpreneur houses studies which located in Surakarta and Yogyakarta. The physical systems of Kauman batik enterpreneur houses can be describe as : the organizations of their houses more complete than Javanese common houses but less than Dalem Pangeran (Paneran houses); the enclosures are made from brick and partition; the forms is Indis (Javanese traditional building influenced colonialism); the construction of their houses are sceletal, massive and mixed. The factors which influence the houses are : the Kauman batik enterpreneurs is the generation of the families above; they are good moslems and good kinship; the house of the big and rich batik enterpreneurs are more beautifuls and full of ornaments than the small ones. The Kauman batik enterpreneur houses is the same with the Laweyan and Kotagede batik enterpreneur houses, but Prawirotaman batik enterpreneur houses is different.
Kata Kunci : Rumah Tinggal, Pengusaha batik, Tata Fisik