PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN KAMPUNG TEGALPANGGUNG KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI KAMPUNG TANGGUH BENCANA
EVA PUNGKI AINORA, M. Sani Roychansyah, ST., M. Eng., D.Eng
2013 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTASkripsi ini dilatarbelakangi oleh perlunya pengembangkan program pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, yaitu melalui pengembangan kampung tangguh terhadap bencana. Salah satu kampung sebagai rintisan kampung tangguh bencana adalah Kampung Tegalpanggung, oleh karena itu dilakukanlah pengukuran tingkat kesiapan Kampung tegalpanggung sebagi kampung tangguh bencana. Melalui kajian struktur ini, peneliti diharapkan dapat memberikan manfaat berupa bertambahnya pengetahuan mengenai kampung tangguh bencana mengingat frekuensi dan intensitas terjadinya bencana di Kota Yogyakarta terus meningkat. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1) Sejauhmana tingkat kesiapan Kampung Tegalpanggung sebagai rintisan kampung tangguh bencana diukur dari scoring kesiapan kampung tangguh bencana berdasarkan peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 1 tahun 2012 dan 2) Hal-hal apa saja yang bisa ditingkatkan dan direkomendasikan terkait keefektifan kinerja upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang telah ada di Kampung Tegalpanggung. Metode yang digunakan adalah deduktif kualitatif. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma rasionalistik. Sumber data dalam penelitian ini adalah pegawai Kelurahan Tegalpanggung, 112 warga Tegalpanggung pada tahap pertama, dan 39 warga Tegalpanggung pada tahap kedua. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, survey/observasi, dan pengamatan dokumen. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Kampung Tegalpanggung ditemukan beberapa hal yang berkenaan dengan tingkat kesiapan sebagai kampung tangguh bencana seperti Kampung Tegalpanggung termasuk dalam kriteria kampung tangguh bencana utama dengan skor 51, dengan variabel yang terpenuhi sempurna adalah dalam hal pendanaan, sedangkan variabel terlemah adalah perencanaan dan legislasi. Rekomendasi yang diberikan merupakan upaya untuk meningkatkan upaya Kampung Tegalpanggung sebagai kampung tangguh bencana. Pengukuran tingkat kesiapan dengan menggunakan dengan peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 setelah dibandingkan dengan komponen ketangguhan dalam Teori Godschalk tidak jauh berbeda hal yang diamatinya, oleh karena itu peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 dapat digunakan untuk pengukuran kesiapan kampung tangguh bencana di tempat-tempat lainnya.
This research is motivated by the need pengembangkan program of community-based disaster risk reduction, namely through the development of the village resilient to disasters. One village as a pilot village is Kampung Tegalpanggung disaster resilient, therefore Kampung tegalpanggung do as a measurement of the level of preparedness of disaster resilient village. Through the study of this structure, researchers are expected to provide benefits such as increased knowledge about disaster resilient village considering the frequency and intensity of disasters continue to rise in the city of Yogyakarta. Issues raised in this research are: 1) To what extent the level of preparedness as a pilot village Kampung Tegalpanggung measured resilient disaster resilient village disaster preparedness scoring rules-based National Disaster Management Agency No. 1 in 2012 and 2) What are the things that could be improved and recommended related to the effectiveness of performance measures for disaster risk reduction that has existed in Kampung Tegalpanggung. Method used is deductive qualitative. Paradigm used in this study is the rationalistic paradigm. Sources of data in this study were employees of the Village Tegalpanggung, 112 residents Tegalpanggung in the first stage, and 39 residents Tegalpanggung in the second stage. Data collection techniques are interviews, surveys / observations, and document observations. Based on the results of a study of Kampung Tegalpanggung found a few things with regard to the level of disaster preparedness as tough as the village Kampung Tegalpanggung included in the criteria for major disaster resilient village with a score of 51, with the variables that are perfectly fulfilled in terms of funding, while the weakest variable is planning and legislation. Recommendations are given an attempt to step up efforts as the village Kampung Tegalpanggung disaster resilient. Measuring the level of readiness by using the rules of National Disaster Management Agency No. 1 of 2012 when compared with the theory component Godschalk Toughness is not much different from what he observed, therefore the rules of National Disaster Management Agency No. 1 of 2012 can be used to measure the readiness of the village disaster resilient in other places.
Kata Kunci : tingkat kesiapan, kampung tangguh bencana