Laporkan Masalah

Preoperative tests for predicting difficult endotracheal intubation in elective surgical patients

SUGIMAN, Tantani, Prof.dr. Ahmad Husein Asdie, SpPD-KE

2001 | Tesis | S2 Kedokteran Klinis

Tindakan anestesia pada penderita dengan kesulitan intubasi trakhea dapat mengakibatkan trauma jalan nafas dan meningkatkan morbiditas akiba t hipoksia dan hiperkakbia. Salah satu dari penyebab utama meningkatnya morbiditas dan mortalitas akibat anestesia adalah kesulilan inluhasi Lrakhca pada penderita. Seperti diketahui banyak penderita yang tampaknya normal, Leta pi pada waktu dilakukan tindakan intubasi trakhea ditemui kesulitan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan atau uji klinis prabedah yang dapat meramalkan adanya kesulitan intubasi trakhea pada seorang penderita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sensilivitas dan spesifisitas tiga uji klinis prabedah yaitu jarak sternomental, jarak thyromental dan skor oropharingeal baik mara lunggal alaupun komhinasi unluk memperkirakan kesulitan intubasi trakhea, untuk mengetahui ketiga uji klinis prabedah tersebu t mempunyai hubungan yang bermakna dengan kesulitan intubasi trakhea. Disain penelitian ini adalah prospektif, potong silang, uji diagnostlk. Sebagai baku emas adalah skala laringoskopik dari Cormack dan Lehame. Sebelum penelitian dilakukan uji kcsesuaian antara 2 penclili Lerhadap 50 penderita yaitu menilai tingka t keandalan ketiga uji prabedah dengan mengetahui nilai Kappa. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 1430 (seribu empat ratus tiga puluh) penderita yang akan dilakukan pembedahan terencana yang masuk kriteria penerimaan (pria/wanita, umur 15-65 tahun dan status fisik ASA I atau 11) ikut dalam penelitian ini. Hasil penelitian adalah sebagai berikul: nilai Kappa kcsesuaian anlara peneliti 1 dan 2 adalah: 93% dan 78% unluk jarak sternomenlal, 75% dan 92% untuk jarak thyromental, 80% dan 93% untuk skor oropharingeal. Sedangkan nilai Kappa keandalan jarak stemomental,' jarak thyromen tal dan skor oropharingeal berturut-turut adalah 8396, 86% dan 86%. Dari hasil analisis regresi logistik terhadap temyata hanya uji prabedah jarak tyromenta, skor oropharingeal dan kombinasi jarak thyromental dan skor oropharingeal mempunyai hubungan yang signifikan dengan kesulitan intubasi trakhea. Penghitungan dengan tabel dua kali dua menunjukkan bahwa kombinasi uji prabedah yaitu jarak thyromental 5 6.5 cm dan skor oropliaringc!al 111 mendukung hipotesis penelitian ini dcmgan niali scnsilivilas, spcsifisitas, nilai duga positif dan negatif, rasio kemungkinan positif dan negatif berturut-turut adalah 86,95%; 80%; 97%; 40%; 4/34 dan 0,16. Kesimpulan: Kombinasi uji prabedah antara jarak hyromental dan skor orpharingeal dapat digunakan sebagai uji diagnostlk klinis untuk memperkirakan kesulitaan intubasi trakhea.

Anesthesia in a patient with a difficult intubation can lead to both direct airway trauma and morbidity from hypoxia and hypercarbia. One of main causes of anesthetic related morbidity is that associated with difficult intubation. Several patients OT apparently normal appearance unexpectedly present great difficulties at intubation. Its axiomatic that careful preoperative assessment which results in the prediction of potentially diflicult airways represents the method 01' avoiding disaster during anesthesia. The .objectives of this study were to determine the sensitivity and specificity of the three preoperative clinical tests, used alone or in combinations in predicting difficult intubation, to determine whether the three preoperalive tests, used as a single and combined test with the difliculty in intubation. The design used was prospective, cross-sectional study, diagnostic lest. 'I'he "gold stiuidard" or more appropriate the "rel'erence standard" \vas direct laryngoscopy procedure using the scale of Corniack and Lehane laryngoscopic view. To test the clinical disagreement between two clinicians, 50 patients were recruited to be tested for the reliability of the three clinical tests, the Kappa values were determined. This study was conducted in Dr. Cipto M'ugukusunio General Hospital in Jakarta The study participants were 1430 surgical patients which met the inclusion criteria (niale/female aged 15-65 years arid ASA physical status I or 2) entered the study. The results were described as follows: intrarater Kappa agreement analysis yielded these values: 93% and 78% for stemomental distance; 75% and 92% for thyromental distance; 80% and 93% for orophaqngeal view. The interrater agreement for sternomental distance was 83%, thyromental distance was 86% and oropharyngeal view 86%. With stepwise logistic regression technique, thyromental distance, orophaygeal view and the combination of thyronmental distance and oropharyngeal view were significant in predicting difficult intubation. Calculation with two by two table yielded the combination between thyromental distance 6.5 cm or less and oropharyngeal view grade 111 clinical test supported the hypothesis of the study, with its sensitivity, specificity, positive and negcitive likelihood ratio were 86.95%, SO%, 97%, 40%, 4.34 and 0.16 respectively. Conclusion: The combined test of thyromental distance and oropharyngeal view can be used as a clinical diagnostic tool to detect difiicult intubation.

Kata Kunci : Anestesi, Intubasi Trakhea


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.