Laporkan Masalah

DARI SISTEM SPONSOR HINGGA BAWON: PROPAGANDA KOLONISASI DI JAWA, 1900-1941

AURA CUBANIMITA, Baha’uddin, M.Hum

2013 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Kolonisasi merupakan salah satu bentuk pelaksanaan politik etis di Hindia Belanda sejak awal abad ke XX. Selain untuk mengurai kepadatan penduduk Jawa, kolonisasi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tujuan yaitu pulau-pulau di luar Jawa. Namun begitu, proses pemindahan penduduk Jawa bukan perkara yang mudah karena berbagai faktor sosial-kultural dan psikologis orang Jawa. Untuk itu pemerintah kolonial mengeluarkan serangkaian propaganda dengan berbagai macam media seperti foto, buku, selebaran dan film yang menggambarkan potensi daerah kolonisasi. Pemerintah juga memakai simbol-simbol budaya Jawa seperti pemanfaatan kepala desa sebagai propagandis, penyelenggaraan sandiwara rakyat, dan pemasangan tokoh-tokoh pewayangan pada sejumlah media propaganda. Hal ini diharapkan mampu merubah paradigma dan meyakinkan orang Jawa terhadap tanah sabrang. Pada kenyataannya media-media ini tidak sepernuhnya berhasil menarik. Misalnya saja pemutaran film propaganda Tanah Sabrang yang selalu dibanjiri ribuan orang, nyatanya tidak mampu menaikkan angka keberangkatan kolonis. Rupanya orang Jawa pada masa itu lebih tertarik dengan “bungkus” ketimbang esensinya. Pelaksanaan sistem kolonisasi ya ng berubah-ubah dari masa ke masa juga turut mempengaruhi besarnya minat orang Jawa untuk boyong. Pada awalnya kolonisasi diselenggarakan dengan sistem cuma-cuma, mereka yang berangkat dibebaskan dari biaya apapun, bahkan diberikan bekal secukupnya. Sistem ini tidak bertahan lama hingga kolonisasi mengalami kevakuman. Mulai tahun 1930 pemerintah menggunakan sistem bawon, yakni memanfaatkan sistem gotong royong orang Jawa dalam pengolahan tanah. Sistem ini dianggap menguntungkan karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar namun mampu mendatangkan kolonis dalam jumlah besar. Tulisan ini memakai metode sejarah sebagai pijakannya, yakni : pemilihan topik, pengumpulan sumber, verivikasi, intepretasi, dan penulisan.

Colonization was the Dutch East Indies’ ethical politics implementation since the beginning of the 20th century. In spite of parsing the density of Java population, colonization also expected to boost the economic growth in the destination regions, which are the island outside Java. However, the migration process of Javanese is not an easy case because of socio-cultural and psychological factors. Therefore, the colonial government issued a series of propaganda in various media such as photographs, books, leaflets, and film that illustrate the potential for colonization region. The government also used Javanese cultural sym bols such as making use of the village chief as propagandist, organizing folk theaters, and using puppet figures in a number of media propaganda. This is expected to change the paradigm convince people of the tanah sabrang. In fact, these media were not entire successful to attract the Javanese people attention. For example, the screening of propaganda film, “Tanah Sabrang” was not able to raise the rate of departure colonist even though this was always flooded with thousands of people. Apparently Javanese people were more interested in the “wrap” rather than its essence. The changing implementation of the colonization system from time to time also affects the amount of Javanese people’s interest in boyong. Colonization initially held with the freely system, those who depart are exempted from any cost, even given sufficient supplies. This system did not last long until the colonization experiences the absence of this system, in 1930; the government began using bawon system, utilizing Javanese’s mutual assistance system in tillage. This system was considered to be beneficial because the government did not need to spend bog cost but was able to bring in a large number of colonists. This study is using the method of history as the background in: topic selection, source collection, verification, interpretation, and writing.

Kata Kunci : kolonisasi, propaganda, orang Jawa, media


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.