Evaluasi pelaksanaan sistem kewaspadaan dini keterkaitannya dengan kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Dati II Kulon Progo tahun 1998
SUDINI, J, dr. Hari Kusnanto, SU.,DrPH
2001 | Tesis | S2 Kesehatan MasyarakatPenyakit malaria mash menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Kulon, karena disamping telah menjadi penyakit endemis juga sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) disertai dengan kematian sebagaimana yang terjadi pada tahun 1998. Hal ini mengindikasikan bahwa masih belum optimalnya pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) malaria dalam mengantisipasi terjadinya KLB, sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan system surveilansi malaria. Penelitian dilaksanakan di 9 puskesmas yang diwilayah kerjanya telah terjadi KLB malaria. Jenis penelitian merupakan penelitian studi kasus, yang mengevaluasi aspek sumber daya, proses pelaksanaan SKD malaria dan efektifitas tindakan yang telah dilakukan. Sebagai unit analisisnya adalah Kabupaten Kulon Progo. Hasil penelitian menunjukan bahwa PWS-SKD belum dimanfaatkan sebagai acuan pengambilan keputusan tindakan, sehingga pelaksanaan tindakan tidak sesuai dengan standar SKD. Kurang efektifnya pelaksanaan Surveilansi Malaria dalam mengantisipasi terjadinya KLB, disebabkan: masih adanya keterlambatan penemuan penderita sebesar 8,9%, rendahnya cakupan penyelidikan epidemiologi (18%); dari 19 desa yang memerlukan tindakan dini dengan tindakan MFS, yang dilaksanakan 14 desa (74%) dengan cakupan tindakan cukup hanya 2 desa (14%) dan 12 desa (86%) dengan cakupan kurang. Dalam ha1 waktu pelaksanaannya, 11 desa (79%) telah dilaksanakan dalam waktu dini dan 3 desa (21%) terlambat. Dalam pelaksanaan tindakan MFS dan IRS juga tidak mempertimbagkan aspek kesatuan wilayah epidemilogis, yaitu dalam ha1 keserempakan waktu dm keterpaduan untuk desa-desa perbatasan antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kab. Purworejo. Untuk tindakan pengendalian vektor, terdapat 5 desa yang sudah memerlukan tindakan penyemprotan rumah (IRS), namun hanya 2 desa (40%) disemprot, dengan tindakan tepat waktu 1 desa. Tindakan pemberantasan jentik sebagai penunjang tindakan MFS, ternyata juga belum mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan kewaspadaan dini. Adapun yang menjadi hambatan sehingga belum optimalnya pelaksanaan SKD malaria adalah keterbatasan jumlah ketenagaan terutama JMD dan ko-asisten entomologis, kurangnya pengetahaun dan pemahaman setiap kriteria tindakan bagi tenaga pengelola P2 malaria puskesmas, ketersediaan dana yang terlambat dan jumlah yang tidak mencukupi, serta kurangnya tindakan penyeliaan terhadap pelaksanaan PWS-SKD malaria
Malaria desease is still a community health problem over the Kulon Progo District because it desease endemic and often brings about outbreak with a high mortality rate as those occurred in 1998. This fact indicated that the implementation of the Early Warning System (EWS) for malaria outbreak has not been optimum in anticipating the Occurance of epidemic, thefore a study in order to find out factors affect performance of survdlance system. The research was conducted in 9 Community Health Centers (Puskesmas) whose jurisdiction areas were afflicted by malaria epidemic. This research was a non-experiment, descriptive study evaluating the aspects of resources, implementing process of the Early Warning System (EWS) for malaria, and effectiveness of actions being conducted. The District of Kulon Progo was selected as a unit of analysis. The study showed that the Local Area Monitoring and Early Warning System (LAM-EWS) has not been optimally used as the references for dicision making on actions in such a way that the implementation of actions was not in accordance with the standards of the Early Warning System. The ineffective malaria sumellance anticipating the epidemic was due: the delay of patients identifacation (S,9%), the low coverage of epidemiological survey (18%), the were 19 villages in need for early actions with Mass Fever Survey (MFS), conducted on 14 villages (74%) actions with MFS, and sufficient action coverage only 2 villages (14%) and 12 villages (86%) with insufficient coverage. In connection with time of implementation, 11 villages (79%) have been dealt with early actions, while 3 villages (21%) with late actions. The aspect of epidemiological area unity was not seriously considered, namely the simultaneous and intergrated action between Kulon Progo and Purworejo District in implementation the system. In controlling the vector, there are 5 villages requiring indoor residual spraying (IRS), but this in only conducted for 2 villages (40%), with proper time action for one village. Mosquito larva controlling to support MFS actions has not been fully given attention. The obstacle of optimal implementation of the Local Area Monitoring and Early Warning System (LAM-EWS) for malaria over the district of Kulon Progo in 1998 was the limited number of staff, especially the rural volunteers for malaria control @ID) and co-asisten entomologists, the lack of knowledge and comprehension on action criteria for management staff of malaria prevention and surveillance at Community Health Centers, the late and insufficient financial resources, and lack of supervision and coordination
Kata Kunci : Epidemiologi Malaria, Sistem Kewaspadaan, Early Warning System (EWS), Malaria Control Programme.