Laporkan Masalah

STRATEGI PEMULIAAN HIBRID ACACIA (Acacia mangium x Acacia auriculiformis)

SRI SUNARTI, Bapak Prof. Dr. Ir. Mohamad Na`iem, M.Agr. ; Bapak Dr. Ir. Eko Bhakti Hardiyanto, M.Sc.

2013 | Disertasi | S3 Ilmu Kehutanan

Hibrid Acacia (A. mangium x A. auriculiformis) unggul atau hibrid vigor memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kedua spesies induknya, antara lain pertumbuhannya cepat, berbatang lurus, bercabang ramping, kulit batang halus dan lebih tahan terhadap serangan hama/penyakit serta mempunyai sifat-sifat kayu. Hibrid vigor Acacia potensial dalam pembangunan hutan tanaman industri yang mempunyai produktivitas dan kualitas yang tinggi serta lebih toleran terhadap serangan hama/penyakit. Selama ini pemuliaan hibrid Acacia menggunakan hibrid hibrid alami hasil seleksi di areal pertanaman kemudian diperbanyak secara vegetatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan klon hibrid Acacia terbaik di Wonogiri melalui strategi pemuliaan yang lebih efektif dan efisien melalui penyerbukan buatan untuk peningkatan produktivitas tegakan. Strategi disusun melalui pengamatan fenologi pembungaan, viabilitas benih, identifikasi dan verifikasi morfologi semai dan kemampuan perbanyakan dengan teknik stek pucuk serta pengujian di lapangan dalam bentuk uji klon. Materi genetik yang digunakan sebagai pohon induk dalam hibridisasi adalah pohon plus yang terseleksi dari kebun benih A. mangium dan A. auriculiformis generasi pertama di Wonogiri, Jawa Tengah. Semai hasil hibridisasi diidentifikasi menggunakan penanda morfologi dan diverifikasi menggunakan penanda molekuler SCAR. Semai hibrid Acacia yang akan digunakan sebagai materi perbanyakan terlebih dahulu diseleksi berdasarkan tinggi semai, kemampuan bertunas setelah pemangkasan dan kemampuan berakar pada steknya. Hasil perbanyakan yang dilakukan dengan teknik stek pucuk kemudian diuji di lapangan dalam bentuk uji klon. Rancangan percobaan yang digunakan dalam uji klon adalah Incomplete Block Design (IBD), 20 replikasi, single treeplot dan jarak tanam 3m x 3m. Berdasarkan informasi pembungaan, terjadi sinkronisasi waktu pembungaan antara A. mangium dan A. auriculiformis sehingga hibridisasi buatan dapat dilakukan dan menghasilkan biji bernas dengan viabilitas 48,1%. Perkembangan bentuk daun semai merupakan penanda morfologi yang efektif untuk mengidentifikasi hibrid Acacia pada tingkat semai dengan ketepatan sebesar 92,2% berdasarkan verifikasi menggunakan penanda molekuler SCAR. Semai hibrid Acacia terseleksi dapat diperbanyak melalui teknik stek pucuk dengan rata-rata kemampuan berakar sebesar 78,4%. Hasil uji klon menunjukkan bahwa terdapat 3 klon mempunyai pertumbuhan tinggi lebih baik dibanding kontrol dengan keunggulan berkisar antara 3,5-35,5%. Klon tersebut adalah nomor 44, 16 dan 25 dengan rata-rata tinggi tanaman umur 1 tahun berturut-turut sebesar 4,48 m, 4,17 m, dan 4,10 m.

The superiority of Acacia hybrid (A. mangium x A. auriculiformis) as compared to the parents tree were fast growth, straight bole, light branching, good stem circularity, more tolerance to pest/desease and also had a better wood properties which usually called as heterosis or hybrid vigour. Hybrid vigour was potential to be developed as industrial plantations which have high productivity and high quality and also more tolerance to pest/disease. Along this time, breeding strategy for Acacia hybrid were done through naturally hybrid selected from plantation area then vegetatively propagated by shoot cutting. This study was aimed to obtain the best Acacia hybrid clone by the efective and efficient breeding strategy of Acacia hybrid through control pollination to increase stand productivity. The strategy consists flower phenology, seed viability, morphologycal seedling identification and verification, propagation ability using shoot cutting technique and field clonal test. Genetic material to be used ini this research were plus trees selected from first generation Seedling Seed Orchard of A. mangium and A. auriculiformis at Wonogiri Central Java as parent trees on artificial hybridization. Acacia hybrid seedling resulted from artificial hybridization then identified by morphologycal marker and verified by SCAR molecular marker. Seedling of Acacia hybrid were then selected based on height, sprouting ability and rooting ability. Selected seedlings were propagated by minicutting then the resulted clones were tested in the field as clonal test. The trial was established at Wonogiri, Central Java using incomplete block design, single treeplot, 20 replications, 44 clones and spacing of 3 x 3m. The results showed that flower synchronisation between A. mangium and A. auriculiformis provide probability for control pollination which produced sound seeds with mean seed viability as 48.1%. Leaf development pattern of seedling was proofed efective to identify the Acacia hybrid seedlling with 92.2% level of acuracy after verifying using molecular marker. The selected seedling were succesfully propagated using shoot cutting with 78.4% of rooting ability. The result of the clonal test showed that the best 3 clones had rapid growth in height more than controls with the superiority ranging from 3.5% to 35.35%. The clones were 44, 16 and 25 which mean hight 4.48 m, 4.17 m, and 4.10 m respectively.

Kata Kunci : A. auriculiformis, A. mangium, hibrid Acacia, hibridasi, uji klon, strategi pemuliaan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.