Laporkan Masalah

EVALUASI STRUKTUR PELAYANAN PRAKTEK PERACIKAN OBAT DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN BADUNG, BALI

DEWA AYU PT SATRYA D., Dr. Chairun W., M.App. Sc., Mkes., Apt.

2013 | Skripsi | FARMASI

Puskesmas sebagai tempat pelayanan primer perlu menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan pasien, meliputi ketersediaan sarana dan prasarana penyediaan obat. Peracikan obat merupakan bagian yang penting dari pelayanan kefarmasian yang harus menjamin keamanan dan kualitas sediaan racikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran struktur pelayanan praktek peracikan yang dilakukan di puskesmas. Penelitian ini merupakan penelitian survey yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis. Penelitian survey dengan observasi ini dilakukan menggunakan checklist untuk mengetahui gambaran pelayanan praktek peracikan obat di puskesmas dan survey menggunakan kuesioner untuk mengetahui pengetahuan tenaga peracik tentang peracikan obat. Penelitian dilakukan di dua belas puskesmas utama yang terletak di Kabupaten Badung, Bali. Data pelayanan praktek peracikan obat yang diperoleh meliputi sarana dan prasarana peracikan di puskesmas seperti kriteria personel, fasilitas, kebersihan, peralatan, dan dokumentasi. Pengetahuan tenaga peracik dilihat dari pengetahuan tentang timbangan, peralatan, suspensi, bahan tambahan, perhitungan, dan sinonim obat. Data penelitian observasi pelayanan praktek peracikan obat yang dihasilkan dianalisis secara statistik deskriptif dan data pengetahuan tenaga peracik dianalisis dengan sistem skoring yang ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada apoteker di seluruh puskesmas yang diteliti. Hasil pengetahuan tenaga peracik tentang timbangan, peralatan, suspensi, bahan tambahan, perhitungan, dan sinonim obat berturut-turut adalah 36,1%; 0%; 12,5%, 66,7%, 37,5%, 66,7%. Meja peracikan pada umumnya tidak dipisah dari aktivitas lainnya sehingga bersifat multifungsi. Alat yang digunakan untuk meracik sediaan puyer berupa mortir dan blender. Kebersihan yang mendukung peracikan obat belum memenuhi standar pembuatan obat yang baik. Dokumentasi khusus untuk peracikan obat tidak dimiliki oleh seluruh puskesmas. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sarana prasarana peracikan di Puskesmas Kabupaten Badung, Bali masih rendah termasuk pengetahuan tenaga peracik.

-

Kata Kunci : peracikan obat, puskesmas, pengetahuan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.