Laporkan Masalah

OPTIMASI LIVABILITAS RUANG TERBUKA PUBLIK PADA BANTARAN SUNGAI WINONGO DI KAMPUNG BANGUNREJO KELURAHAN KRICAK YOGYAKARTA

SIDHI PRAMUDITO, M. Sani Roychansyah, ST., M.Eng., D.Eng.

2013 | Tesis | S2 Desain Kawasan Binaan

Suatu kota akan selalu mengalami perkembangan baik fisik maupun non fisik. Perubahan ini disebabkan salah satunya dengan adanya pertumbuhan penduduk kota. Akibatnya, muncul penggunaaan lahan yang tidak sesuai serta pertumbuhan fisik yang tidak terkendali salah satunya terjadi di kawasan bantaran sungai. Tidak terkontrolnya penggunaan lahan mengakibatkan berkurangnya kualitas dan kuantitas ruang salah satunya ruang terbuka. Di kota Yogyakarta mengalir 3 sungai besar, salah satunya Sungai Winongo. Sungai Winongo ini melewati beberapa kelurahan di Yogyakarta, salah satunya Kelurahan Kricak. Pada kelurahan ini terdapat beberapa kampung yang letaknya tidak jauh dari titik keramaian kota, seperti kampung Bangunrejo. Keberadaan ruang hunian kampung padat di tengah kota menghasilkan karakter khas kampung kota, apalagi pada kawasan kampung kota ini dilalui oleh sungai. Adanya karakter dan potensi lokal yang dimiliki kampung ini membuat pemerinah kota Yogyakarta bersama Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) melakukan revitalisasi guna meningkatkan lingkungan hidup (ekologi perkotaan), estetika, dan pelestarian budaya lokal sehingga memberikan citra Kota Yogyakarta sebagai kota sehat dari perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Menurut Bappeda Kota Yogyakarta dalam Laporan Antara Revitalisasi Sungai Winongo (2009) ruang terbuka di tepian Sungai Winongo hendaknya mampu mewadahi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Kebutuhan sebagai ruang bersama yang mampu mendukung potensi lokal masyarakat (ekonomi, sosial, kultural, ekologi). Pendekatan yang digunakan adalah kondisi livabilitas ruang terbuka publik dan dalam proses analisisnya dibantu dengan teknik kuantitatif menggunakan program Depthmap. Dengan metode deskriptif kuantitatif yang memfokuskan pada derajat livabilitas ruang terbuka sebagai elemen penting pendukung kawasan yang hidup akan memperkuat analisis kualitatif secara lebih nyata/real. Dalam proses analisis dipilih beberapa ruang terbuka publik yang dapat mewakili tipologi yang berbeda pada lokus terpilih yaitu kampung Bangunrejo. Dari hasil pembahasan, secara umum diperoleh bahwa ada sebuah hubungan bagaimana ruang yang memiliki daya hidup/ livable dimanfaatkan sebagai ruang terbuka publik akibat performa ruang yang terdiri dari komponen konfigurasi, kualitas visual, karakter, dan potensi lokal, dalam sebuah sistem ruang kampung, yaitu ruang-ruang yang mempunyai integrasi dan nilai visibilitas tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika terdapat gap maka perlu dilakukan penyesuaian agar dapat berfungsi secara optimal. Setelah kesimpulan diperoleh, maka diperoleh arahan perancangan ruang terbuka publik berdasarkan analisis untuk mencapai kondisi livabilitas yang optimal, sehingga ruang terbuka publik di kampung Bangunrejo dapat menjadi bagian dari ruang terbuka tepian Sungai Winongo yang berdaya hidup (livable).

A city will always grow up, physically or non-physically. One of the causes of these changes is increasing number of the citizens. The impacts of it are an inappropriate use of a space and uncontrollable physical changes, which mostly happen in the riverbank. The uncontrollable use of the space decreases the quality and quantity of the open space. There are three big rivers flowing through Yogyakarta, one of which is Winongo River. This river crosses some district. One of districts which is crossed by this river is Kricak. In this district, there are some villages which are close to the city, such as Bangunrejo. The existence of a dense populated village creates a typical character of a village in the middle of a city, moreover there a river crossing this village. The character and local potential of this village makes the government of Yogyakarta and Winongo Asri Communication Forum to do revitalization in order to create better environment (ecology, urban area), aesthetic, and preserve the local culture so that Yogyakarta will have a good image as a healthy city and advance in development and population. According to the government of Yogyakarta in the report “Antara Revitalisasi Sungai Winongo” (2009) open space in Winongo river bank should be accommodate people’s needs and support local people potential (economy, social, culture, and ecology). The approach used was a livability condition of public open space and for the analysing process was helped by quantitative technique using Depthmap program. By using descriptive method, which focused on livability degree of open space as an important element supporting living environment, would strengthen qualitative analysis to be more real. Some public open spaces were selected in analysing process as representatives of different typology on chosen locus, Bangunrejo. The conclusion that could be drawn from the discussion was how livable space functioned as a public open space that consists of configuration component, visual quality, character, and local potential in a village space system, space with integration and high visible value. On the other hand, if there was a gap, adjustment would be needed to make it functioned optimally. After drawing conclusion, the design of public open space was created based on analysis to achieve optimal livability, so that the public open space in Bangunrejo village could be a part of livable open space in Winongo riverbank.

Kata Kunci : ruang terbuka publik, livabilitas ruang terbuka publik, optimasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.