UJI KEBENAR AN ENAM KULTIVAR CABAI KERITING (Capsicum annuum L.)
FAHRUDIN, Dr. Panjisakti Basunanda, SP., MP.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Pemuliaan TanamanCabai adalah salah satu sayuran yang paling penting di Indonesia, terutama pada pemanfaatannya yang luas dan bernilai ekonomi tinggi. Permintaan untuk menanam sayuran asal Amerika Selatan ini selalu tinggi, meningkatkan pelaporan praktek-praktek pelanggaran dalam pasokan benih, dalam bentuk sengaja mengurangi atau mengubah kemurnian kultivar, yang melanggar praktik bisnis yang baik. Untuk menaggulangi praktek pelanggaran seperti itu, kontrol rutin pada benih yang dijual di tingkat petani perlu dilakukan. Sayangnya, prosedur standar untuk kontrol tersebut belum tersedia di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan prosedur yang dapat dianggap sebagai awalan dan mungkin menjadi pembahasan pada perkembangan selanjutnya. Enam kultivar cabai dikumpulkan dari pasar terbuka. 'Lado', yang merupakan produk populer dari East West Seed, diperoleh dari pasar di Medan (A1), Makassar (A2), Tangerang (A3), dan Mataram (A4). 'Princess-06', sebuah produk dari PT Benihinti Suburintani, diperoleh dari Lembang (B1), Sleman (B2), dan Mataram (B3). Empat kultivar berikutnya adalah produk dari PT Oriental Seed Indonesia. 'OR Charming' diperoleh dari Serang, dan 'OR Twist 22', 'OR Twist 33', dan 'OR Twist 42' diperoleh dari Magelang. Dua lokasi yang dipilih untuk penelitian ini: Krukut, Depok, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga Oktober tahun 2012 (+ 90 m dpl) dan Cikole, Lembang, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga November 2012 (+ 1.250 m dpl). Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dalam satu kultivar diuji berdasarkan karakter fenotipik kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan karakter yang sama, kesesuaian pada deskripsi dari masing- masing kultivar juga diuji. Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dari kultivar yang sama terbukti sah, berdasarkan karakter kualitatif maupun kuantitatif. Hasil ini didasarkan pada analisis varians untuk sifat kuantitatif dan didukung dengan analisa komponen utama. Ambang batas untuk sifat kuantitatif, memperhitungkan penyimpangan maksimum 5% dari jumlah sampel., Uji kebenaran deskripsi berdasarkan pada karakter kualitatif menyimpulkan bahwa hampir semua ciri sesuai dengan deskripsi masing- masing kultivar. Beberapa perbedaan diasumsikan sebagai hasil salah tafsir. Namun, pada karakter kuantitatif menunjukkan performa lebih rendah di kedua lokasi, performa diamati untuk semua sampel pada semua variabel kuantitatif dengan hanya sejumlah kecil outlier (pencilan). Hasilnya menimbulkan dugaan bahwa uji performa untuk pendaftaran kultivar dilakukan di bawah lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan pada penelitian ini, dan hasil ini menimbulkan isu ketidakstabilan.
Chili pepper is among the most important vegetables in Indonesia, notably for its widespread utilisation and high economic value. The demand to plant this South American-origin vegetable is always high, raising reported fraudulent practices in seeds supply, in the form of intentionally reducing or changing the cultivar purity, which violate good business practices. To combat such foul practice, regular control on seeds that sold in the farmer level needs to be done. Unfortunately, standard procedure for such control has not been provided in Indonesia. This work is conducted with aim to provide procedures that can be considered preliminary and may subject to later development. Six chili pepper cultivars were collected from open market. 'Lado', which is a popular product of East West Seed, was obtained from Medan (A1), Makassar (A2), Tangerang (A3), and Mataram (A4) markets. 'Princess-06', a product of PT Benihinti Suburintani, was obtained from Lembang (B1), Sleman (B2), and Mataram (B3). Four subsequent cultivars were products of PT Oriental Seed Indonesia. 'OR Charming' was obtained from Serang, and 'OR Twist 22' , 'OR Twist 33' , and 'OR Twist 42' were obtained from Magelang. Two locations were chosen for the study: Krukut, Depok, West Java, from May to October in 2012 (+ 90 m above sea level) and Cikole, Lembang, West Java, from May to November 2012 (+ 1.250 m above sea level). Uniformity within and among market sources within single cultivar was tested based on qualitative and quantitative phenotypic characters. Based on the same characters, conformity to the description of the respective cultivar registration was also tested. Uniformity within and among market sources of the same cultivar was shown to be legitimate, based on qualitative as well as quantitative characters. The result was based on analysis of variance for quantitative traits and supported with principle component analysis. Threshold level for quantitative traits, which allow 5% maximum deviation from total samples, provided the decision for qualitative traits. True to description test based on qualitative characters concluded that almost all traits supported conformity to the respective cultivar description. Some discrepancies were assumed as the results of misinterpretation. However, quantitative characters showed invariable lower-than-described performance in both locations, although the decrease was observed for all samples on all quantitative variables observed, with only small amount of (higher) outliers. The result led to suspicion that the performance test for cultivar registration had been conducted under quite different environment than this work and raised the issue of unstability.
Kata Kunci : uji kebenaran deskripsi, cabai, agromorpologi, uji keseragaman.