PERBANDINGAN DAYA GUNA AMPISILIN INTRAVENA DAN SEFTRIAKSON INTRAVENA PADA ANAK DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH
Ummy Qalsum, dr. Pungky Ardani, M.Sc. Sp.A(K)
2013 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDSLatar Belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) sering dijumpai dan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada anak. Diagnosis dan terapi dini ISK sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi parut ginjal. Banyak penelitian menunjukkan makin bertambahnya resistensi ISK terhadap ampisilin sebagai salah satu pilihan terapi ISK pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil guna terapi ampisilin intravena dan seftriakson intravena pada anak dengan ISK. Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan pembutaan tunggal. Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan subyek sebanyak 112 anak usia 2 bulan - 15 tahun. Subyek penelitian dialokasikan secara acak pada kelompok ampisilin intravena (n=56) dan seftrakson intravena (n=56). Setelah pemberian antibiotika selama 3 hari, kesembuhan pasien dievaluasi berdasarkan perbaikan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Hasil. Daya guna terapi ampisilin intravena dan seftriakson intravena masing-masing sebesar 64,3 % dan 71,4% dan tidak berbeda secara statistik. Sensitivitas ampisilin dan seftriakson juga tidak berbeda secara statistik, masing-masing sebesar 44,4% dan 55,6%. Berdasarkan hasil biakan urin, E.coli merupakan bakteri paling banyak menyebabkan ISK pada anak (24%). Kesimpulan. Tidak ada perbedaan daya guna terapi antara ampisilin intravena dan seftriakson intravena pada anak dengan ISK.
Background. Urinary tract infections (UTI) is prevalent and among the main morbidity in children. Prompt diagnosis and therapy of UTI is essential to prevent complication of renal scarring. Many studies have shown high rates of resistance to ampicillin as one oftherapeutic option for UTI. This study was aimed to compare the efficacy of intravenousampicillin and ceftriaxone in treating children with UTI. Method. This is a single blind clinical trial carried out in Department of Child Health, Dr. Sardjito Teaching Hospital. The subjects consisted of 112 children aged 2 month until 15 years old. The subjects were randomly allocated into ampicillin group (n = 56) and ceftriaxone (n = 56). The antibiotics were given for 3 consecutive days. The efficacy of therapy was evaluated by clinical and laboratory improvement. Results. The efficacy for intravenous ampicillin after 3 days of treatment 64.3% and 71.4% of intravenous ceftriaxone and not statistically different. Sensitivity ampicillin and ceftriaxone are also not statistically different, respectively 44.4% and 55.6%. Based on the results of urine culture, E.coli is a bacteria most likely to cause UTI in children (24%). Conclusion. There is no difference in efficacy between intravenous ampicillin and ceftriaxone therapy in children with UTI
Kata Kunci : infeksi saluran kemih, anak, ampisilin, seftriakson, daya guna