Laporkan Masalah

ANALISIS PENGGUNAAN OBAT DI KLINIK SATELIT PERTAMINA BALIKPAPAN

Esstie Prasasti Anggraeni, dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Penggunaan obat yang tidak rasional merupakan masalah besar di dunia. Di Indonesia, ketidakrasionalan penggunaan obat yang sering terjadi adalah polifarmasi, penggunaan obat non esensial, penggunaan antimikroba yang tidak tepat, penggunaan injeksi secara berlebihan, penulisan resep yang tidak sesuai dengan pedoman klinis, ketidakpatuhan pasien dan pengobatan sendiri secara tidak tepat (Depkes RI, 2006). Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dan Polikliniknya merupakan salah satu institusi pelayanan kesehatan yang bersifat swasta di Balikpapan. Berdasarkan observasi sebelumnya penggunaan obat non generik di RSPB dan Polikliniknya sangat tinggi. Hampir di setiap peresepan, obat yang diresepkan seluruhnya merupakan obat non generik. Peresepan obat non generik ini tentunya akan berimbas pada cost yang harus dikeluarkan pasien khususnya bagi pasien umum. Selain itu waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan obatnya sangatlah lama. Seorang pasien bisa menghabiskan kurang lebih satu jam sampai pasien tersebut mendapatkan obatnya, walaupun obat yang diterimanya tersebut bukan merupakan obat racikan dan jumlahnya tidak banyak. Dari masalah diatas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran penggunaan obat di Poliklinik Panorama dengan menggunakan Indikator Penggunaan Obat dari WHO (1993). Metode : Merupakan penelitian deskriptif, dengan rancangan penelitian studi kasus, menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan observasi dokumen yang diambil secara retrospektif. Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil : Rata-rata jumlah item obat dalam satu lembar resep pasien di Poliklinik Panorama Pertamina Balikpapan 3,6 item, persentase peresepan obat generik 56,5%, persentase peresepan antibiotik 8,1%, penggunaan injeksi 5,13%, peresepan obat sesuai formularium sebesar 0%, rata-rata waktu konsultasi ke dokter 7 menit 8 detik, rata-rata waktu dispensing 5,2 menit, persentase obat yang benar-benar diserahkan kepada pasien 98,5%, persentase obat yang telah dilabel dengan benar 100%, persentase pasien paham penggunaan obat yang benar 97,1%, ketersediaan formularium tidak tersedia, yang tersedia Daftar Standar Obat Pertamina, persentase ketersediaan obat esensial 19,3%, dan rata-rata harga obat tiap lembar resep di Poliklinik Panorama Pertamina Balikpapan Rp.126.413. Kesimpulan : Secara umum penggunaan obat di Poliklinik Panorama Pertamina Balikpapan sudah rasional hanya saja pada indikator penggunaan obat generik, ketersediaan obat esensial dan formularium hasilnya masih rendah menurut Indikator Penggunaan Obat WHO 1993

Background: Irrational drug use is a major problem in the world. In Indonesia, irrational frequent drug use is polypharmacy, use of non-essential drugs, improper use of antimicrobials, excessive use of injections, prescription not in accordance with clinical guidelines, patient adherence and self-medication is not appropriate Hospital of Pertamina Balikpapan an Polyclinic is one of the institution private health care in Balikpapan. Based on observation, use of generics drugs in Hospital of Pertamina Balikpapan and Polyclinic is very high. Almost every prescription, prescription drug of non generic drugs. The non generic prescription drugs will certainly impact on the cost to be incurred for public patients. Moreover, the time it takes patents to get the medicine is very wasting time. Patient may spend approximately one hour until the patient get the medicine, even though he had received the drug is not concoction and there are not many kind. From the observation, the researchers fell need to do research in Polyclinic Panorama Balikpapan use indicators drug use from WHO 1993 Method: This is a research descriptive, with case study design. Used quantitatively and qualitatively data. The collection of quantitative data was by document observation retrieved by retrospectively. The qualitative data gathering was done by in depth interview. Result:The average number of drug item in one patient’s receipt at Panorama Polyclinic of Pertamina Balikpapan was 3,6 items, the percentage of generic drug prescription was 56,5%, the percentage of antibiotic drug prescription was 8,1%, and the injection usage was 5,13%. Moreover, the drug prescription in accordance with formula was 0%, the time average required to consult to doctor was 7 minutes and 8 seconds. The rate of dispensing period was 5,2 minutes, the percentage of actual drug given to patient was 98,5%, the percentage of correctly labeled drug was 100%, the percentage of patient comprehending the correct drug usage was 97,1%, and the availability of formulary not available, which is available only List of Pertamina Drug Standard. Then,the percentage of essential drug availability was 19,3%, and the rate of drug cost every receipt in Panorama Polyclinic of Pertamina Balikpapan was Rp.126.413. Conclusion:The drug use in Panorama Polyclinic of Balikpapan generally has rational, but has not been rational mainly on generic drug prescription, availability of essential drug and formulary according to Indicator of WHO Drug Use 1993.

Kata Kunci : penggunaan obat, indikator WHO, poliklinik satelit


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.