HUBUNGAN KONTROL ANTIKOAGULASI PADA PENGGUNAAN WARFARIN TERHADAP ANGKA KEMATIAN DI RUMAH SAKIT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DENGAN ATRIAL FIBRILASI DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
APRILLIA RAHMADINA, Prof. Dr. Agung Endro Nugroho, M.Si., Apt.
2013 | Tesis | S2 Ilmu FarmasiStroke pada penderita atrial fibrilasi dapat meningkatkan risiko mortalitas yang merupakan konsekuensi dari kejadian tromboembolisme. Tromboprofilaksis bisa dicapai dengan obat-obatan antikoagulan seperti warfarin. Namun pemberiannya harus dikontrol terus menerus untuk meminimalkan komplikasi pendarahan. Pengontrolan tingkat keenceran darah atau kontrol antikoagulasi dilakukan dengan pemeriksaan International Normalized Ratio (INR) dengan target 1,5-2,0. Kontrol antikoagulasi yang efektif diharapkan dapat menurunkan angka kematian. Penelitian ini dilakukan dengan metode case-control melalui penelusuran data catatan medik pasien pada tahun 2008-2012, pasien dengan diagnosis utama stroke iskemik dan diagnosis sekunder atrial fibrilasi yang menerima terapi warfarin dibagi menjadi kelompok yang mengalami luaran kematian dan kelompok yang masih hidup saat keluar dari rumah sakit, kemudian ditelusuri secara retrospektif untuk mengetahui pengaruh kontrol antikoagulasi terhadap angka kematian di rumah sakit. Berdasarkan analisis multivariat terhadap 140 subyek ditemukan bahwa variabel yang secara statistik berhubungan dengan outcome kematian di rumah sakit adalah penyakit penyerta sepsis (OR = 6,721; 95% CI = 2,3-19,1; p = 0,000) dan penggunaan aspirin bersamaan dengan warfarin (OR = 0,374; 95% CI = 1,1-0,9; p = 0,032). Kontrol antikoagulasi pada penggunaan warfarin tidak berpengaruh secara bermakna terhadap kematian di rumah sakit pada pasien stroke iskemik dengan atrial fibrilasi (OR = 0,316; 95% CI = 0,6-4,3; p = 1,651). Namun, subyek dengan kontrol antikoagulasi buruk memiliki risiko kematian yang lebih tinggi sebesar 2 kali dibandingkan dengan subyek dengan kontrol antikoagulasi baik berdasarkan analisis bivariat.
Stroke in patients with atrial fibrillation can increase the risk of mortality, which is a consequence of the occurrence of thromboembolism. Thromboprophylaxis can be achieved with anticoagulant drugs such as warfarin. But the administration must be continuously controlled to minimize bleeding complications. Controlling the level of blood dilution or anticoagulation control checked with the International Normalized Ratio (INR) with a target of 1,5-2,0. Effective anticoagulation control is expected to reduce mortality. This study was conducted using case-control method, through the medical records of patients in 2008-2012, patients with a primary diagnosis of ischemic stroke and a secondary diagnosis of atrial fibrillation receiving warfarin therapy were divided into groups who experienced outcomes of death and groups who are still alive when discharged from the hospital, then traced retrospectively to determine the effect of anticoagulation control of mortality in hospital. Based on multivariate analysis of 140 subjects found that variables related to the outcome of hospitalized death are comorbidities of sepsis (OR = 6,721; 95% CI = 2,3-19,1; p = 0,000) and use of aspirin together with warfarin (OR = 0,374; 95% CI = 1,1-0,9; p = 0,032). The anticoagulation control of warfarin does not significantly affect the hospitalized mortality in ischemic stroke patients with atrial fibrillation (OR = 0,316; 95% CI = 0,6-4,3; p = 1,651). However, subjects with poor anticoagulation control had a higher death risk by 2 times compared with subjects with good anticoagulation control based on bivariate analysis.
Kata Kunci : Warfarin, INR (International Normalized Ratio), kontrol antikoagulasi, mortalitas, stroke iskemik, atrial fibrilasi