EVALUASI BANGUNAN KONSTRUKSI BAJA RINGAN DAN KONSTRUKSI KAYU DITINJAU DARI ASPEK EKONOMI (Studi Kasus: Pembangunan Rumah Jabatan Eselon II, Eselon III dan Kantor Badan/Dinas di Kabupaten Pegunungan Bintang Papua)
Frengky Kowal, Arief Setiawan Budi Nugroho, ST., M.Eng., Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilDaerah Kabupaten Pegunungan Bintang terletak pada daerah pedalaman dan jauh dari akses keluar,dengan akses keluar melalui transportasi udara yakni pesawat. Bahan non lokal semua didatangkan dari luar daerah melalui transportasi udara.Harga kebutuhan pokok dan bahan bangunan sangatlah mahal, sehingga masalah ini yang membuat pemerintah daerah mencari solusi untuk menekan pengeluaran anggaran. Dalam rangka membangunan fasilitas sarana dan prasarana pelayanan publik bagi masyarakat, solusi yang diambil adalah pembangunan yang sederhana dengan memakai bahan kayu. Namun bahan kayu sudah mulai susah dijangkau dan hanya mengandalkan pengangkutan secara manual dengan memakai tenaga manusia, yang mengakibatkan harga kayu melambung tinggi dan berdampak pada penebangan liar dimana-mana,dan makin sulit memperoleh kayu akibat pemberlakuan illegal logging. Pemerintah daerah mengambil langkah-langkah dengan mencari bahan alternatif pengganti atau membatasi bahan kayu. Sebagai bahan alternatif pengganti adalah pemakaian struktur baja ringan. Dengan kelebihannya yaitu ringan, mudah dikerjakan, bergaransi, waktu konstruksi yang cepat, serta harga yang bersaing dengan kayu Untuk mengevaluasi keandalan dari bangunan yang berkonstruksi baja ringan dan yang berkonstruksi kayu ditinjau dari aspek ketahanan bangunan dari permasalahan kebocoran, ketahanan bangunan dari permasalahan kebisingan dan segi cuaca ekstrim, berdasarkan persepsi para pengguna bangunan dan penelitian menggunakan alat. Selain itu juga dibandingkan aspek pembiayaan dari pemeliharaan/perawatan antara bangunan yang berkonstruksi baja ringan dan yang berkonstruksi kayu.Instrumen penelitian berupa kuesioner dan pengamatan dengan menggunakan alat yakni termometer ruangan dan sound level meter. Metode penelitian ini menggunakan analisis statistik dan analisis ekonomi yaitu untuk mengetahui apakah investasi yang dilakukan dapat memberikan keuntungan atau tidak. Dalam manajemen keuangan, konsep nilai uang terhadap waktu dipraktekkan dalam perhitungan nilai uang saat ini (present value). Hasil yang didapat dari analisis secara statistik menunjukkan bahwa dari permasalahan kebocoran dan permasalahan kebisingan maupun cuaca yang ekstrim tidak terdapat perbedaan yang signifikan baik bangunan yang berkonstruksi baja ringan maupun kayu. Tingkat redaman suhu pada bangunan rumah yang berkonstruksi baja ringan rata-rata meredam suhu sebesar 20C sedangkan pada rumah yang berkonstruksi kayu meredam suhu sebesar 30C. Selanjutnya pada redaman tingkat kebisingan pada bangunan rumah yang berkonstruksi baja ringan meredam suara rata-rata sebesar 5 desibel sedangkan pada rumah yang berkonstruksi kayu meredam suara rata-rata sebesar 6 desibel. Sedangkan nilai NPV pada bangunan berkonstruksi baja ringan memerlukan biaya sebesar Rp. 29.661.417.792,- dan pada bangunan berkonstruksi kayu memerlukan biaya sebesar Rp. 26.793.762.936,-. Persentase perbandingan biaya antara bangunan yang berkonstruksi baja ringan dan bangunan yang berkonstruksi kayu adalah sebesar 110,7%
Having situated in remote area and far from access, air transportation is the mainly access to and from The Regency of Pegunungan Bintang. Non local materials are all imported through air transportation means. Consequently, basic needs and construction material become expensive. To cope with this problem, the government strives to find solutions for minimizing the budget. In order to provide public structure and infrastructure facilities, simple construction using timber as the material is considered as the solution. However, timber has become difficult to reach and the only dependable transportation mean is manual transportation by using man power. This condition will cause high price of timber and also trigger illegal logging. Regional government takes precautious actions by searching for alternative material or by reinforcing limitation on timber usage. light steel construction is one of the alternative materials to be used. It has various advantages, such as lightweight, tractable, guaranteed, fast construction time and with comparative price to timber. In evaluating the reliability of the structures either with light steel construction or timber construction, various aspects are analyzed. These aspects consist of the structure consistency from leakage, noise and extreme weather, the user perception and research with instruments. Moreover, comparison of maintenance cost between light steel construction and timber construction was observed. The instruments used in this study included questionnaires and observation by using several instruments such as sound level meter. The method used in this statistical analysis and economy analysis was aimed to identify the investment profitability. Based on the financial management concept, the money value applied was the present value of money. Statistical analysis results indicated that there was no significant difference in the aspects of leakage, noise and extreme weather between light steel and timber constructions. In houses with light steel construction and timber construction, the average temperature damping was 20C and 30C, respectively. Houses with light steel and timber constructions showed average noise damping of 5 decibel and 6 decibel, respectively. The NPV values of houses with light steel and timber construction were Rp. 29.661.417.792,- and Rp. 26.793.762.936,-, respectively. The percentage of cost comparison between light steel and timber construction was 110,7%.
Kata Kunci : Konstruksi Baja ringan. Konstruksi Kayu, Pemeliharaan