FAKTOR RISIKO GANGGUAN PENDENGARAN PADA NEONATUS
Luh Putu Maharani, dr. Ekawaty Lutfia Haksari, MPH, SpA(K)
2013 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDSDiperkirakan lebih dari 6 dari 1000 kelahiran hidup menderita ketulian permanen pada saat kelahiran atau masa neonatus dan paling tidak 90% terdapat di negara-negara berkembang. Gangguan pendengaran perlu diketahui sedini mungkin karena intervensi harus dilakukan sebelum usia 6 bulan. Faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran sampai saat ini masih diperdebatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran pada neonatus. Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol dan pemilihan sampel dilakukan dengan metode konsekutif. Penelitian ini dilakukan pada neonatus yang dirawat di Ruang Perinatologi RSUP Sanglah Denpasar, dari 1 April 2012 sampai dengan 28 Pebruari 2013. Selama periode penelitian didapatkan penggunaan terapi aminoglikosida merupakan paparan yang paling banyak pada kelompok kasus (70%) dan pada semua subyek penelitian (30%). Analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berhubungan bermakna dengan gangguan pendengaran yaitu pengunaan aminoglikosida lebih dari atau sama dengan 14 hari dengan RO 2,7 (IK 95% 1,0; 6,8). Tidak didapatkan hubungan bermakna antara gangguan pendengaran dengan asfiksia berat, hiperbilirubinemia, meningitis, dan ventilasi mekanik. Pada penelitian ini dapat disimpulkan penggunaan aminoglikosida ≥14 hari merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran pada neonatus.
It has been estimated more than 6 of 1000 live births suffer from permanent hearing loss at birth or the neonatal period and at least 90% are in developing countries. Hearing loss need to diagnose as early as possible because of the intervention should be carried out before the age of 6 months. Risk factors for hearing loss in neonates are still not clear. The objective of this study was to determine the risk factors of hearing loss in neonates. This was a case control study with consecutive sampling. This study included neonates who admitted to Perinatology ward at Sanglah Hospital from 1 April 2012 until 28 February 2013. During the period, the use of aminoglycoside therapy was the most exposure obtained in the case group (70%) and in all study subjects (30%). Multivariate analysis showed the use of aminoglycoside ≥ 14 days was significant risk factor associated with hearing loss with OR 2.7 (95% CI 1.0; 6.8). There were no statistically significant between hearing loss with severe asphyxia, hyperbilirubinemia, meningitis, and mechanical ventilation. We concluded that use of aminoglycoside ≥ 14 days was risk factor that associated with hearing loss in neonates.
Kata Kunci : Gangguan pendengaran, neonatus, faktor risiko