Laporkan Masalah

UJI BANDING ANTARA PEMBERIAN FENTANIL 1 µG/KG DAN LIDOKAIN 1,5 MG/KG IV UNTUK MENURUNKAN KEJADIAN BATUK SAAT EKSTUBASI SADAR PADA ANESTESI UMUM DENGAN PIPA ENDOTRAKEA

dr. Fauzi Abdillah Susman, dr. Calcarina Fitriani R W., Sp.An., KIC.

2013 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDS

Pendahuluan: Batuk dan bucking selama pemulihan dari anestesi umum adalah respon fisiologis saat ekstubasi trakea. Pipa endotrakea sebagai benda asing menyebabkan rangsangan iritasi dan taktil yang memicu refleks jalan napas. Insiden batuk selama ekstubasi adalah sekitar 70%. Banyak ahli yang membuktikan efikasi lidokain intravena untuk mengurangi batuk dan respon refleks hemodinamik saat ekstubasi trakea. Secara teoritis, pemberian agonis opioid juga dapat mengurangi batuk selama ekstubasi. Fentanil merupakan salah satu obat pilihan karena potensi yang lebih besar untuk mengurangi batuk saat ekstubasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek fentanil 1 μg/kg intravena dibandingkan lidokain 1,5 mg/kg intravena dalam menurunkan kejadian batuk saat ekstubasi sadar. Tata cara: Telah dilakukan sebuah penelitian acak terkontrol dan buta ganda terhadap 132 pasien laki-laki dan perempuan,usia 18-60 tahun, status fisik ASA I-II yang menjalani pembedahan obstetri ginekologi atau ortopedi, onkologi, urologi, pencernaan dan bedah plastik dengan anestesi umum intubasi endotrakea pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi secara acak kedalam salah satu kelompok F atau L yang masing-masing menerima fentanil 1μg/kg atau lidokain1,5 mg/kg sebelum ekstubasi. Setiap pasien mendapatkan teknik anestesi yang sama. Batuk dinilai pada saat, 5 menit setelah ekstubasi dan saat masuk ruang pemulihan (PACU) sebagai keluaran primer. Pasien disebut batuk bila skor batuk 3-4. Tekanan darah, laju denyut jantung, laju napas, saturasi oksigen dan sedasi dianalisis sebagai keluaran sekunder. Mual-muntah dan nyeri tenggorokan juga dinilai dan dikelola di PACU. Hasil: Tidak ada satupun pasien yang mengalami batuk derajat 3-4 atau spasme laring saat ekstubasi, 5 menit sesudah ekstubasi dan saat masuk PACU. Beratnya batuk yang ditemukan adalah skor 1 dan 2. Kejadian batuk derajat 1 saat ekstubasi sebanyak 10 pasien (15,2%) kelompok fentanil dan 22 pasien (33,33%) kelompok lidokain, sedangkan derajat 2 sebanyak 7 pasien (7%) dari kelompok fentanil dan 20 pasien (30,3) kelompok lidokain. Perbedaan ini bermakna secara statistik. Kesimpulan: Pemberian fentanil 1 μg/kg i.v saat penutupan kulit sama baiknya dengan lidokain 1,5 mg/kg i.v 2 menit sebelum ekstubasi untuk mencegah kejadian batuk yang berat saat ekstubasi sadar, tetapi fentanil lebih efektif menekan timbulnya refleks batuk saat ekstubasi sadar dibandingkan lidokain tanpa perangsangan simpatis, depresi pernapasan dan spasme laring.

Introduction: Coughing and bucking during recovery from general anesthesia was the physiological responses to tracheal extubation. Endotracheal tube as a foreign body caused irritation and tactile stimuli which elucidated airway reflexes. Incidence of coughing during extubation was about 70%. Many experts have proofed effectivity of intravenous lidocaine to reduce coughing and hemodynamic reflex responses during tracheal extubation. Theoretically, administration of an opioid agonist also attenuates coughing during extubation. Fentanyl was the option because of the advantages in reducing cough reflex during extubation. Aim of the study were to compare the effect between administration of fentanyl 1 μg kg-1 and lidocaine 1,5 mg kg-1 intravenously to reduce coughing during awake extubation. Methods: This randomized controlled double blinded trial was conducted in 2012 December until 2013 January. One hundred and thirty two, male and female patients, aged 18-60 years old, ASA physical status I-II underwent the obstetric-gynecologic or orthopedic, oncologic, urologic, digestive and plastic surgery under general anesthesia were included. The patients who fulfilled inclusion and exclusion were randomly assigned into one of F (fentanyl) or L (lidocaine) group who received 1μg kg-1 or 1,5 mg kg-1 before extubation, respectively. Each patient had same anesthetic techniques. Coughing were assessed during extubation, 5 minutes after extubation and at PACU admission. Patients referred as cough when cough score 3-4. Hemodynamic changes and sedation were recorded as secondary outcomes. PONV and sore throat were also compared and managed in the PACU. Results: There were no patient whom suffered from grade 3 or 4 coughing or laryngospasms during extubation or 5 min after extubation or at PACU admission. Cough severity found were grade 1 and 2. Incidence of grade 1 coughing at extubation were 10 patients (15.2%) in fentanyl group and 22 patients (33.3%) in lidocaine group, while grade 2 coughing were 7 patients (7%) in fentanyl group and 20 patients (30.3%) in lidocaine group. The difference were statistically significant. Conclusions: Administration of 1 μg/kg of fentanyl i.v at skin closure has similar efficacy to avoid incidence of heavy coughing during extubation when compared with administration of 1.5 mg/kg i.v of lidocaine at 2 minutes before extubation, but fentanyl showed better attenuation for the cough reflex during extubation without sympathetic stimulation, respiratory depression or laryngospasm.

Kata Kunci : batuk, ekstubasi sadar, lidokain, fentanil


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.