Laporkan Masalah

SUBJECTIVE WELL-BEING DITINJAU DARI FORGIVENESS DAN PROACTIVE COPING PADA IBU TUNGGAL KARENA PERCERAIAN YANG BEKERJA SEBAGAI PNS PADA PEM. PROV. JATENG

ANNISSA FITRIASRI, Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, Psi

2013 | Tesis | S2 Psikologi

Kesejahteraan subjektif adalah hal utama yang ingin diraih oleh setiap orang termasuk ibu tunggal. Kesejahteraan subjektif terdiri dari komponen kognitif dan afektif. Pemaafan terdiri dari pemaafan terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi, sedangkan coping proaktif adalah upaya seseorang dalam mengatasi tantangan dan pengembangan diri secara proaktif. Penelitian ini merupakan kajian psikologi positif yang bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan subjektif ditinjau dari pemaafan dan coping proaktif pada ibu tunggal karena perceraian yang bekerja sebagai PNS pada Pem. Prov. Jateng. Subjek penelitian ini berjumlah 34 orang yang dipilih teknik purposive sampling, dengan karakteristik berusia 25 s.d 45 tahun, pendidikan terakhir minimal setingkat SMU, memiliki anak yang diasuhnya, lamanya menjadi ibu tunggal adalah lebih dari 1 sampai dengan 4 tahun. Alat pengumpul data yang digunakan adalah adaptasi dari Satisfaction With Life Scale (SWLS) oleh Diener, Emmons, Larsen dan Griffin, Positive Affect and Negative Affect Scales (PANAS) oleh Watson, Clark dan Tellegen, Heartland Forgiveness Scale (HFS) oleh Thompson dan Snyder serta Proactive Coping Inventory oleh Greenglass, Schwarzer dan Taubret. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis regresi dengan menggunakan program SPSS for windows versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pemaafan dan coping berperan positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif (F= 19,515; p < 0.00; R=0.747 and R2 = 0.557), (2) sumbangan prediktor (R2) pemaafan dan coping proaktif adalah 55,7 %, (3) pemaafan memiliki peran positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif (B = 1,320, p < 0.05, dan sumbangan efektif = 31,4 %), (4) coping proaktif memiliki peran positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif (B = 0,288, p < 0.05, dan sumbangan efektif= 24,3 %).

Subjective well being is the important thing for everyone, single mother included. Subjective well being has cognitive and afektif components. Forgiveness may be oneself, another person, or a situation. The proactive individual strives for life improvement and builds up resources that assure progress and quality of functioning. This research aims to identify subjective well being viewed from forgiveness and proactive coping among divorced single mothers who works as officials in Government of Central Java Province. Subjects of this study were 34 people selected using purposive sampling. These single mothers are 25 to 45 years old, finished at least the education level of high school, have children in her nurture, and already be a single mother over one to four years. Data collection instruments utilized were adaptation of Satisfaction With Life Scale (SWLS) by Diener, Emmons, Larsen, and Griffin, Positive Affect and Negative Affect Scales (PANAS) by Watson, Clark, and Tellegen, Heartland Forgiveness Scale (HFS) by Thompson and Snyder, and Proactive Coping Inventory by Greenglass, Schwarzer and Taubert. Data collected were analyzed using regression analysis with the help of SPSS for windows version 16.0. Result showed that (1) there was a positive and significant effect of forgiveness and proactive coping on subjective well being among divorced single mothers (F= 19,515; p < 0.00; R=0.747 and R2 = 0.557), (2) the contribution of the predictor of forgiveness and proactive coping was 55,7 %, (3) forgiveness had a positive and significant effect on subjective well being (B = 1,320, p < 0.05, and effective contribution = 31,4 %), (4) proactive coping had a positive and significant effect on subjective well being (B = 0,288, p < 0.05, and effective contribution= 24,3 %)

Kata Kunci : kesejahteraan subjektif, pemaafan, coping proaktif, ibu tunggal karena perceraian.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.