Laporkan Masalah

PENGARUH PEMBERITAAN MEDIA MASSA DAN PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG PERILAKU AGRESIF MAHASISWA DALAM AKSI UNJUK RASA TERHADAP KETAHANAN SOSIAL BUDAYA (Studi di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan)

Mochammad Nurdi Iriansyah, Dr. Fathul Himam, M.Psi, M.A

2013 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini berjudul pengaruh pemberitaan media massa dan persepsi masyarakat tentang perilaku agresif mahasiswa dalam aksi unjuk rasa terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. penelitian ini berjenis kuantitatif dengan menggunakan tekhnik pengampilan sampel “purposive sampling”. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak empat ratus orang. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat di tiga kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak dari ke-14 kecamatan yang ada di Kota Makassar. Kecamatan-kecamatan tersebut diantaranya; Kecamatan Tamalate, Kecamatan Biringkanaya, dan Kecamatan Rappocini. Selain menggunakan metode angket, penelitian ini juga menggunakan metode wawancara yang dilakukan terhadap masyarakat sebanyak tiga puluh orang dengan latar belakang bidang pekerjaan/profesi yang berbeda-beda seperti; supir angkot (pete-pete), supir taksi, guru SMU, wiraswastawan, pegawai negeri, pegawai swasta, dan ibu rumah tangga serta profesi pekerjaan lainnya. Tekhnik analisis data yang digunakan adalah menggunakan tekhnik analisis regresi linier dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pemberitaan media massa memberikan pengaruh terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat sebesar 0,338 atau 33,8%. Artinya bahwa media massa sebagai media komunikasi massa dalam pemberitaannya memiliki pengaruh kuat, dengan sifatnya yang bersifat langsung dan segera serta sama kepada semua individu penggunanya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh pemberitaan media massa ini terjadi, karena media massa memiliki keaktifan dalam memberitakan setiap peristiwa yang tengah menjadi perhatian masyarakat, juga karena adanya keaktifan dari individu dalam mencari berbagai informasi yang diperlukannya. 2) Persepsi masyarakat tentang perilaku agresif mahasiswa dalam aksi unjuk rasa memberi pengaruh terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat sebesar 0,021 atau 2,1%. Artinya, pengaruh persepsi masyarakat tentang perilaku agresif mahasiswa tidak begitu kuat seperti pengaruh yang diberikan oleh pemberitaan media massa, namun demikian tetap berpengaruh bagi ketahanan sosial budaya masyarakat. Lemahnya pengaruh tersebut, lebih dikarenakan dalam menghasilkan persepsi, setiap individu selaku penghasil persepsi masih banyak dipengaruhi oleh beberapa hal seperti; latar belakang pengalaman, pendidikan, dan keadaan emosi. 3) Terdapat perbedaan pengaruh antara pengaruh pemberitaan media massa dengan pengaruh persepsi masyarakat tentang perilaku agresif mahasiswa dalam aksi unjuk rasa terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat. Terjadinya perbedaan ini, karena pada pemberitaan media massa pengaruh yang ditimbulkan lebih bersifat langsung, dan sama bagi setiap individu. Sedangkan pada persepsi masyarakat tentang perilaku agresif mahasiswa dalam aksi unjuk rasa memberi pengaruh yang lebih kecil, hal itu disebabkan ketika individu mempersepsikan apa yang dilihat dari lingkungan tidaklah sama antara satu dengan individu yang lainnya atau dengan kata lain terjadi keragaman dalam hasil persepsi, adanya keragaman inilah yang menyebabkan pengaruh disini lebih kecil atau lebih sedikit. Namun demikian pada penelitian ini ditemukan bahwa kedua variabel (X1 dan X2) secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat di Kota Makassar sebesar 37,2%. Besaran angka 37,2% yang dihasilkan ini mengartikan bahwa pemberitaan media massa (tentang perilaku agresif mahasiswa) memberi pengaruh langsung terhadap masyarakat penerimanya. Adanya persepsi (dari sebagian masyarakat) yang menyatakan kalau unjuk rasa anarkis itu adalah hal yang wajar dan biasa terjadi di negara manapun, turut menyumbang pengaruh, dimana akibat adanya persepsi demikian membuat semangat mahasiswa untuk melakukan aksi unjuk rasa semakin kuat. Akibatnya unjuk rasa anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa semakin sering terjadi dan semakin menimbulkan keresahan bagi masyarakat lainnya (keresahan ini menunjukkan kalau sikap saling menghargai terhadap adanya perbedaan di lingkungan masyarakat tengah menurun, dan hal itu juga menunjukkan kalau ketahanan sosial budaya mereka tengah menurun). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa di Kota Makassar dalam merespon berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat saat ini tengah mengalami pergeseran ke arah yang bersifat negatif, mereka (mahasiswa) dalam merespon berbagai masalah, merespon dengan melakukan berbagai kegiatan unjuk rasa yang tak jarang diwarnai dengan pemunculan perilaku yang bersifat anarkis. Terjadinya berbagai unjuk rasa anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa ini tidak lepas dari adanya pengaruh pemberitaan media massa dan persepsi masyarakat tentang unjuk rasa itu sendiri. Maraknya peristiwa unjuk rasa yang terjadi tersebut menunjukkan kalau ketahanan sosial budayanya tengah mengalami penurunan.

The study is titled the influence of the mass media and public perception of the aggressive behaviour of students in a protest against social and cultural resilience in Makassar, South Sulawesi Province. This type of quantitative research using a technique easier sample \\"purposive sampling\\". The samples used as many as four hundred people. The research was conducted on people in the three districts that had the largest population of the 14 districts in the city of Makassar. The sub-districts including; District Tamalate, Biringkanaya District, and District Rappocini. In addition to using questionnaires, this study also using interviews with as many as thirty people with a background field of work or profession different such as public transportation drivers (pete-pete), taxi drivers, high school teachers, entrepreneurs, public servants , private employees, and housewives as well as other professions. Data analysis technique used is to use linear regression analysis techniques and multiple linear regression. The results showed: 1) The news media influence on social and cultural resilience of 0.338 or 33.8%. It means that the mass media as a medium of mass communication in its message has a strong influence, with nature is direct and immediate, and the same to all individual users. The effect caused by the mass media is the case, because the mass media has reported any activity in the middle of the event to the attention of the public, as well as the activity of individuals in search of a variety of information needs. 2) Public perception of aggressive behaviour in a student protest against the influence of socio-cultural resilience of 0,021 or 2.1%. The influence of public perceptions of student aggressive behaviour is not as strong as the effect given by the mass media, however, remain in effect for the social and cultural resilience. The weak impact, generating more due to the perception, the perception of individuals as producers are still heavily influenced by several things such as the background of experience, education, and emotional state. 3) There is a difference between the effect of the influence of the mass media to influence public perception of the aggressive behaviour of students in a protest against social and cultural resilience. The occurrence of this difference, because the mass media influence posed more direct, and the same for every individual. While the public perception of aggressive behaviour in the student protests a smaller influence, it is caused when individuals perceive what is seen of the environment is not the same from one individual to another or in other words occur in the result of the perception of diversity, the diversity is which causes the effect here is smaller or fewer. However, in this study it was found that the two variables (X1 and X2) jointly bring about a social and cultural resilience in Makassar was 37.2% Massive numbers generated 37.2% This means that the mass media (about the aggressive behaviour of students) have a direct influence on the recipient. The perception (of some people) that states that the anarchist protest is normal and common in any country, also contributes to the effect, where as a result of this perception makes the spirit of students to protest the stronger. Consequently anarchist demonstrations conducted by the students are becoming more frequent and increasingly cause unrest to other communities (this unrest indicate that mutual respect for the differences in society was declining, and it also shows that the social resilience of their culture was declining) Based on these results it can be concluded that the students in the city of Makassar in response to the problems of social life is currently experiencing a shift toward the negative, they (students) in response to a variety of problems, respond by doing various activities protests that often characterized by the appearance of behavioral who are anarchists. Occurrence of various anarchist demonstrations conducted by the students is not separated from the influence of the mass media and public perception of the protest itself. The rise of protest events that occurred that indicate that the social resilience atmitted declining culture.

Kata Kunci : Pemberitaan media massa, persepsi masyarakat, ketahanan sosial budaya masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.