ANALISIS MORFOMETRI BANGUNAN UNTUK EVALUASI PENATAAN RUANG KAWASAN MALIOBORO
RIVI NERITARANI, Dr. R. Suharyadi, M.Sc.
2013 | Skripsi | KARTOGRAFI DAN PENGINDRAAN JAUHKawasan Malioboro merupakan salah satu kawasan khusus di Kota Yogyakarta. Sebagai kawasan khusus, kawasan ini memiliki penataan ruang yang berbeda dengan kawasan lain, salah satunya adalah pengaturan tentang ketinggian bangunan. Ketinggian bangunan di kawasan ini tidak boleh melebihi pandangan bebas 45° dari batas terluar jalan di seberangnya. Tujuan dalam penelitian ini, yaitu (1) melakukan zonasi ketinggian bangunan di kawasan Malioboro, (2) mengetahui efektivitas penggunaan data DEM LiDAR untuk menyadap data ketinggian bangunan, dan (3) mengevaluasi penataan ruang Kawasan Malioboro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penggunaan data DEM LiDAR untuk memperoleh data morfometri bangunan, khususnya data ketinggian bangunan, serta metode matching untuk mengevaluasi penataan ruang kawasan. Ketinggian bangunan diperoleh dengan perhitungan secara matematis, yaitu dengan mengurangkan nilai ketinggian dari data DEM LiDAR dengan ketinggian tanah permukaan di area tersebut. Metode untuk mengetahui efektivitas data DEM LiDAR untuk memperoleh data ketinggian adalah membandingkan nilai ketinggian bangunan dari data DEM LiDAR dengan nilai hasil pengukuran lapangan. Analisis data untuk evaluasi tata ruang dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai ketinggian bangunan, nilai KDB, dan nilai KLB aktual di lapangan dengan standar nilai dalam Peraturan Walikota Nomor 88 Tahun 2009. Hasil perbandingan ini menghasilkan nilai penyimpangan yang terjadi dan nilai kesesuaian antara kondisi aktual dengan regulasi penataan ruang yang ada. Hasil dari penelitian ini dapat digeneralisasi yaitu nilai efektivitas data DEM LiDAR dan hasil evaluasi tata ruang. Akurasi total dari nilai ketinggian bangunan yang diperoleh dari data DEM LiDAR pada penelitian ini mencapai 89,41% dengan nilai kesalahan pengukuran sebesar 10,59%. Akurasi yang mencapai lebih 85% menunjukkan bahwa data DEM LiDAR efektif digunakan sebagai sumber data dalam memperoleh data ketinggian bangunan. Hasil zonasi ketinggian bangunan menunjukkan bahwa terdapat 179 bangunan yang ketinggiannya melebihi standar ketinggian bangunan maksimum yang ditetapkan. Terjadi penyimpangan ketinggian bangunan sebesar 7,50%. Kesesuaian ketinggian bangunan di Kawasan Malioboro mencapai 92,50%, sehingga dapat disimpulkan bahwa Kawasan Malioboro memiliki tingkat kesesuaian tinggi untuk ketinggian bangunan.
Malioboro area is one of special area ini Yogyakarta. As a special area, Malioboro has a different spatial planning compare to the other areas. Malioboro has a different regulation about building height. The building height in Malioboro is not allowed to be more than the limit of 45 degrees of sky line from the limit line of the opposite street. The objectives in this research are (1) to make zone of the building height in Malioboro, (2) to analyse the effectivity of LiDAR DEM data utilization to acquire the building height data, and (3) to evaluate the spatial planning of Malioboro. This research use LiDAR DEM (Digital Elevation Model) data approach to acquire the building morphometry data especially the building height data, and use matching method to evaluate the spatial planning of Malioboro. The building height data acquired by mathematical calculation, by subtracts the height value from DEM with the surface height value in that area. The method to analyse the effectivity of LiDAR DEM data utilization to acquire the building height data is comparing the building height value from LiDAR DEM data and the building height value from the measurement field survei. Data analysis to evaluate the spatial planning of Malioboro is based on the comparation result between the actual value of the building height value, the Building Based Coefficient value, and the Building Storey Coefficient value with the standard value in the Regulation of the Yogyakarta Mayor City Council Number 88 in 2009. The result of the comparation produces a divergency value and suitability value between the actual condition and the spatial planning regulation in Malioboro. The result of this research are the effectivity value of LiDAR DEM data and the result of the spatial planning evaluation. The total accuration of the building height which acquired from LiDAR DEM data in this research is 89,41%, with a measurement error until 10,59%. The accuration which reach more than 85%, indicates that LiDAR DEM data is effectively to use as a data source to acquired the building height data. The result of the building height zonation reveal that there are 179 buildings in Malioboro which have the height over from the maximum standard building height. There are 7,5% divergency of the building height. The suitability of the building height in Malioboro is 92,50%. So the conclusion is Malioboro has a high suitability of the building height.
Kata Kunci : Ketinggian Bangunan, Evaluasi Penataan Ruang Kawasan, Data DEM LiDAR