Laporkan Masalah

GANGGUAN PENGHIDU PADA PEKERJA DENGAN PAPARAN GAS KLORIN INDUSTRI TEKSTIL

Wahyu Sigit Purnomo, DR. dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT-KL.,M.Kes, ; Dr. Siswanto Sastrowijoto, Sp.THT-KL.,M.H,

2013 | Tesis | S2 Ilmu Penyakit THT

diobati, hal ini karena kurangnya pengetahuan individu. Salah satu sebab dari gangguan penghidu yaitu adanya pengaruh paparan agen toksik yang dapat merusak mukosa pada indera penghidu. Salah satu zat toksik adalah polutan dari industri yang salah satunya adalah Klorin. Industri yang biasa menggunakan klorin dalam jumlah besar dan melibatkan banyak tenaga kerja adalah industri tekstile dan karet Tujuan Penelitian: untuk menentukan fungsi penghidu pekerja industri PT. AP dengan paparan gas Klorin dan tidak dengan paparan gas Klorin. Metode Penelitian: rancangan penelitian menggunakan analytic cross sectional untuk mengetahui perbedaan fungsi penghidu pekerja industri PT. AP dengan paparan gas Klorin dan pekerja tidak dengan paparan gas Klorin. Subyek penelitian 80 orang yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu 40 orang terpapar klorin dan 40 orang yang tidak terpapar klorin. Kriteria penelitian yaitu kriteria inklusi: 1) Laki-laki dan perempuan, 2) usia 20–55 tahun, 3) Tidak menggunakan obat tetes hidung dalam 1 bulan terakhir, 4) setuju mengikuti penelitian, dan 5) Orang yang berada pada area bebas kadar Klorin di udara sekitarnya. Kriteria eksklusi: 1) Penderita rhinitis, 2) Riwayat trauma kepala dan hidung, 3) Riwayat operasi hidung, 4) Riwayat merokok, 5) Penderita alergi, 6) Penderita gangguan saraf pusat, dan 7) Penderita tumor hidung. Hasil Penelitian: terdapat perbedaan bermakna gangguan penghidu antara kelompok terpapar klorin dengan kelompok bebas klorin (p < 0,05; p = 0,012). Orang-orang terpapar klorin mempunyai kemungkinan sebesar 6,333 kali atau 86,36% untuk mengalami gangguan penghidu dibandingkan orang-orang bebas klorin. Umur memberikan sumbangan bermakna (p < 0,05) pada gangguan penghidu sebesar 6,882 kali atau 87,31%. Jenis kelamin memberikan sumbangan yang tidak bermakna (p > 0,05) pada gangguan penghidu sebesar 1,071 kali atau 51,71%. Lama kerja memberikan sumbangan bermakna (p < 0,05) pada gangguan penghidusebesar 7,875 kali atau 88,77%. Kesimpulan: paparan gas klorin menyebabkan gangguan penghidu dalam rentang waktu tertentu. Orang-orang pada lingkungan terpapar klorin mempunyai kemungkinan sebesar 6,333 kali atau 86,36% untuk mengalami gangguan penghidu dibandingkan orang-orang dalam lingkungan bebas klorin. Gangguan penghidu pada orang-orang yang bekerja pada lingkungan terpapar klorin dipengaruhi oleh lama kerja sebesar 7,875 kali atau 88,77%.

Background: smelling disorders are generally difficult to diagnose and treat, this is due to lack of knowledge ofthe individual. One of the causes of the smelling disorder is the influence of exposure to toxic agents that can damage the mucous smelling senses. One of the substances are toxic pollutants from industry, one of which is chlorine. Industry that commonly uses chlorine in large quantities and involve many labor-intensive are textile and rubber industries. Objective: to determine the smelling function of PT. AP industrial workers with chlorine gas exposure and without chlorine gas exposure. Study method: the study design using the analytic cross sectional study to examine differences in the smelling function of PT. AP industrial workers with exposure to chlorine gas and workers without exposure to chlorine gas. The study subject are 80 people that were divided into two groups: 40 people are exposed to chlorine and 40 people are not exposed to chlorine. Criteria for the study were inclusion criteria: 1) Men and women, 2) age 20-55 years, 3) Do not use nose drop drugs in the last 1 month, 4) consent to follow the study, and 5) People who are in the free chlorine area in the surrounding air. Exclusion criteria: 1) Patients with rhinitis, 2) history of head and nose trauma, 3) History of rhinoplasty, 4) history of smoking, 5) patient with allergy, 6) Patients with central nervous system disorders, and 7) Patients with nasal tumors. Study results: there were significant differences of smelling disorders between the group exposed to chlorine with chlorine-free group (p < 0.05, p = 0.012). People exposed to chlorine has a probability of 6.333 times or 86.36% to experience smelling disorders compared to chlorine free people. Age contributed significantly (p < 0.05) at smelling disorders of 6.882 times or 87.31%. Gender did not contribute significantly (p > 0.05) in smelling disorders of 1.071 times or 51.71%. Working duration contributed significantly (p < 0.05) at smelling disorders of 7.875 times or 88.77%. Conclusion: chlorine gas exposure cause smelling disorders within a certain time frame. People on the environment are exposed to chlorine has a probability of 6.333 times or 86.36% to experience a smelling disorder compared to people in chlorine-free environment. Smelling disorders in people who work in environments exposed to chlorine is affected by working duration at 7.875 or 88.77%.

Kata Kunci : klorin, gangguan penghidu, lama bekerja


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.