Laporkan Masalah

PREVALENSI SEROPOSITIF TERHADAP ANTRAKS DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA PADA SAPI DI KABUPATEN SRAGEN DAN BOYOLALI

Heris Kustiningsih, Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, MP.,

2013 | Tesis | S2 Sain Veteriner

Antraks adalah penyakit zoonotik yang disebabkan oleh Bacillus anthracis. Kerugian ekonomi yang diakibatkan penyakit ini sangat besar. Upaya pencegahan dan pengendalian antraks di Jawa Tengah khususnya di Kabupaten Sragen dan Boyolali telah dilakukan, namun demikian kejadian antraks masih terus dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi seropositif pascavaksinasi antraks dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhinya pada ternak sapi di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Boyolali. Populasi target adalah sapi-sapi yang berada di kecamatankecamatan tertular antraks, baik di Kabupaten Sragen maupun Kabupaten Boyolali yaitu kecamatan Miri, Tanon, Klego dan Andong. Sampel peternak dipilih secara random sederhana dan pemilihan sampel ternak secara kluster, dengan asumsi kepemilikan per peternak dua ekor, dipilih 210 peternak dengan total ternak sebanyak 358 ekor. Pengujian serum dilakukan dengan ELISA dan data faktor resiko diambil dari kuesioner. Data disimpan, diolah menggunakan statistix versi 7 th (analytical software inc.). Analisis data meliputi; deskripsi statistik, analisis bivariat (χ 2 dan OR) dan analisis multivariat (regresi logistik dan regresi linier). Penelitian ini menunjukkan, dari 210 peternak di Kabupaten Sragen dan Boyolali, 92,9% memiliki pengetahuan mengenai antraks. Cakupan vaksinasi antraks di kedua kabupaten adalah 68,2% dari 358 ekor sapi. Total seropositif antibodi terhadap antraks pascavaksinasi mencapai 4,9%, tetapi di Kabupaten Sragen sendiri mencapai 13,2% dan Kabupaten Boyolali hanya 1,2%. Pembelian ternak enam bulan terakhir 26,3%, sapi dipelihara dengan kambing dan domba 31,0%, dan kondisi kandang bersih 96,9%. Faktor-faktor yang berasosiasi terhadap seropositif antraks secara bivariat adalah pengambilan sampel delapan minggu pascavaksinasi (OR=7,30), vaksinasi terakhir dibawah enam bulan (OR=5,98), Kecamatan Tanon (OR=3,92), Desa Ketro (OR=3,9), Kabupaten Sragen (OR=3,34), tujuan pemeliharaan untuk memenuhi kebutuhan hidup (OR=3,18), vaksinasi pertama di bawah enam bulan (OR=3,13), sapi dara (OR=2,29), daerah kasus antraks (OR=0,40), sapi dewasa (OR=0,34), vaksinasi terakhir diatas 6 bulan (OR=0,26), Kabupaten Boyolali (OR=0,23), kondisi kandang bersih (OR=0,20) dan Kecamatan Andong (OR=0,12). Faktor-faktor yang berpengaruh meningkatkan seropositif antraks berdasarkan analisis multivariat adalah pengambilan sampel delapan minggu pasacavaksinasi (β=+2,57), tujuan pemeliharaan ternak untuk memenuhi kebutuhan (β=+1,71) dan sapi dara (β=+1,27). Faktor-faktor yang berpengaruh mengurangi seropositif antraks berdasarkan analisis multivariat adalah daerah kasus antraks (β=- 1,32) dan kondisi kandang (β= -2,96). Faktor-faktor yang berpengaruh meningkatkan nilai titer antraks secara multivariat adalah pengambilan sampel delapan minggu pascavaksinasi (β=+19,27), Kabupaten Sragen (β=+10,64). Faktor-faktor yang berpengaruh mengurangi nilai titer antraks secara multivariat adalah daerah kasus antraks (β=-6,84) dan kondisi kandang (β=-16,30). Pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Sragen dan Boyolali belum memberikan kekebalan kelompok yang optimal, sehingga revaksinasi enam bulan sekali perlu dilakukan.

questio Anthrax is a zoonotic disease caused by Bacillus anthracis, and this disease caused economic loss. Prevention and control of anthrax in Central Java, particularly in Sragen and Boyolali has been done, however, the incidence of anthrax still continue to be reported. This study aims determined the prevalence of seropositive and the factors that influence the cattle in Sragen and Boyolali. Population target were cattle in high risk area in sub-districts in Sragen and Boyolali namely Miri, Tanon, Klego, and Andong. Samples of farmers were selected by simple random sampling and the cattles were taken by cluster sampling, respetively. With the assumption of two catlle ownership per farmer, 210 farmers with 358 cattle were selected. Serology testing was performed by ELISA method dan risk factor variabel were obtained by nnaire. Data was analyzed using 7 th version of statistix (analytical software Inc.). Analysis of data includes; statistic description, bivariate analysis (χ2 and OR) and multivariate analysis (logistic regression and linear regression). This research showed, from 210 farmers, 92.9% of them already knew about anthrax. Coverage anthrax vaccination in both districts were 68,2% from 358 cows. Comulative seropositive antibody against anthrax pastvaccination reached 4,9% but in Sragen it self reached 13.2% and in Boyolali only 1.2%. About 26.3% of cattle were bought in last six months, 31% cattle were keept with sheep and goat, and 96.95% their cage were clean. Risk factors associated to seropositive anthrax base on analysis bivariate were time to take serum specimens eight weeks postvaccination (OR=7,30), under six months postvaccination (OR=5,96), Tanon sub-district (OR=3,92), Ketro village (OR=3,9), Sragen district (OR=3,34), keep cattles as a livelihood (OR=3,18), under six months the first vaccination (OR=3,13), heifer (OR=2,29), location of anthrax cases of (OR=0,40), adult cow (OR=0,34), Boyolali district (OR=0,23), Andong subdistrict (OR=0,12), and cleanness of cage (OR=0,02). Base on logistic regression analysis, some risk factors which probability increase seropositive anthrax were time to take serum specimens eight weeks postvaccination (β=+2,57), keep cattles as a livelihood (β=+1,71) and heifer (β=+1,27). Risk factors which had probability to reduce seropositive anthrax were location of anthrax cases (β=-1,32) and cleanness of cage (β=-2,96). Base on linier regression analysis, some risk factors increased antibody titer of anthrax were time to take serum specimens in eight weeks postvaccination (β=+19,27) and Sragen district (β=+10,64). Risk factors reduced antibody titer of anthrax were location of anthrax cases (β=-6,84) and cleanness of cage (β=-16,30). Vaccination program in Sragen and Boyolali district did not produce the optimum herd immunity yet. Its needs to revaccination every six-months.

Kata Kunci : Antraks, prevalensi, faktor resiko, ELISA, Sragen, Boyolali.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.