Laporkan Masalah

ANALISIS KEMAMPUAN WADUK LAPANGAN (BENDALI) DALAM MEMASOK KEBUTUHAN AIR TANAMAN (Studi Kasus Di Desa Semangga Jaya Kabupaten Merauke - Papua)

YOSEHI MEKIUW, Dr. Ir. Saiful Rochdyanto, M.S

2013 | Tesis | S2 Mekanisasi/Teknik Pertanian

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan waduk lapangan (bendali) dalam memasok kebutuhan air tanaman dalam bentuk neraca air, menentukan pola tanam yang tepat berdasarkan tingkat ketersediaan air pada waduk lapangan dan menentukan luasan lahan yang dapat terairi secara optimal berdasarkan tingkat ketersediaan air pada waduk lapangan. Ketersediaan air pada waduk lapangan diperoleh dengan cara; menganalisa curah hujan dan data iklim selama dua belas tahun (1999-2010). Nilai curah hujan yang digunakan adalah curah hujan tahunan dan curah hujan rerata tengah bulanan. Faktor iklim yang digunakan untuk menghitung besarnya evapotranspirasi adalah suhu maksimum dan suhu minimum, kecepatan angin, kelembapan udara dan lama penyinaran, nilai yang digunakan adalah rerata bulanan. Besarnya evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan bantuan (software cropwat for windows). Selanjutnya menghitung besarnya limpasan yang terjadi menggunakan (metode NRECA), menghitung besarnya evaporasi pada waduk lapangan dengan menggunakan (metode transfer massa) dan menghitung besarnya rembesan yang terjadi pada waduk lapangan berdasarkan sifat lolos air material dasar dan dinding waduk lapangan. Total air tersedia pada waduk lapangan setelah dikurangi dengan besarnya evaporasi dan rembesan pada waduk lapangan adalah ± 60.056,29 m3, sehingga neraca air dalam keadaan surplus maka dapat digunakan untuk kebutuhan air tanaman sesuai dengan pola tanam yang diusulkan dengan luasan lahan tertentu. Ketersediaan air pada lahan pertanian Desa Semangga Jaya diperoleh berdasarkan curah hujan efektif dan analisa probabilitas empiris Weibull. Penentuan pola tanam dan jadwal tanam ditetapkan berdasarkan analisis ketersediaan air pada waduk lapangan dan pola tanam yang sudah diterapkan petani Desa Semangga Jaya Kabupaten Merauke yaitu: Padi-Padi-Bero. Pola tanam yang diusulkan adalah: alternatif I (Padi-Padi-Palawija, MT-1 November, MT-2 Maret, MT-3 Juli), alternatif II (Padi-Padi-Palawija; MT-1 Desember, MT-2 April, MT-3 Agustus) dan alternatif III (Padi-Padi-Palawija; MT-1 Januari, MT-2 Mei, MT-3 September). Total kebutuhan air pada masing-masing pola tanam adalah: alternatif I (1.666,17 m3/ha), alternatif II (1.603,82 m3/ha) dan alternatif III (1.641,08 m3/ha). Penentuan luas lahan optimal untuk masing-masing alternatif pola tanam dilakukan berdasarkan kebutuhan air per hektar dengan cara coba-coba sehingga diperoleh luas lahan optimal. Total luas lahan optimal untuk masing-masing alternatif pola tanam adalah: alternatif I (94 ha/tahun), alternatif II (96 ha/tahun) dan alternatif III (94 ha/tahun). Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan air dan perhitungan luas lahan optimal maka ditetapkan alternatif pola tanam yang terbaik adalah alternatif II (Padi-Padi-Palawija; MT-1 Desember, MT-2 April, MT-3 Agustus) karena MT-1 di mulai pada bulan musim hujan sehingga dapat memanfaatkan air secara maksimal dengan luas lahan yang optimal.

The study aims to determine the capacity of field reservoir (bendali) in supplying plants with water in the form of water balance, to determine the appropriate cropping pattern based on water availability in this reservoir, and to determine the area that can be optimally irrigated based on the water supply in this reservoir. Data on water availability in reservoir was obtained by analyzing rainfall and climate data documented for twelve years (1999-2010). Rainfall values employed are those of annual and mid-monthly average rainfall. Climatic factors used to calculate the amount of evapotranspiration are the maximum and minimum temperatures, wind speed, humidity and duration of irradiation, using monthly-mean value. The amount of evapotranspiration is calculated using Cropwat for Windows. Further, the runoff rate is calculated using NRECA method, the amount of evaporated water from reservoir is calculated using mass-transfer method, seepage rate on the reservoir is calculated based on the water escape of the base materials and the walls of the reservoir. The total water available in reservoir, once evaporation and seepage rates were subtracted to it, is ± 60,056.29 m3, thus water balance is in surplus position and thereby the available water is ready to meet the crop water needs in accord with the proposed cropping pattern and certain land area. Water availability in Semangga Jaya village is determined from effective rainfall and empirical assessment of Weibull distribution. Cropping patterns and planting schedules were determined by analysis of water availability in reservoir, and the cropping pattern already implemented by the farmers of Semangga Jaya village, of Merauke Regency is: Paddy-Paddy-Fallow. The proposed cropping patterns are: the alternative I (Paddy-Paddy-Crop, CS-1 November, CS-2 March, CS-3 July), alternative II (Paddy-Paddy-Crop; CS-1 December, CS-2 April, CS- 3 August) and alternative III (Paddy-Paddy-Crop; CS-1 January, CS-2 May, CS-3 September). Total water requirements for each cropping pattern are: alternative I (1,666.17 m3/ha), alternative II (1,603.82 m3/ha) and alternative III (1,641.08 m3/ha). Optimum land area for each cropping pattern alternative is determined based on per hectare water requirement, by trial and error. Total optimal land areas for each cropping pattern alternative are as follow: alternative I (94 ha/year), alternative II (96 ha/year) and alternative III (94 ha/year). Based on the calculation of water requirements and the calculation of optimal land area, it is determined that the best cropping pattern alternative is the alternative II (Paddy-Paddy-Crop; CS-1 December, CS-2 April, CS-3 August), since CS-1 starts in rainy season, therefore the available water can be utilized for optimal land area.

Kata Kunci : Neraca Air, Waduk Lapangan, Bendali, Pola Tanam


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.