PERILAKU LENTUR KAYU SAGU LAMINASI
Lasinta Ladisa, ST., Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D
2014 | Tesis | S2 Teknik SipilKebutuhan kayu sebagai komponen struktur pada pekerjaan konstruksi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatan tersebut tidak disertai dengan meningkatnya jumlah produksi kayu, sehingga menyebabkan kesulitan dalam memperoleh kayu di pasaran. Untuk mengatasi masalah kesulitan kayu sebagai komponen struktur, maka dapat digunakan bahan dari jenis lain yang merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan limbah kayu Sagu yang terdapat di daerah Maluku khususnya pulau Ambon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisika dan mekanika kayu Sagu laminasi yang mengacu pada SNI-02, 2002 dan SNI-03,1995. Pada kayu yang berukuran struktural dilakukan untuk mengetahui kepasitas momen, kekakuan lentur dan bentuk kegagalan yang terjadi pada kayu Sagu laminasi. Pengujian sifat-sifat fisika meliputi kerapatan, kadar air dan pengujian sifat-sifat mekanika meliputi kuat lentur, kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser. Pengujian kayu yang berukuran struktural dilakukan terhadap tiga model balok glulam dengan dimensi 50 x 100 x 2000 mm, yaitu satu balok tanpa menggunakan sambungan (KSL-01), satu balok dengan menggunakan satu sambungan pada bagian tengah balok dengan bentuk V terbalik (KSL-02) dan satu balok dengan menggunakan variasi jumlah sambungan (KSL-03). Pembuatan benda uji kayu Sagu laminasi menggunakan jenis perekat Polyurethane. Sistem pembebanan dilakukan dengan cara four-point loading. Pengujian dilakukan untuk mengetahui perilaku lentur kayu Sagu laminasi agar dapat digunakan sebagai struktur lantai. Hasil analisis kerapatan kayu sagu masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kayu mutu rendah seperti kayu Sengon dengan kadar air rata-rata sebesar 12,56%. Modulus elastisitas dari sifat mekanika kayu Sagu termasuk mutu kayu E16, sedangkan pada pengujian kayu berukuran struktural termasuk mutu kayu E17 dimana kuat lentur, kuat tekan sejajar serat, kuat tarik sejajar serat masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan standar SNI tetapi untuk kuat geser masih lebih rendah. Kapasitas momen pada model balok KSL-03 sebesar 1,35 kali kapasitas momen pada model balok KSL-01. Hasil analisis kekakuan lentur yang terjadi pada model balok KSL-02 sebesar 1,2 kali kekakuan lentur pada model balok KSL-01 dan kekakuan lentur pada model balok KSL-03 sebesar 1,19 kali kekakuan lentur pada model balok KSL-01. Bentuk kegagalan yang terjadi akibat karena kerusakan geser pada serat kayu Sagu. Kemiringan garis perekat (glue-line) sambungan antar lamina tidak memberikan pengaruh yang signifikan, tetapi kerusakan sambungan secara umum diakibatkan karena terjadi geser pada serat kayu sehingga menimbulkan pengaruh pada kekuatan dan kekakuan dari glulam kayu Sagu. Berdasarkan hasil analisis dari pengujian yang telah dilakukan, maka kayu Sagu laminasi dapat digunakan sebagai komponen struktur lantai apabila kekakuan lentur dan kapasitas momen ditingkatkan dengan menggunakan dimensi yang lebih besar.
The demand of wood as a structural component in the construction works are increasing with the increase of human population. This increase is not accompanied by the increasing number of wood production, thus leading to difficulties in obtaining the wood on the market. To overcome the difficulties of wood as a structural component, it can be used on other types of materials which is a way of optimizing the waste of Sago wood located in Maluku, especially Ambon Island. This study is aimed to determine the physical properties and mechanics of laminated Sago wood which refers to SNI-02, 2002 and SNI-03, 1995. On structural sized wood is performed to determine moment capacity, bending rigidity and failures in the form of laminated Sago wood. Testing of physical properties include density, moisture content and testing of mechanical properties (flexural strength, compressive strength, tensile strength and shear strength). Testing wood sized structural performed on three models of glulam beams with dimension 50 x 100 x 2000 mm, viz the one the beam without connection (KSL-01), a single the beam by using a connection on the center of the beam to the shape of V inverted (KSL-02) and the one the beam variations connection (KSL-03). Manufacture of laminated Sago wood specimens using polyurethane adhesive types. Loading system is conducted by four-point loading. The tests are conducted to determine the flexural behavior of laminated Sago wood that can be used as a floor structure. The result shows Sago wood density analysis are still higher when compared with low quality wood such as Sengon wood with an average moisture content of 12.56%. Elasticity modulus of wood mechanical properties of Sago including wood quality of E16, while the testing of structural sized wood including wood quality of E17 where flexural strength, compressive strength parallel to the fiber, parallel fiber tensile strength was higher when compared with the SNI standard, but for shear strength was still lower. The moment capacity of the beam models KSL-03 is 1.35 times than the beam moment capacity at KSL-01 models. Results of analysis bending stiffness that occurs in the beam models KSL-02 is 1.2 times than the beam bending stiffness on KSL-01 models and the model of beam bending stiffness KSL-03 is 1.19 times than the beam bending stiffness on KSL-01 models. Form of failure that occurs due to damage to the wood fibers sliding on Sago. The slope of the adhesive (glue-line) connection between the lamina does not have a significant influence, but the damage to the joint is commonly caused due to a shift in wood fibers giving rise to the effect on the strength and stiffness of glulam Sago wood. Based on the analysis of the testing that has been done, the Laminated Sago wood can be used as a structural component of the floor when the flexural stiffness and moment capacity is increased by using a larger dimension.
Kata Kunci : laminasi, kayu sagu, kapasitas momen